Keputusan Mohammed Kamga yang Mengejutkan

0
5347
dekat
dekat

Mohammed Kamga tinggalkan jalan-jalan demi Dekat

kamga 1Dulu, ia, Mohammed Kamga, dikenal sebagai salah satu vokalis grup Tangga. Beberapa tahun terakhir, kegiatannya bermusik terlihat berkurang. Setidaknya, seperti itu yang tampak di layar kaca. Secara off air pun, nama grup yang digawangi Kamga, Tata, Chevrina, dan Nera itu pun seolah meredup.

Sampai suatu ketika, Kamga muncul sebagai seorang pembawa acara Explore Indonesia, yang tayang di Kompas TV. Ia terpilih untuk membawakan program yang menyajikan perjalanan di pelosok Indonesia, untuk mengulik keindahan alam dan budayanya. Berkat acara tersebut, segudang pengalaman baru pun dikantunginya.

Lalu bagaimana dengan karier bernyanyinya? Di awal kiprahnya sebagai pembawa acara, Kamga sempat berkilah bahwa jadwalnya antara jalan-jalan dan manggung bersama Tangga tidak ada masalah. Tim manajemen dan pihak produksi, dijelaskannya, telah kompak dalam menyusun jadwal untuknya.

Tapi, secara tiba-tiba, jelang pertengahan tahun 2014 lalu, Kamga mengumumkan bubarnya grup Tangga. Dengan segala pertimbangannya, grup yang akan genap berusia 9 tahun itu harus selesai perjalanan kariernya. Berakhirnya grup Tangga juga ditandai dengan rilisnya single terakhir mereka yang berjudul “Tak ke Mana-mana”.

Banyak tanda tanya yang muncul dari keputusan itu. Namun tampaknya, para punggawa grup tersebut masih menjalani hidup mereka dengan normal, termasuk Kamga yang masih disibukkan dengan kegiatan jalan-jalannya. Tak butuh waktu lama, Kamga kembali dengan kabar yang cukup membuat Anda mengerutkan dahi.

Lewat akun jejaring sosialnya, Kamga mengumumkan ia telah memiliki sebuah grup baru dan akan merilis sebuah mini album. Kemudian, diketahui grup tersebut bernama Dekat. Anggotanya? Para mantan anggota Tangga –tanpa Nera– berkumpul kembali dan memilih untuk lahif kembali lewat Dekat.

Dan Kamga, lewat sebuah obrolan singkat bersama Ghiboo, mengutarakan dengan gamblang hal-hal yang telah dialaminya sejak memutuskan berkiprah bersama Dekat. Kamga, dengan yakin memutuskan hal besar dalam kariernya. Demi dekat, ia memutuskan pekerjaannya sebagai seorang pembawa acara.

“Ketika lagi nggak punya duit, gue dateng ke Kompas. Gue bilang, mau stop. Padahal itu satu-satunya uang pemasukan gue,” kata pria yang lahir pada September 1987 itu. Karena keputusannya itu, sang ibu pun ikut gemas dan kuatir tentang karier sang anak, “Nyokap gue bilang gue sinting. Dia sampai bilang, ‘gimana sih? Tangga lagi nggak jalan, lagi mau bikin band baru juga, itu satu-satunya pemasukan lo malah lo buang,” lanjutnya.

Siapa sangka, kebahagiaan Kamga lewat grup barunya itu mampu membuatnya memilih sesuatu yang bisa dibilang penting. “Bukan karena jalan-jalannya atau gimana, tapi setelah sekian lama gue bertemu Dekat dan kami membuat lagu lagi, dan gue merasa, iya sih rasa cinta gue ke musik beberapa tahun lalu mulai menghilang ketika Tangga memang sudah tidak bisa mengakomodasi itu. Dan waktu gue mendapatkan tempat mengakomodasikan itu lagi, gue merasa mending gue miskin tapi ngeband daripada bagi-bagi,” ujarnya dengan gamblang.

Siapapun yang mendengar pernyataan Kamga tadi, tentu akan menanggguk paham, mengapa ia berani mengambil keputusan berhenti sebagai pembawa acara. Sebut saja, Kamga memang sedang jatuh cinta. Dimabuk kepayang dengan grup barunya bersama dengan Chevrina dan Tata. Begitu besarnya rasa yang memabukkan itu, Kamga sampai tak ingin diganggu apapun.

“Bahkan dalam keadaan perlu aja, gue nggak mau membagi Dekat dengan jalan-jalan. Karena itu mengganggu, menurut gue. Gue mau punya satu kerjaan aja. That’s how crazy this band is,” tegasnya.

Menemukan cinta dalam hal nyata memang sangat menyenangkan. Seperti itu pula Kamga bersama Dekat. Ia menemukan satu kehidupan baru dalam Dekat. Bahkan ketika ditanya perbedaan Dekat dengan Tangga, ia akan menjelaskannya dengan panjang lebar. Tentunya, dari sisi musik akan terdengar berbeda. Namun di balik itu semua, menurut Kamga, pondasi terbentuknyalah yang membuat Dekat spesial.

“Berangkatnya aja udah beda. Tangga dibentuk dengan harapan mau jadi artis. Saat itu gue dan Tata di umur 17-an ditanya, ‘lo mau jadi artis nggak?’ Jawabannya mau. Dan kita bicarain soal musiknya mau ‘gimana, lo harus ‘gimana, dan saat itu oke, gue rela nggak jadi Kamga asal gue terkenal. Tangga pondasinya itu,” kata pria yang juga doyan musik K-Pop ini.

Sedangkan di Dekat, menurutnya, pondasinya cuma orang-orang yang mau happy. Meski Kamga dan teman-temannya terbilang masih bertaruh nasib lewat Dekat. “Walau kita nggak tahu ujungnya ‘gimana, misal mendadak band ini nggak laku, tahun depan kita sampe nggak punya uang dan harus membuang ini semua untuk kerja kantoran, ya mungkin aja. Cuma at least in this moment kita happy banget,” kata pria lulusan Universitas Indonesia itu.

Jadi, kalau ditanya, bagaimana mungkin Kamga bisa meninggalkan sesuatu yang pasti untuk hal yang belum pasti, karena menurutnya, kebebasan dalam bermusik adalah hal yang tidak bisa dibeli oleh apapun. “Karena kita merasa main musik tuh ini,” ungkapnya meyakinkan, bahwa lewat Dekat ia menemukan kepuasan dan rasa bahagia. « [teks @nandiyanti | foto @bagusdimsum]

SHARE