Konser di Museum Itu Bernama Dawai Angin Senja

0
122

Dawai Angin Senja tentang konser sejarah dan keintiman

SAYMenggelar sebuah konser di lapangan terbuka ataupun sebuah hall adalah hal yang lumrah. Semua tergantung kepada penyelenggara, ingin menarik seberapa banyak audience. Atau menghidupkan konsep seperti apa. Bagaimana jika melakukannya di museum? Itu hal yang jarang terjadi! 

Di Museum Layang-layang baru saja dihelat sebuah mini konser bertajuk Dawai Angin Senja. Sebuah pertunjukkan musik yang intim dengan latar koleksi layang-layang dari beragam daerah dan negara. Hanya ada empat nama band indie yang meramaikan pertunjukkan ini, Say, Tri Junior, Traya, dan Marcho Marche.

Konser berlangsung tepat di tengah pendopo Museum Layang-Layang –yang bergaya ala bangunan Jawa. Pukul 7 malam mini konser ini dimulai dengan pembukaan duo akustik, Say. Dengan saksofon dan gitar, duo ini merajut suasana yang ceria dengan humor segar yang mereka lempar.

Selepas mereka, giliran Tri Junior yang tampil membawakan lagu andalannya “The Sweetest Goodbye”. Solois ini memainkan ritme mendayu dengan gitarnya.

Museum yang berada di kawasan Fatmawati ini kian semarak dengan penampilan dari Traya. Duo yang diasuh oleh Aiyu [vokal] dan Iyus [Bass], keduanya mengajak lagi dua personel tambahan untuk menghidupkan suasana pendopo.

Kehadiran rapper, The Law, yang ikut mengisi part rap lagu “Something Bigger”. Makin menambah warna pada museum yang terletak di dalam gang kecil itu.

Jam 9 malam, Dawai Angin Senja sampai pada puncak acaranya. Sebagai penutup duo akustik Duta dan Nana yang membentuk Marcho Marce hadir. Kepiawaian keduanya memainkan ukelele dan gitar, mendapat acungan jempol.

Lagu-lagu retro karya Bing Slamet dan Sam Saimun yang mereka dendangkan, mengentalkan aroma historis di pertunjukkan ini. Lagu yang dulu sekali menjadi primadona di kawasan kota lama.

Penggagas hajatan ini ialah Iyus [Traya], Duta [Marcho Marce], dan Kelly [Tri Junior] mengucapkan terima kasih kepada audience saat penutupan. Mereka berujar jika, elemen – elemen atas keintiman di stage, kedekatan antara audience dan performer serta pemilihan venue di museum adalah sesuatu yang ingin dimunculkan ke masyarakat.

Sementara itu, Wahyu Sobi, sang ketua Dawai Angin Senja juga memberi kesan tersendiri, “Sudah saatnya kita bermusik di tempat-tempat bersejarah, agar kita sendiri dan masyarakat sadar, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai nilai-nilai historis negaranya dan mencintai serta melanjutkan apa yang telah pendahulu-pendahulu kita lakukan, dan musik adalah salah satu jembatannya.” «[teks @HaabibOnta | foto sevenmusic]

SHARE