Ma, Pa, Aku Jatuh Cinta!

0
227

Cara menyikapi anak yang mulai jatuh cinta

kids fall in love

Anda paham, bahwa suatu saat, sang buah hati akan tumbuh besar. Namun ketika saat itu tiba, ada sebuah kekosongan besar dalam hati Anda. Ia mulai banyak beraktifitas dengan kawan sebaya, melawan beberapa nasihat dan pendapat Anda, serta barangkali…jatuh cinta.

Sebenarnya, Anda mengerti bahwa ketertarikan terhadap lawan jenis merupakan hal yang wajar. Hanya saja, banyak orangtua yang masih menganggap anak-anak mereka belum pantas untuk jatuh cinta. Kebanyakan  juga takut bahwa perasaan tersebut akan mengganggu kehidupan buah hati, dan juga membuat mereka dewasa sebelum waktunya.

Padahal, menurut Diane Bloomfield, MD, seorang dokter anak di Children’s Hospital, Montefiore, New York, pada dasarnya anak-anak mulai tertarik pada lawan jenis pada usia 10-11 tahun, Jadi, apabila buah hati Anda mulai memikirkan atau curi-curi pandang kepada lawan jenis, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar.

Namun memang bagi orangtua, anak-anak tak pernah menjadi dewasa. Mereka selalu menjadi daddy’s little daughter, atau mommy’s son.

Tetapi, dulu pun Anda pernah jatuh cinta bukan? Maka, Anda mungkin harus maklum terhadap apa yang kini terjadi pada anak-anak Anda. Dan ada beberapa hal, yang sebaiknya Anda lakukan untuk mengarahkan anak Anda. Agar perasaan tersebut menjadi hal positif dalam hidupnya.

1Kenali polanya
Dari mana Anda tahu bahwa ia tengah jatuh cinta? Ia mengaku terang-terangan? Banyak bercerita tentang seorang kawan dengan malu-malu? Atau malah, Anda memergoki buku harian/ponsel/jejaring sosialnya. Kenali terlebih dahulu bagaimana cara ia jatuh cinta. Terbuka, ataukah diam-diam?

Bila ia secara jelas menyebutkan bahwa ia tengah suka dengan seorang teman, hindari diri Anda dari rasa gusar, atau memberikan nasihat retoris panjang lebar terhadap sang buah hati. Pasalnya, orang dewasa pun tak akan bisa dinasehati bila sedang jatuh cinta.

Justru larangan semacam, “Apa sih kamu, sekolah dulu jangan pacaran!” atau, “Kamu ‘kan masih kecil, Nak!” akan membuatnya menjadi kesal dan tertutup kepada Anda. Kalau buah hati sudah menutup akses masuk Anda kepada kehidupan pribadinya, Anda sendiri yang nanti akan susah.

Sebaiknya, Anda ajak anak berdiskusi. Tanyakan hal yang membuat ia suka kepada kawan tersebut. Anda mungkin juga bisa menambahkan cerita ketika Anda dulu jatuh cinta, agar anak merasa nyaman bercerita kepada Anda.

Bagaimana bila ia tertutup soal ini? Tentunya Anda jangan bilang terang-terangan bahwa Anda tahu soal perasaannya. Untuk memulainya, Anda bisa berpura-pura tidak tahu tentang hal tersebut, dan memancingnya dengan cerita-cerita semacam, “Mama/Papa kemarin lihat teman kamu yang namanya ini, dia cantik/tampan ya?” Biasanya, pancingan seperti ini dapat membuatnya mau membuka rahasianya dengan Anda.

2Beri pengertian
Pada era modern ini, informasi begitu mudah diakses siapa saja. Termasuk oleh buah hati Anda. Maka, tak mengherankan apabila gaya berpacaran anak muda pada jaman sekarang cenderung lebih “bebas” ketimbang pada zaman kita.

Nah, untuk hal ini, Anda harus waspada. Untuk itu, berikan pengertian tentang hal apa yang boleh atau tidak boleh anak Anda lakukan. Misalnya, memberi batasan antara apa yang wajar dan tidak boleh dilakukan kepada teman yang disukai.

Perkenalkan juga anak-anak kepada pendidikan seks, sehingga, anak-anak tidak mudah terjerumus dalam hal yang menyesatkan lantaran kekurangtahuan mereka. Atau malah, tahu terlebih dahulu dari internet atau dari kawan sebayanya.

3Arahkan pada hal positif
Nah, kali ini, kemampuan “kepo” Anda cukup diperlukan. Anda harus tahu betul siapa anak yang sedang ditaksir oleh sang buah hati. Apakah kegiatannya positif? Apakah anaknya baik? Anda bisa mencari tahu lewat sekolahan, atau mengorek informasi dari anak Anda sendiri.

Kalau Anda sudah tahu, cari sisi positif dari anak tersebut. Mungkin dia pintar, berbakat, rajin belajar, rajin les, atau mungkin rutin beribadah. Anda bisa memotivasi anak Anda untuk bisa menjadi seperti dia. Biasanya, orang yang sedang jatuh cinta akan sangat mudah dimotivasi.

4Biarkan berproses
Anda sering mendengar cerita tentang cinta yang tak direstui orangtua? Apa biasanya yang dilakukan oleh sepasang kekasih dalam cerita tersebut? Kabur, bahkan rela melawan orangtua. Pada dasarnya, manusia memang memiliki sifat pemberontak. Anak-anak, apalagi. Mereka punya sebongkah keingintahuan yang harus dipuaskan.

Jadi, kalau buah hati Anda jatuh cinta kepada seorang anak yang membawa pengaruh negatif, sebaiknya Anda jangan langsung melarangnya. Hal ini justru akan membuatnya mati-matian membela kawannya tersebut.

Anda bisa memberikannya pengertian, pencerahan mengenai masa depan, dan juga gambaran tentang orang-orang yang sukses. Jadi, pikiran anak Anda mungkin bisa teralihkan. Sedikit demi sedikit.

Anda juga bisa mengajaknya melakukan kegiatan yang menyenangkan. Seperti les renang atau membuat kue misalnya, atau hal-hal positif lain yang menyenangkan bagi anak Anda. Lama-lama, anak Anda pun bisa melupakan kawannya tersebut, seiring berjalannya waktu. Hal ini juga bisa dilakukan, apabila anak Anda patah hati, lho!

Nah, mommy dan daddy, jangan takut ya bila anak Anda mulai jatuh cinta. Hal tersebut adalah sesuatu yang wajar kok! « [teks @intankirana | foto video klip Taylor Swift]

SHARE