Di Balik Dapur Endah N’Rhesa

0
391
endah n rhesa

Endah N’Rhesa bercerita tentang lagu, momen, romantisme

endah n rhesaEndah N’Rhesa, duo akustik bergenre folk, jazz, and blues. Dengan format minimalis keduanya menambah keragaman bunyi musik dalam negeri. Keduanya menenun bunyi-bunyi dari senar yang sederhana menjadi sebuah lagu yang memikat. Adib Hidayat, editor in chief Rolling Stone Indonesia, berujar jika Endah N’Rhesa adalah band favoritnya.

Endah mengambil peran sebagai gitaris dan vokalis. Sementara Rhesa yang yang memainkan bass. Sudah satu dekade ini keduanya membentuk format minimalis akustik.

Di luar karier bermusik mereka, Endah dan Rhesa adalah pasangan suami istri. Ini tahun keempat mereka menjalani hidup berumah tangga.

Sepanjang perjalanan karier Endah N’Rhesa sudah enam album yang mereka lahirkan. Album ketiga Nowhere to Go [2009] menerima dua penghargaan sekaligus.

20 Album Terbaik versi Majalah Rolling Stone Indonesia dan Anugerah Musik Indonesia kategori Produksi Album Alternatif Terbaik. Rasanya tak akan ada yang menampik anggapan jika Endah dan Rhesa adalah duet terbaik saat ini.

Di sela-sela Rhesa menghabiskan ayam goreng, saya menyita waktu keduanya untuk sekadar mengobrol tentang hal yang membuat penasaran.

apa yang membuat kalian lebih prefer membuat lagu berbahasa Inggris?
Sebenarnya lebih karena nyaman dan terbiasa aja sih. Karena konsep album yang kami buat juga. Dan alasan kreativitas aja.

apa itu ada kaitannya dengan indie culture atau strategi pasar?
Nggak juga, kalau [musisi] independenden bikin lagu bahasa Inggris karena hal itu nggak mungkin jika lewat label-label besar. Market Indonesia belum bisa untuk itu buat label itu.

Sementara ketika kami bikin sebuah lagu berbahasa Inggris itu bukan karena ke-indie-an kami. Hanya karena alasan kreativitas. Seandainya dulu kami masuk, katakan, major label, kami akan tetap pakai bahasa Inggris. Karena kami nyaman.

tapi pernah menaruh demo di major label?
Untuk Endah N’Rhesa sepertinya nggak. Karena kami tahu ini mau dibawa ke mana. Dari dulu spiritnya memang ingin mandiri.

di momen seperti apa inspirasi membuat lagu itu muncul?
Kami itu tipikal songwriter yang perproyek. Misalnya sudah tahu konsep ide lagunya seperti apa, kami akan mencari inspirasi yang berkaitan dengan proyek itu. Contohnya kaya album ketiga kami Escape, ‘kan konsepnya teknologi dan space. Ya udah kita cari referensi ke arah sana misal nonton film atau piknik.

Bikin lagu secara random sih sering, cuma kadang jadinya disimpan. Nggak dieksekusi lebih lanjut lagi.

bagaimana memisahkan waktu kerja dan quality time antara kalian berdua?
Waktu kita 70 persen buat musik dan 30 persen lagi buat yang lain-lain. Kalau sehari-hari gini, misalnya nanti pulang sambil nyetir kami ngobrolin seputar musik. Kami nggak memisahkan keduanya secara ril. Mengalir saja. Sampai kalau berantem pun pasti karena musik juga. Endah yang salah chord atau gue mungkin.

jadi kalian memang dipersatukan oleh musik?
Ya, kami ketemu ‘kan karena dulu ngeband bareng-bareng.

lagu kalian itu yang romantis banget, perform-nya juga. tapi sebenarnya siapa di antara kalian yang paling romantis?
Enggaaaaaaakkk ada. Seriously. Kami itu bukan tipikal yang candelight dinner, malah kebalikannya. Kami berdua itu cuek. Karena romantis itu bukan personality kami. Kalau di album atau perform terlihat seperti itu maka musik yang mengeluarkan sisi romantis kami. Kalau sehari-hari mah biasa aja. Seriuuuuuussss.

Tiba-tiba Rhesa memberi balik pertanyaan kepada saya yang heran mendengar jawaban dari pertanyaan terakhir itu.

menurut kamu, di segi mana keromantisan kami?
Buat saya, perform kalian di Traxx Terakustik di Senayan tahun lalu kalian romantis sekali. Membuat banyak pasangan iri setengah mati. Berpandangan dan mengelus kening di atas, tanpa malu-malu dilihat orang banyak.

Menurut kalian gimana G-Viewers? « [teks dan  foto @HaabibOnta]

SHARE