Sports That Could Kill

0
122

Apa olahraga favorit Anda?

Belakangan ini, saya sedang dilanda demam SKJ. Senam Kesegaran Jasmani? Oh, bukan. Yang ini Sports Kegesitan Jempol. Haaaa?

Yeah, beberapa waktu lalu saya sedang kehujanan keharusan untuk ikut kepanitiaan di reuni sekolah saya. Bukan cuma satu, tapi tiga! SD, SMP, dan SMA. Ah ya. Dan karena perlu koordinasi yang serba cepat dan instan, jadilah perangkat komunikasi saya dipenuhi lalu lintas pembicaraan dari sana-sini.

thumb2Ada satu grup yang unik. Dan ahem, ini juga karena kebetulan saya yang didapuk jadi admin-nya. Belum seminggu, grup chat ini sudah dipenuhi anggota. Full house! Dan karena berisi teman-teman yang sudah lama tidak bertemu muka, tentu saja ini jadi ajang cerita-cerita yang intens.

Karena tidak berlatar belakang kehidupan kekinian yang sama, dan ada juga yang tinggal di luar negeri, jadilah wadah itu penuh dengan pembicaraan. Topiknya amat random. Obrolan bisa berlangsung selama 24 jam penuh. Dan –ini dia– satu hari, chat di grup ini bisa menyentuh angka seribu pesan! Jadi, jika sehari hari tak diintip, angkanya bisa segera melipat. Dua hari 2 ribu dan tiga hari bisa jadi 3 ribu.

Tentu saja, buat sebagian orang, terutama yang menggantungkan aktivitas pekerjaannya dengan perangkat smartphone, kondisi ini mulai mengganggu. Bukan hanya karena diserang badai notifikasi, tapi juga karena batere jadi cepat habis dan gawai menjadi mudah panas. Beberapa yang tidak tahan, terpaksa undur diri. Meski kami semua percaya, bukan dia tidak ingin terlibat dalam percakapan yang penuh canda, melainkan hanya karena keterbatasan perangkat.

Lalu tibalah peristiwa itu. Sesuatu menimpa smartphone saya. Mulanya ketika mendadak gawai saya tak bisa menangkap sinyal seluler dan paket data. Saya segera mengontak layanan pelanggan dari provider penyedia layanan jasa seluler yang saya gunakan. Mereka lalu menyarankan untuk mengganti SIM card. Beruntung, lokasi service center tak jauh dari kantor saya. Tapi kejadian kedua mulai membayang di depan mata. Saat saya mengganti kartu pada smartphone, ternyata device saya mogok. Ia tak bisa booting. Otomatis saya jadi tak bisa menggunakan hape itu. Ini tentu saja bak kiamat.

Konon kabar, setiap orang, terutama kaum urban yang sehari-hari bergelut dengan aktivitas perkantoran, punya sedikitnya satu –atau lebih– perangkat telekomunikasi. Kadang malah ada yang punya lebih dari tiga device. Mobilitas membuat mereka ‘terpaksa’ siap sedia cadangan tenaga untuk pengisian daya gadget-gadget tersebut. Tak berlebihan jika saya bilang, hampir rata-rata kaum urban, membawa batere dalam tas mereka. Daripada kehabisan daya dan akses komunikasi terhambat? Nanti kalo nggak bisa update status atau nge-share lokasi hang out atau membagikan foto makanan yang hendak disantap, ‘gimana?

Tak terasa, ketika saya menulis ini, adalah hari ketiga sejak saya jadi ‘bisu’ akibat perangkat saya mati suri. Ada hening di sekitar kepala. Saya tak lagi ‘diganggu’ oleh telepon-telepon masuk, tak ada broadcast message yang memuakkan, tak ada buzz dan ping yang membuat saya kaget. Rasanya cukup damai. Yeah, walaupun saya tahu, ada beberapa pelanggan yang tak bisa saya layani. Ada bos yang kesulitan mengontak saya. Ada anak buah yang tak bisa mendapat jawaban atas pekerjaan yang harus saya putuskan. Tapi, pssst, itu sangat menyejukkan. Damai.

Tapi oh, oh, pagi tadi, perangkat saya selesai diservis. Walau ada sebagian data yang hilang, karena harus di-swipe, tapi mostly kehidupan saya kembali ke normal lagi. Hari ini saya harus siap-siap berolahraga lagi. Yuk, pemanasan jempol dulu. «

Salaam,
@hagihagoromo

SHARE