Erik Meijer: Cerita Keluarga dan Traveling

0
1353
Erik Meijer
Erik Meijer

Erik Meijer berkisah tentang wisata dan keluarga

Erik MeijerPada April tahun lalu, Erik Meijer dipercaya menduduki posisi Executive Vice President Marketing and Sales Garuda Indonesia. Ia sering bepergian dari satu daerah ke daerah lain.

Dari sekian banyak destinasi lokal yang dikunjungi, ia menyebut Pulau Dewata sebagai objek wisata favorit. “Karena memang objek wisatanya banyak dan memang infrakstruktur untuk wisatanya baik,” ujar pria asal Belanda yang juga suami aktris Maudy Koesnaedi ini.

Di suatu kesempatan, di kantornya yang sejuk, di kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Erik bersedia berbagi cerita tentang traveling dan keluarga kepada Editor in Chief @hagihagoromo. Berikut petikannya:

Anda sering bepergian ke destinasi-destinasi dalam negeri. daerah mana yang paling menarik?
Susah untuk dibilang yang lebih menarik karena masing-masing wilayah memang punya daya tarik sendiri-sendiri.

Secara pribadi ya kembali ke selera. Suka gunung, suka laut, atau suka apa. Tentunya yang selalu disebut nomor satu oleh siapapun adalah Bali ya. Karena memang objek wisatanya banyak dan memang infrakstruktur untuk wisatanya baik.

Jogjakarta juga masyarakatnya sangat baik juga, historinya banyak. Ada beberapa objek wisata tingkat dunnia yang bisa kita lihat di sana. Namun ada banyak hal lain, contohnya saya pernah terbang ke Labuan Bajo. Saya lihat ke sana daerah yang belum terlalu dieksplorasi tetapi luar biasa indahnya.

Kalaupun kita nggak suka lihat komodo, wilayahnya juga sangat-sangat bagus. Saya juga selalu senang kalau misalnya ke Manado. Manado itu agak berbeda, karena kita suka laut, suka diving. Tapi kotanya itu kota yang seru. Selalu hidup 24 jam, keliatannya. Masyarakatnya juga sangat terbuka dan ya alamnya juga indah. Jadi banyak sekali diversifikasi tempat.

kalau yang lebih ke timur lagi ke mana? maluku, papua?
Saya ke Ambon juga sangat senang. Karena pasir putihnya memang putih sekali. Sayang saya belum sempat ke Ternate, misalnya. Karena itu satu hal yang saya ingin juga, tapi banyak kerjaan ya. Garuda Indonesia juga baru buka rute ke Merauke, jadi saya juga ingin coba ke sana.

di sela-sela waktu luang, Anda juga rajin meng-update foto-foto di Facebook atau Instagram. apa yang jadi perhatian Anda pertama kali waktu mendarat? apa pertimbangan Anda mengunggahnya ke sosial media?
Tergantung. Satu bisa untuk promosi. Kalau promosi ya pasti pesawat Garuda-nya yang dinaikin. Tapi juga untuk saya sendiri dengan teman-teman suka ngeliat alam. Hal-hal yang unik ‘gitu.

apa yang biasanya Anda cari kalau ke sana di luar pekerjaan? 
Biasanya saya cari pemandangan yang indah. Yah mengagumi hasil karya Sang Pencipta. Jadi itu luar biasa keindahannya.

apa hobi Anda?
Ya hobi utama saya kerja. Jadi memang agak-agak workaholic, mungkin. Ya ini kantor juga di bandara, jadi menghabiskan waktu di mobil menarik juga. Jadi memang kehidupan paling tidak Senin sampai Jumat diisi penuh dengan bekerja. Hobi lain saya senang dengerin musik. Senang nonton televisi, kalau sempat.

Erik Meijer

karena sudah senin sampai jumat banyak waktu terserap untuk pekerjaan, kira-kira kalau olahraga ‘gimana?
Kurang, kurang banyak, udah mulai buncit nih [tertawa]. Makanya dari tadi di syuting saya nahan perut [tertawa lagi]. Keliatan stres di muka ya, ini karena nahan perut nih [tertawa makin lebar].

anak Anda sekarang usianya sudah hampir 7 ya?
Sudah, kelas 2 SD sekarang.

‘gimana pendapat dia tentang pekerjaan ayahnya yang terkadang mengharuskan pergi jauh gitu?
Ya, untungnya hampir semua anak, terutama anak laki-laki, katanya memang senang pesawat ya. Jadi dia sebelum saya terkait dengan Garuda pun udah senang dia koleksi pesawat kecil. Kalau gambar pun sama dia juga pasti pesawat sampai sekarang. Jadi dia pasti senang ya ayahnya kerja di perusahaan pesawat.

Dia juga memang dari bayi sampai sekarang senang naik pesawat. Nah untung juga nggak takut ya, dia memang senang. Jadi ya dia senang juga dengan itu. Yang penting ada waktulah. Dia udah tahu lah Sabtu sama Minggu itu waktu saya sama dia. Karena biasanya saya pulang dia udah tidur. Pagi ketemu sebelum berangkat, kebetulan pagi dia juga mau berangkat sekolah jadi masih ketemu. Ya Sabtu Minggu lah saya bisa banyak waktu sama dia.

atau selama kerja, kalau misalnya sudah di rumah, ketika dia membutuhkan kontak atau komunikasi ‘gitu, dia akan telepon atau ‘gimana?
Jarang sekali sih.

lalu komunikasinya ‘gimana pak?
Ya nunggu pulang. Tapi kalau urgent ya langsung telepon.

kalau tadi tentang anak, sekarang tentang istri [Maudy Koesnaedy]. istri juga aktif punya profesi sendiri. bagaimana cara membagi waktu untuk punya momen kebersamaan?
Ya sama, kami selalu berusaha untuk Sabtu Minggu tidak terlalu banyak kerja. Bukan berarti nggak mungkin ya, saya juga sering dipanggil ke kantor Sabtu-Minggu atau masih di perjalanan. Dia juga ada pekerjaan jadi MC atau syuting atau apa di Sabtu-Minggu. Jadi prinsip bahwa kami selalu berusaha Sabtu-Minggu menghabiskan waktu bersama. Dan so far keliatannya kami oke.

yang paling banyak dilakukan saat sabtu-minggu apa? jalan-jalan atau mungkin shopping?
Tergantung hari ya. Jalan-jalan bisa, nonton film bareng juga bisa, kunjungin keluarga yang lain sering, makan bareng pasti. Tapi contohnya kayak kemarin kami di rumah aja, anak saya lagi senang, istilah dia masak ‘gitu ya. Jadi dia kemarin bikin sandwich untuk kami sekeluarga.

Dia masuk ke dapur, dia ngerakit sendiri sandwich-nya dengan bahan yang dia suka. Ternyata enak-enak juga. Memang yah gampang bahagia sih. Dari hal-hal kecil bisa membuat kita bahagia.

Erik Meijer

untuk menangkal kenakalan remaja, apa yang kira-kira Anda tanamkan ke anak untuk bisa menjaga nilai-nilai keluarga?
Yang pertama, menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya dengan dia. Dia akan lihat contoh dari orangtuanya. Selama itu contoh yang baik, kita harapkan itu tertanam juga ke dia.

Yang kedua, pemilihan sekolah yang tepat. Tidak harus sekolah yang mahal atau yang internasional, tapi sekolah yang sesuai dengan prinsip kita. Berikutnya tentunya menjaga pergaulannya, menjaga juga kegiatannya. Salah satu hal yang cukup memprihatinkan saat ini anak-anak umur 2-3 tahun saja sudah biasa memegang ‘gini-ginian [menunjuk ke tablet] dan itu megangnya bisa 24 jam sehari ya. Ini juga nggak benar.

ya, kadang orangtua asal anaknya anteng!
Iya, jadi ini kita batasi juga supaya nggak terlalu banyak. Jangan sampai lupa hal-hal yang lebih human interaction ya. Selain kita ikutkan dia dalam kegiatan olahraga, seperti sepakbola untuk melancarkan team spirit-nya. Kebetulan ‘kan dia anak tunggal, nggak punya adik atau kakak. Jadi memang dia jadi raja di rumah. Dia harus punya banyak teman supaya dia tahu bermasyarakat. Tahulah ‘gimana kerja tim. Ya fokusnya ke arah sana.

kalau boleh dilihat ‘kan, Anda dan istri  datang dari latar belakang berbeda. apakah ada pergesekan ketika mengajarkan nilai-nilai ke anak?
Nggak sih, kebetulan saya latar belakangnya Belanda, istri Indonesia. Kadang-kadang begitu ngomongnya saya terlalu Jawa, istri saya terlalu Barat. Kebetulan ketemu di tengah, saya rasa udah tepat dan kami berdua memberikan [pendidikan] agama, prinsip, norma semuanya yang sama. Jadi selama ini nggak ada masalah. Aman tuh. Saya juga bingung.

apa concern Anda terhadap pendidikan anak? bagaimana cara Anda dan istri mengarahkan ketertarikan dia?
Masih pindah-pindah sih. Saat ini kalau ditanya mau jadi apa, dia mau jadi pemain sepakbola profesional. Sebelumnya mau jadi pilot. Sebelumnya mau jadi tukang potong rambut. Dia memang banyak interest-nya. Jadi saya rasa itu bagus, kami stimulasi semua aja. Toh kami tahu keputusan akhir itu biasanya di usia yang jauh lebih besar.

Jadi biar aja dia eksplorasi, dia banyak senangnya. Ya nanti saja kita lihat pada akhirnya bakal ‘gimana. Saya tidak percaya bahwa kita harus memaksakan anak ke jalur tertentu. Tentunya kita bisa ngiring-ngiring sedikit, misalnya dia mau jadi sales tapi kita belum membiarkan jadi akuntan atau apa, ‘kan nggak nyambung ya.

jurnalis misalnya?
Nanti belajar dari Oom Hagi ‘gitu ya [tertawa].

‘gimana pendapat Anda tentang passion
Menurut saya sih jangan terlalu difokuskan dari awal ya. Dunia ini luas, opportunity-nya banyak sekali. Saya lebih senang dia agak luas dulu baru nanti di umur 14 baru mulai mengerucut sedikit lebih fokus.

Karena kita juga, ya saya waktu umur 3 tahun saja belum kebayang suatu saat akan kerja di perusahaan penerbangan seperti Garuda Indonesia. Kalau saya terlalu fokus, mungkin nggak kejadian dan ternyata ini suatu hal yang menarik juga. Jadi saya rasa agak luas aja, makanya dia belajar bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Menguasai dua bahasa dengan lancar. Jadi dia bisa ke mana-mana dari segi komunikasi. Habis itu tinggal ya beberapa ilmu didalami. Tapi kembali lagi, jangan terlalu fokus dulu.

kembali soal pekerjaan, apa yang harus dilakukan masyarakat dengan Garuda Indonesia?
Ya pertama ini perusahaan publik juga. Jadi walaupun pemegang saham utamanya itu pemerintah, ada juga pemegang saham publik. Jadi ini perusahaan milik bersama lah. Yang saya selalu tekankan adalah sebaiknya Warga Negara Indonesia menggunakan produk dalam negeri. Itu berlaku untuk semua hal termasuk juga penerbangan.

Jadi kalau ada pilihan, saya selalu bingung sering lihat orang Indonesia dari Jakarta ke Singapura naiknya bukan Garuda Indonesia. Padahal, kami terbang sudah belasan kali tiap hari, pesawatnya juga keren, pelayanannya nggak kalah juga dengan yang lain, bahkan lebih baik, kok masih mau naik yang bukan Indonesia?

Saya rasa itu mindset juga. Karena sekarang orang Indonesia lebih gaya naik yang luar negeri, produk luar negeri. Padahal menurut saya sebaliknya. Saya juga menggunakan batik. Ini gaya buat saya bangga ya dengan budaya Indonesia dengan hasil karya anak bangsa. Jadi ini saya rasa ini suatu, mungkin aneh ya yang ngomong orang luar negeri.

Justru saya dari luar, orang negara lain banyak yang nasionalisnya lebih tinggi dalam hal konsumsinya. Di negara saya sayangnya masih banyak yang pakai airlines setempat. Jadi kalau sudah datang, kita harus ekstra effort untuk jualan. Di sini kadang-kadang kita liat sebaliknya. Nah ini suatu yang bisa menjadi pesan. « [foto @gregbimz]

SHARE