Sejarah di Mata Lukman Sardi

0
185

Keterikatan Lukman Sardi dengan sejarah

Lukman Sardi 2Perannya sebagai Ahmad Dahlan dalam film Sang Pencerah berhasil mendapatkan banyak komentar positif. Begitu juga ketika ia berperan sebagai Bung Hatta dalam film Soekarno: Indonesia Merdeka.

Jam terbang yang tidak sedikit membuatnya terlihat mudah saja memerankan tokoh-tokoh yang pernah hidup dan meninggalkan segudang cerita yang menginspirasi banyak orang. Pria ini bernama Lukman Sardi. Dikenal sebagai salah satu aktor terbaik Indonesia.

Di film terbarunya, Negeri Tanpa Telinga, ia juga sukses memerankan sosok nyata namun disajikan dalam bentuk cerita satire drama.

Ia berperan sebagai Etawa, seorang ketua sebuah partai yang terlibat skandal wanita dan juga korupsi. Saat menyaksikan aktingnya, Anda pastinya bisa menebak-nebak siapakah sosok asli yang tengah diperankannya itu.

Ia terlihat begitu lihai memerankan tokoh yang berhubungan dengan latar belakang sejarah. Meski tak pernah gagal memerankan tokoh lainnya. Tapi ternyata ada alasan tersendiri mengapa putra mendiang Idris Sardi ini begitu menikmati peran-peran yang berbau historikal.

Gue tu latarnya suka sejarah dari jaman sekolah. Sejarah itu salah satu pelajaran favorit gue, jadi kalau akhirnya main film sejarah ya karena gue suka. Karena acuannya di situ. Apa yang gue lakukan harus yang gue nikmatin, yang gue suka,” ujarnya saat ditemui di Djakarta Theatre, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kesukaannya pada sejarah ternyata bukan sekadar kata-kata. Karena jika bicara lebih lanjut tentang sejarah bersamanya, maka Lukman Sardi akan membuat Anda terpana. Ia begitu memaknai sejarah Indonesia, salah satunya sebagai titik balik mengevaluasi diri sendiri, serta mengevaluasi semua hal yang terjadi di sekitar kita.

”Buat gue sejarah itu penting, bagaimana kita bisa mengevaluasi perkembangan itu sendiri, bukan hanya global atau dunia, tapi sejarah kita sendiri. Apa sih yang udah kita lewatin. Sedangkan dalam segi nasionalisme, sejarah membuat kita jadi lebih menghargai apa yang sudah diperbuat founding father kita, pahlawan kita, jadi kita nggak semena-mena dengan apa yang udah mereka perbuat,” ungkap pria berusia 43 tahun ini.

Untuk itu juga, akhirnya Lukman Sardi memberanikan diri untuk menjadi sutradara sebuah film bernafaskan histori Indonesia. Meski menitik beratkan kisah dramanya, namun di film pertama garapan Lukman ini tetap memiliki latar belakang politik dan juga sejarah Indonesia yang terjadi di tahun 1998.

”Kebetulan ada teman yang nawarin dan ceritanya aku suka. Dari dulu pengin bikin film kayak gitu. Karena orang-orangnya masih hidup, dinilai takutnya sensitif. Tapi ternyata ada yang bikin dan ngajakin. Dia tanya gue berani nggak. Buat gue ini film pertama dengan skup besar, menggunakan ekstras banyak, syuting di [gedung] DPR/MPR, besar lah. Karena itu challenge ini gue terima,” katanya.

Film yang masih belum dipublikasikan judulnya ini sudah memasuki tahap akhir. Jika berjalan sesuai rencana, akan mulai tayang di akhir tahun 2014 ini. Lukman berusaha untuk menciptakan film ini sesuai dengan apa yang ada di bayangannya. Dan semua kesulitan yang ia hadapi sebagai sutradara pemula, berusaha ia selesaikan satu per satu.

”Banyak yang harus dikerjain. Misalkan saja sutradara harus berpikir gimana caranya mengakali. Meski pakai Computer Generated Imaginary [CGI] harus dibuat sesuai dengan masanya. Misalkan kita nggak boleh syuting di istana itu harus dibuat seperti asli, atau mengatur setting lokasi yang sudah berubah. Contohnya gerbang gedung DPR/MPR kan sudah beda. Detil seperti itu memang perlu diperhatikan,” ujarnya.

Bukan hanya perkara teknis yang menjadi perhatian Lukman. Begitu pun dalam pemilihan pemain. Karena film ini akan melibatkan gambaran peristiwa penurunan Presiden Soeharto, Lukman membutuhkan sosok yang tepat memerankan mendiang mantan presiden kedua Indonesia itu. Ia memilih Amoroso Katamsi untuk peran yang satu itu.

”Kalau tokoh Pak Harto, saya langsung pilih Pak Amoroso Katamsi. Beliau yang memerankan tokoh Pak Harto di film G30S/PKI. Beliau paling mirip, dan usianya tepat pada saat itu. Beliau juga sudah mengenal betul Pak Harto, dan sempat ketemu untuk lebih mengenal sosok Pak Harto,” ungkap Lukman. Sedang untuk tokoh lainnya, telah dipilih melalui proses casting di bawah keputusan Lukman Sardi.

Menurut kabar burung yang beredar, film tersebut akan diberi judul Di Balik Pintu Istana. Namun Lukman belum mau membocorkannya. Lukman tak ingin judul filmnya itu menjadi tendensius untuk beberapa pihak. Sehingga Lukman dan tim masih berusaha mencari alternatif nama yang lebih netral.

Lukman mengatakan dirinya banyak belajar dari banyak sutradara. Lebih lanjut lagi, Lukman menyebutkan tak membuang kesempatan yang ada di lokasi syuting. ”Kebetulan aku punya hobi ngamatin, kadang duduk di belakang monitor. Lihat sutradara mengarahkan, lihat kerjanya DOP, terus cari tahu lensa seperti apa, kegunaannya, jenisnya, banyak,” kata pria yang mengawali karirnya di tahun 1978 itu.

Dari sekian banyak sutradara yang pernah kerja sama dengannya, nama Hanung Bramantyo, Riri Riza, dan Nia Dinata adalah beberapa nama yang disebutkan Lukman sebagai tempatnya berguru. Lalu seperti apa film pertama hasil garapan Lukman Sardi? Apakah akan semulus akting-aktingnya selama ini? Sayangnya kita harus bersabar sampai film tersebut resmi ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia. « [teks @nandiyanti | foto @bagusdimsum]

SHARE