Lebih Dekat Bersama Dekat

0
2219
dekat
dekat

Lewat Dekat, Kamga, Tata, dan Chevrina mencoba lebih jujur

dekat 1

Genggam lah kedua tanganku bantu aku tuk lahir kembali.
Topang beratku di pundamu, dengan karyaku lahir kembali, dengan karyaku lahir kembali.
Bertiga kita lahir kembali.”

Kalimat di atas, merupakan bagian lirik dari single pertama dari grup Dekat yang berjudul ”Lahir Kembali”. Pada awalnya, mereka dikenal sebagai sebuah grup bernama Tangga. Beranggotakan Kamga, Chevrina, Tata, dan Nera. Setelah 9 tahun bersama, grup yang dikenal lewat lagu ”Hebat” ini pun memutuskan untuk bubar.

Pastinya ini keputusan yang mengagetkan bagi pecinta Tangga. Banyak yang bertanya-tanya mengapa grup yang dikenal dengan lagu mellow-nya ini memutuskan untuk bubar.

Dan di saat banyaknya pertanyaan itu bermunculan, Kamga, Tata, dan Chevrina, minus Nera tiba-tiba kembali dengan sesuatu yang baru. Ketiga mantan anggota Tangga ini mengumumkan kini mereka membentuk sebuah grup bernama Dekat. Lalu kenapa mereka kembali dengan nama dan formasi baru? 

Berikut obrolan singkat Ghiboo bersama dengan Tata [T], Kamga [K], dan Chevrina [C] mengenai grup baru mereka, yang diberi nama Dekat, karena mereka merasa lebih dekat dengan karya-karya orisinil mereka.

kenapa memilih untuk membuat grup baru dengan nama Dekat?
K: Kami merasa Tangga-nya udah kayak abis. ‘Gini, Tangga itu ada pas saya umur 17. Kami ceritain hal-hal yang terjadi saat kami umur 17. Dan untuk harus nyanyi “Terbaik” dan “Hebat” di umur 27 sekarang, itu udah susah. Jadi kami mikir,  daripada bikin Tangga yang lebih dewasa dari seharusnya, kenapa nggak kita stop aja deh, kami mulai berkarier dengan nama baru.

jadi dekat adalah bentuk pendewasaan? dewasa seperti apa?
K: Sebenarnya ‘gini, dewasanya itu ada pada kita menceritakan apa yang terjadi pada kita saat ini. Harusnya, Tangga sempat bisa ngalamin masa itu, tapi tidak kesampaian karena kami juga mungkin belum siap bermusik segitu dalamnya waktu dulu.

Terus kami juga banyak bekerjasama dengan berbagai macam pihak yang cukup besar pengaruhnya di band Tangga dan itu akan punya pengaruh juga di kami. Jadi kami pikir, kami buat yang baru, tidak digawangi pihak manapun, dan kami akan bisa punya karya yang pure.

C: Dewasa itu ‘kan, kadang orang mikirnya, ‘ah udah gede, sendiri gih.’ Makanya kami kali ini mau jadi gede. Semuanya, dalam apapun. Semoga kariernya semakin besar, kami sendiri juga jadi belajar. Kami berpijak di kaki sendiri. Kalau misal sukses ya kami yang sukses bertiga dibantu teman-teman, kalau nggak sukses juga, kami nggak merugikan siapa-siapa.

dekat

dengan terbentuknya Dekat, bagaimana dengan musik yang kalian usung? apa genrenya?
T: Pop ya. Sebenarnya, ini agak membingungkan tiap ditanya genre. Kadang gue suka kayak ya udah musik nggak perlu harus digenrekan. Paling yang sudah menjadi pakem pastinya kalau ada distorsi berarti rock, kalau nggak distorsi berarti itu pop. Even R&B sekarang sudah bisa kita sebut pop ‘kan?

Sedang kalau yang mendayu-dayu ada gendang, itu dangdut. Kalau kayak ‘gitu ‘kan jelas perbedaannya. Jadi kalau pertanyaan ini keluar di Dekat, ‘gini, gue yakin kalau lo mendengarkan lagu Dekat itu beda jauh banget dengan Tangga. Terus lo bilang berarti alirannya berubah? I don’t know. 

Tapi gue rasa nggak sih. Tetap pop. We just playing pop music. Itu sih menurut gue. Menurut gue, enaknya pop itu gampang ‘diperkosa’. Gampang disambungin ke mana-mana. Kalau rock ada batasannya. Dangdut juga, jazz juga, tapi kalau pop itu luas.

bagaimana dalam urusan menciptakan lagu dengan formasi baru. apakah ada ketimpangan?
K: Harusnya nggak. Karena ini pertama kalinya kami bertiga bikin lagu bertiga. Karena Tangga, dulunya dibikinin. Dulu di Tangga kami punya music producer, punya produser. Mungkin gue sama Tata nulis banyak lirik, tapi tetap karyanya bukan 100 persen orisinil karya kami. Jadi kami terbiasa terlihat bekerja secara tim, padahal tidak pernah bekerja secara tim.

Jadi ketika di Dekat, ini pertama kali kejadian kami kerja bareng. Di Dekat, memang kebanyakan lagu itu awalnya datang dari gue. Tapi gue nggak pernah mau menyelesaikan lagunya. Karena buat gue percuma kalau lagunya gue yang bikin sendiri. Karena ceritanya harus datang dari semuanya.

Cara bikin lagu di Dekat ini justru kebanyakan, misalnya gue bikin hook, terus nanti gue tanya mereka, lo mau nyanyi part yang mana, bikin gih. Jadi lagunya akhirnya memang custom. Part-nya Chevrina bakalan enak kalau Chevrina yang nyanyiin, kalau gue yang nyanyiin nggak enak. Kenapa? Karena yang ngalamin itu dia.

Kalau dulu di Tangga, oh Chevrina cewek, not-nya di sini dan tinggal dibikinin. Itu mungkin yang bikin lagunya Dekat terasa berbeda, ini memang lagunya dia, si orang yang bikin bagian itu.

‘gimana dengan pemilihan single pertama Dekat yang berjudul ”lahir kembali”? apakah ini sebuah penetapan jati diri baru?
K: Gue awalnya orang yang nggak mau ”Lahir Kembali” jadi single, karena gue nggak berani. Tapi dua anak ini [Tata dan Chevrina] ketika ditanya, mereka berpikir sekalian ajalah. Kalau orang mau tau kenapa Tangga bubar, jadi kami kasih tau alasannya Tangga bubar lewat lagu ini.

Sejujurnya gue nggak nyaman, tapi ya nyemplung sekalian. Itu juga alasannya ketika orang tanya ”Lahir Kembali” ceritanya tentang apa, gue nggak mau nyeritain. Karena gue nggak nyaman. Kenapa kami berani bikin lagu dengan lirik seperti itu, karena kami berlindung di balik lagunya.

Kalau kami omongin akan jadi sangat nggak sopan. Jadi kalau ditanya tentang apa lagunya, lo dengerin aja sendiri. Lo akan punya bayangan tentang apa lagunya. Biar lo yang taruh nama siapa di situ, atau ini kira-kira buat siapa, dan sebagainya, karena kami nggak mau ngomong.

seeksplisit itu kah lagunya?
T: Bisa dibilang sih. Itu kayak ditujukan kepada… Nunjuknya itu, ditunjuk banget lah sama lagu itu. Sangat menunjuk.

ketika lagu Dekat sejujur itu, bagaimana Dekat dalam segi visual? perbedaan dengan Tangga?
C: Segampang-gampangnya dilihat mata dalam bentuk warna. Kami dari Tangga, mungkin dibentuk untuk berwarna warni, sekarang ya nggak lah. Gue pake baju sehari-hari kami ke mall aja. Kalau pakai jeans ya udah. Orang sehari-hari juga jarang pake warna ketimpringan, jadi kalau mau hitam putih ayok. Video klip-nya simple banget.

K: Yap, kita disyuting lagi marah-marah, hitam putih.

C: Begitu karena lagunya udah jelas banget, nggak perlu di-bold lagi, nggak perlu di-underline lagi, nanti jadi too much.

T: Kalau gue merasa gini, ibaratnya ‘gini, kesimpulan yang bisa diangkat adalah kita lebih stay true to ourselves sih. Mungkin, kalimat ini juga bisa disambungin ke pertanyaan dewasa. Dewasa yang gimana? Ya kita merasa bukan dewasa yang kami berubah jadi cool, bapak-bapak, atau ‘gimana, no. 

Kami lebih dewasa dalam artian lebih menjadi diri sendiri, apapun yang dikerjain, dari karya atau segala macam. Specially untuk karya, karena karya itu ‘kan secara outlook, secara tulisan lagu, membentuk inner kami.

‘gimana untuk urusan manggung?
K: Sekarang bakal ada kemungkinan kami manggung begini [dengan gaya casual, kaus dan jeans-red]. Sekarang kami udah nggak peduli, it’s just all about the music. Kalau lo suka John Mayer, lo nggak akan peduli John Mayer pake baju apa. Semakin sedikit John Mayer pake baju, lo semakin suka, kasarnya ‘gitu.

Kenapa segitunya, karena it’s all about the music. Bahkan kalau Johnn Mayer bukan John Mayer, dia lewat depan lo juga cuma jadi just another bule cakep aja ‘gitu. Bahkan dia nggak cakep-cakep banget juga. Nggak kayak Zac Efron ‘gitu.

Tapi kenapa ‘gitu? Karena lo ‘gila’ sama musik dia. Dengan Dekat dibikin, gue tahu teman gue cakep-cakep, tapi ini bukan soal muka mereka. Ini soal lagunya.

lalu apa yang kalian cari lewat Dekat?
K: Kepuasan.
C: Pengin happy.
T: Bener sih, mau cari kepuasan yang bikin happy.

jadi, dari dulu nggak happy?
C: Oh iya, kalau bisa dibilang begitu. Kaget ‘kan? Tapi ya begitu lah. Kalau nggak nyaman, ya nggak nyaman.
T: Yess, we are not really happy sih memang.
K: Seberapa happy-nya kami, adalah kami punya kesempatan bilang kalau kami kemarin nggak happy. Itu adalah hal yang liberating lho. Itu yang kami usaha bangun di band ini. Kayak ya, ketika kami pengin bikin lagu, ya itu cerita tentang kami.

Dari dulu itu gue sebagai penulis lirik Tangga, gue selalu dibiasakan mikirin kisah cinta apa yang lagi sering kejadian sama orang-orang, belakangan. Jadi elo bisa bikin lagu yang relate sama orang. Dan dulu sistem itu sangat masuk di kepala gue. Sampai gue berpikir, kalo elo penyanyi, gue nggak pengin denger cerita gue, tapi gue mau denger cerita dari lo. Gue kepo, gue mau tahu elo siapa. Ketika John Mayer bikin lagu, gue jadi mau tahu.

Oh ternyata ini lagu buat Katy Perry. Ketika Anang bikin lagu, oh ini buat Krisdayanti. Itunya lho. Itu yang lagi berusaha kami bikin di band ini. Semua cerita band ini ya tentang kami. Kalau lo merasa lagunya mirip cerita lo, good then. Tapi ini bukan cerita lo.

jadi, singkat kata, Dekat adalah kemerdekaan bagi Kamga, Chevrina. dan Tata?
K, C & T: Wuih, benar! Dekat itu merdeka! « [teks @nandiyanti | foto @bagusdimsum]

SHARE