Waspada, Kekerasan dalam Pacaran!

0
460
Kekerasan berpacaran
Kekerasan berpacaran

Terkadang beberapa orang salah mengartikan cinta

kekerasan berpacaran

Kata orang, cinta identik dengan rasa ingin memiliki. Ketika kita mencintai seseorang, ada hasrat untuk seutuhnya memiliki dirinya, hanya untuk diri sendiri.

Namun terkadang, keinginan untuk memiliki bertabrakan dengan kebebasan yang dimiliki oleh pihak lain. Termasuk hubungan antara sepasang kekasih. Maka, tak heran bila banyak orang yang bersikap kelewat posesif. Membatasi kebebasan pasangannya, karena ketakutan jika kekasihnya suatu saat pergi. Atau tak mau melakukan apa yang ia inginkan

Sikap posesif ini sebenarnya cukup wajar, bila dilakukan dalam kadar yang pas. Tetapi beberapa orang lantas mengekspresikan sikap posesif ini melalui kekerasan. Mulai dari sekadar paksaan verbal, hingga pukulan dengan tangan. Sebenarnya, mudah bagi kita untuk mengidentifikasi gejala pacaran yang sudah mulai tidak sehat seperti ini. Hanya saja, banyak di antara kita yang menolak untuk pergi.

Anda pernah menonton film Enough, yang menampilkan Jennifer Lopez sebagai bintang utama? Seperti itulah kiranya gejolak perasaan yang dialami oleh korban kekerasan pasangan. Kita menyadari bahwa hubungan tersebut tak baik untuk dilanjutkan. Namun, banyak hal yang pada akhirnya menahan kita hingga sekian lama.

Lantas, alasan apa saja, yang membuat para korban menolak untuk pergi?

1Waktu yang terlampau lama
Kalau Anda rajin menonton dan membaca berita infotainment, Anda pasti sempat mendengar perceraian antara Cornelia Agatha dan sang suami. Menurut pengakuan pemeran Sarah dalam Si Doel Anak Sekolahan tersebut, ia telah mengalami kekerasan fisik sejak pacaran. Beberapa orang lantas mempertanyakan: “Kalau sudah tahu tabiatnya begitu, mengapa masih dilanjutkan hingga pernikahan?”

Masalah utamanya adalah usia pacaran yang terlampu lama. Ada beberapa hal yang membuat orang enggan memutuskan hubungan lantaran masalah waktu: sulit menghilangkan kebiasaan, sudah menganggap kekasih sebagai bagian keluarga [saking lamanya waktu berpacaran], hingga malas memulai hubungan baru lagi. Saat akan putus, sebuah pikiran bergelayut pula di benak “sayang ya tahun-tahun yang sudah dilewati bersama berakhir begitu saja…”

Padahal, lebih baik para Anda mengakhiri waktu-waktu tersebut, ketimbang harus terjebak lebih lama lagi dalam hubungan yang penuh kekerasan. Yang tak hanya bertahun-tahun, tetapi juga berpuluh-puluh tahun.

2Malu kepada orangtua dan kerabat dekat
Mungkin orangtua dan kerabat telah mengenal kekasih sebagai sosok yang cocok untuk mendampingi Anda dan menjadi bagian keluarga. Sayangnya, hal tersebut lantaran Anda hanya menonjolkan kebaikan si dia dan menutupi segala keburukannya.

Well, apakah Anda mau menukar rasa malu dengan penderitaan dan ancaman berbahaya di masa depan?

3Tak ada orang lain yang cocok
Anda merasa si dia adalah belahan jiwa Anda. Ia adalah puzzle bagi hidup Anda, begitu pula sebaliknya. Rasanya, tak akan ada orang lain yang seperti dia. Like Muse said: She/he could never be as good as you.

Tetapi, puzzle yang saling berkaitan tak akan saling menghancurkan. Begitu pula belahan jiwa. Kalau ia memang menganggap Anda belahan jiwa, rasanya ia tak akan setega itu menyakiti Anda. Tak ada orang lain yang cocok? Hmm, mungkin Anda hanya perlu mulai membuka diri dan berhenti membandingkan orsng lain dengan pasangan Anda.

4Siklus berulang.
Biasanya, korban kekerasan akan luluh lantaran pasangan selalu meminta maaf penuh penyesalan usai melakukan kekerasan. Namun sayangnya, hal ini akan terus berulang seperti segala siklus yang ada di muka bumi. Bisa jadi ia meminta maaf lantaran takut kehilangan Anda, tetapi nanti, ketika telah masuk ke jenjang pernikahan, apakah Anda yakin ia akan menyesal telah melakukan kekerasan fisik pada Anda?

5“Bukti cinta kamu, mana?”
Ini biasanya terjadi pada pelaku kekerasan seksual. Ia meminta Anda untuk, let’s say, make love to him just to prove that you really love him. Ini klasik, tetapi kalau dia cinta pada Anda, ia tak akan memaksa Anda untuk melakukan hal yang membuat Anda merasa tidak nyaman.

6Masa depan cerah
Anda takut memutuskannya, karena yakin ia akan menjadi Ayah yang baik, atau suami dengan gaji besar dan mampu menyejahterakan Anda. Tetapi, walaupun uang merupakan hal yang penting, Anda tak akan bisa menikmatinya bersama orang yang senantiasa mengancam keselamatan Anda, bukan?

Bila Anda telah mampu terlepas dari si dia, selamat untuk Anda. Anda tahu bahwa hidup ini singkat, dan hal yang seharusnya paling kita cintai adalah diri sendiri. Namun Anda harus tetap berhati-hati pada siklus berulang dengan pria lain.

Seringkali korban kekerasan akan terjebak lagi pada hubungan yang bersifat abusive [dengan orang lain], mungkin lantran tak bisa lepas dari citra diri mantan kekasih, atau malah, memposisikan diri sebagai punch-bag. Beware and love yourself! « [teks @intankirana | foto shutterstock.com]

SHARE