Alkisah, Hiduplah Suku Masai di Tanzania

0
1170
Masai

Suku Masai hidup dengan budaya dari nenek moyang mereka

Masai Jump, Tanzania

Maasai atau lebih dikenal dengan Masai merupakan sebutan bagi suku yang masih mempertahankan pola hidup semi-nomaden di Tanzania. Suku ini juga bisa ditemui di Kenya, negara tetangga Tanzania. Mereka sering disebut penghuni Lembah Celah Besar Afrika Timur.

Suku Masai merupakan jejak-jejak masa lalu. Mereka hidup dengan pola kehidupan warisan nenek moyang yang sudah ada berabad-abad lalu. Di Museum Budaya Masai di Snake Park, Arusha, Tanzania, wisatawan dapat menyaksikan gaya hidup suku yang dikenal tangguh menghadapi kerasnya alam ‘Benua Hitam’.

Memasuki museum, replika rumah Masai menyapa para wisawatan. Jangan bayangkan rumah dengan arsitektur modern. Bangunan sederhana yang pada umumnya dibuat para wanita dari ranting-ranting pohon yang dianyam dengan rumput, lumpur, kemudian diplester kotoran sapi. Itulah istana mereka. Masai memang mengandalkan alam dalam kehidupannya.

Seluruh lekuk hidup Masai bergantung pada alam. Mereka hidup dari berburu dan berternak. Meski saat ini Masai modern sudah ada yang bersekolah dan bekerja, namun sebagian besar suku unik itu tetap mempertahankan pola bertahan hidup ala nenek moyang.

Orang Masai percaya bahwa mereka merupakan keturunan Enkai, dewa tertinggi dalam mitologi kuno. Enkai memiliki tiga orang putera yang masing-masing diberkati dengan kemampuan khusus. Putera pertama diberikan busur panah sehingga menjelma sebagai pemburu ulung. Putera kedua menerima hadiah cangkul sehingga semua keturunannya dapat mengolah segala jenis tetumbuhan yang ada di bumi. Putera ketiga dianugerahi ternak.

Masai

Orang-orang Masai meyakini putera ketiga Enkai sebagai bapak mereka. Karena itu, ternak memainkan peran penting dalam status sosial. Semakin banyak ternak yang dimiliki, maka semakin tinggi kedudukan seseorang. Untuk memperoleh ternak yang banyak, lelaki Masai harus memiliki lebih dari satu istri. Kenapa? Dengan memiliki lebih dari satu istri, maka akan lebih banyak anak-anak yang diperoleh. Anak-anak inilah yang bertugas memelihara ternak.

Karena ternak adalah segalanya bagi Masai, setiap keluarga memiliki nyanyian khusus bagi setiap hewan yang dimiliki. Mereka percaya setiap hewan memiliki jiwa dan tabiat berbeda. Sama seperti manusia. Hubungan emosional yang terjaga diyakini dapat menjaga kualitas ternak itu sendiri. Ada lagi tradisi Masai yang menyangkut ternak. Mereka biasanya menandai ternak dengan besi panas yang sudah dibentuk dengan pola tertentu.

Tradisi

Di tengah gersangnya Afrika terlebih pada musim panas, orang-orang Masai tampil bak oase. Postur tubuh mereka yang mayoritas jangkung dan kurus dibalut kain berwarna-warni atau disebut Shuka.

Warna yang umum dikenakan Masai yaitu merah dan biru. Warna merah melambangkan keberanian dan biru diyakini melahirkan kekuatan alam. Kaum wanita mempercantik diri dengan aksesori yang terbuat dari manik-manik.

Masai

Wanita merupakan penduduk nomor dua dalam lingkungan Masai. Lebih banyak tradisi yang diperuntukkan bagi kaum hawa. Anak perempuan Masai dijodohkan sejak masih bayi. Ketika belum mengetahui apapun soal dunia, mereka sudah dijodohkan dengan laki-laki yang memiliki banyak ternak.

Biasanya, sang ayah akan meminta mas kawin berupa ternak dalam jumlah yang banyak. Seringkali, anak-anak itu dijodohkan dengan pria yang jauh lebih tua dari mereka.

Saat memasuki usia dewasa, wanita Masai harus disunat. Ada tiga jenis sunat yang dilakukan dan setiap kelompok memiliki peraturan sendiri. Tipe sunat pertama dilakukan dengan memotong habis klitoris wanita. Pada tipe kedua, seluruh klitoris dan labia minora [bibir kelamin]. Sunat jenis ketiga lebih parah lagi karena memotong semua bagian klitoris, labia minora, berikut labia majora, dan dijahitnya vulva, lubang kelamin. Hanya sedikit yang tersisa, sekadar untuk aliran air seni dan mensturasi.

Proses penyunatan seringkali dilakukan dengan pengetahuan kesehatan yang minim dan peralatan yang tidak higienis sehingga menyebabkan infeksi yang tidak jarang berujung pada kematian. Saat ini, kampanye menentang penyunatan bagi wanita Masai mendapat dukungan dari berbagai pihak sehingga mulai ditinggalkan.

Sementara itu, laki-laki juga tumbuh dalam tradisi. Memasuki masa dewasa, lelaki Masai harus membuktikan keperkasaannya dengan membunuh seekor singa. Bermodalkan sebilah tombak, mereka menembus lebatnya hutan dan menantang liarnya alam.

Dari tradisi inilah timbul istilah Para Ksatria Masai. Ksatria Masai dikenal tidak pernah gentar dengan apapun, termasuk singa yang menjadi raja di belantara hutan Afrika. « [teks Dhi Widianti |  foto ilmondodiaura.altervista.org | davidlazarphoto.com | tripideas.org]

SHARE