Pesimisme Tolstoy, The Birthday Boy

0
419

Karya-karya Tolstoy berkisah tentang ketidakbahagiaan

leo-tolstoyBetapa menariknya Google Doodle pada Selasa, tanggal sembilan bulan sembilan tahun 2014. Tak sekadar sebuah gambar berwarna, tetapi semacam slide show yang menampilkan beberapa karya yang langsung merujuk pada satu legenda sastra: Leo Tolstoy. Yang pada hari tersebut berusia 186 tahun [jika ia masih hidup].

Namanya besar tak hanya di Rusia, tetapi juga seluruh dunia. Sebutlah Anna Karenina, novel realis yang menggambarkan kehidupan sosialita abad ke-19 atau War and Peace yang ditulis dengan pergolakan batin di masa perang.

Tema ceritanya beragam, seperti kehidupannya yang semacam kolase. Lahir di tengah keluarga kaya yang memiliki tanah luas di Tula, keluar dari Universitas Razan lantaran bosan, ikut berperang di Kaukasus, melihat kematian, menyetubuhi gadis-gadis petani, menikahi perempuan setia yang lebih muda enam belas tahun, mengalami kebimbangan dalam hal spiritual, hingga mati di stasiun kereta. Sebuah kehidupan yang cukup berwarna, dan tragis.

Aneh, mengingat dengan kekayaan, kecerdasan, dan tubuh yang gagah, seharusnya mudah saja baginya untuk hidup berbahagia. Namun memang benar kata pepatah: semakin banyak kita paham tentang hidup, semakin kita sadar bahwa banyak hal yang meresahkan.

Pernah melihat berbagai penderitaan dan kematian dalam perang, sempat bergaul dengan kaum papa dan gelandangan saat miskin akibat judi kartu, membuat pandangan Tolstoy tentang hidup menjadi penuh cabang. Lebih kompleks dari kisah sosialita terkenal Anna Karenina, yang ditulis olehnya.

L.N.TolstoyPesimisme dan kelas sosial
Mungkin bila Tolstoy berasal dari kalangan kelas bawah, hal ini tak mengherankan. Namun seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ia berasal dari keluarga berada. Ketidakpuasan dalam hidup, dan rasa kasihan membuatnya senantiasa mengkritik keberadaan kelas sosial dalam karya-karyanya.

Sebutlah War and Peace. Novel yang konon ditulis selama empat belas tahun ini bercerita tentang segala hal. Semua kelas sosial disentuh dalam novel ini. Seperti miniatur kehidupan di Rusia, mulai dari Istana Musim Dingin St. Petersburg, hingga pengurus kuda dan prajurit yang ketagihan berjudi.

Pyotr Bezhukov yang awalnya adalah anak haram, tetapi hidupnya berujung bahagia lantaran mendapatkan warisan besar. Atau Andrei, pangeran kaya yang di akhir hidupnya mengalami penderitaan. Tolstoy seperti menegasikan kemampuan kekayaan untuk mencapai kebahagiaan. Atau malah, menginginkan hal-hal tersebut terjadi pada orang kaya.

Lelaki yang terkenal akan janggut panjang ini memang murah hati dan sangat mendukung kaum papa. Beberapa waktu setelah novel-novelnya terbit, ia segera membangun pertanian dan sekolah di desa kelahirannya, Yasnaya, Polyana.

Ia membuka lapangan kerja bagi para pengangguran untuk menjadi petani, membagi hasil pertanian, dan menyuruh murid-muridnya untuk tidak membawa buku [belajar dari alam, belajar dari sekitar]. Namun layaknya sastrawan lain yang senantiasa berbicara dengan kata-kata indah, kata-kata Tolstoy meluruhkan hati beberapa gadis petani, yang akhirnya terlibat persetubuhan dengannya.

Tetapi toh pada akhirnya ia memutuskan untuk menikahi Sofia Bers, seorang gadis dengan usia enam belas tahun lebih muda. Yang memberinya tiga belas orang anak. Mengarungi rumah tangga, yang oleh para kritikus dijuluki sebagai Rumah Tangga yang Tidak Bahagia [sindiran bagi novelnya yang berjudul Rumah Tangga yang Bahagia]

Seperti Anna Karenina, dalam sketsa yang berbeda. Namun baik Tolstoy maupun Anna, keduanya sama-sama terjebak dalam pernikahan yang tak bahagia. Barangkali Anna Karenina dibuat dengan tujuan menyindir kehidupan sosialita Rusia abad ke-19, yang gemar berbasa-basi tak jelas arahnya, munafik, dan menikah tanpa cinta.

Tokoh Anna, menjadi heroin yang mendobrak kemunafikan tersebut: ia cantik, kaya, gemar bergaul dalam pesta, menikah karena kelas, tetapi lantang bersuara bahwa ia mencintai pria lain, dan bukannya Karerin, suami yang tak pernah ia cintai. Namun dalam beberapa hal, Anna agaknya mirip dengan Tolstoy.

Pernikahan, walaupun sempurna, tak selalu membawa kebahagiaan. Anna merasa bosan dan hampa tanpa cinta, Tolstoy merasa kosong lantaran kesempurnaan. Kesempurnaan tersebut membuatnya kembali mencari, apa yang kemudian akan ia pertanyakan?

anna kareninaSpiritualisme dan akhir hidup tragis.
Tolstoy merupakan seorang Kristen yang taat. Dari Kristen, ia mengagumi satu hal: Khotbah di Bukit. Khotbah dari Yesus Kristus mengenai sedekah, tolong menolong, tentang dunia yang fana, dan menjadi garam yang berguna dalam hidup.

Keyakinan itu membuatnya menjadi orang dermawan yang senantiasa berpihak pada rakyat miskin. Ia bahkan pernah membuat istrinya marah lantaran hampir menghabiskan uang dalam perjalanan, hanya karena ingin bersedekah pada seorang gelandangan.

Beberapa buku yang menyakini Kristus pun pernah ia tulis, antara lain Kerajaan Allah Ada di Dalam Dirimu, Apa yang Kupercayai, dan Berapa Tanah yang Dibutuhkan Manusia.

Namun keyakinannya yang taat ini, malah membuatnya cenderung tak menikmati kelanggengan dalam hidupnya. Membuat pesimismenya kian besar. Pada usia yang cukup senja [60 tahun], pergolakan batinnya mencapai puncak.

Ia mengatakan sebuah hal yang membuat istrinya menganggapnya gila:

“Aku ingin berada di penjara. Di dalam tempat yang kumuh, kotor, dan penuh dengan kelaparan, di sanalah akan kutemukan hari tua yang penuh kebahagian sejati.”

Ia ingin merasakan kesusahan orang-orang dalam penjara, yang ia yakni berbuat salah karena keadaan. Ia ingin menjauhi kehidupan kaya raya yang penuh dengan foya-foya. Ia bahkan membuat sebuah gerakan baru: asketisisme –  gerakan di mana seseorang harus melepaskan harta, merasakan kemelaratan, dan menghindari kenikmatan dunia, lantas merangkul orang lain yang senasib. Sesuai dengan keinginannya masuk ke penjara.

Tak beberapa lama, ia berhasil kabur dari rumahnya. Dari kekayaan dan kelanggengan yang menurutnya adalah sebenar-benarnya penjara yang menyiksa. Juga dari istrinya, yang berniat untuk bunuh diri seperti Anna Karenina, apabila Tolstoy masih berkutat dengan pikiran gilanya. Dalam pelarian itulah, ia bertapa. Melihat hidup, bercengkerama dengan orang-orang yang menderita, memahami alam. Berbagi kisah bersama orang-orang pinggiran

Namun dalam perjalanan kereta menuju Stasiun Astapovo, tahun 1910, tubuhnya mulai melemah. Tak seperti pemikirannya yang makin kuat dan radikal. Namun pada detik-detik menjelang kematiannya di stasiun tersebut, ia masih sempat meracau tentang nasib orang-orang papa. Tentang bagaimana nasib petani selanjutnya?

Tentang mengapa orang-orang [keluarganya] senantiasa mengkhawatirkan dirinya, padahal ribuan orang melarat ada di jalan dan lebih merana? Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin kuat terngiang menjelang akhir hidupnya. Dan seperti cerita-cerita dalam karyanya, ia mati dengan keresahan dan pesimisme yang besar. « [teks @intankirana | foto Ist]

SHARE