Motivation in Psychology of Travel

0
215

Motivation in psychology of travel bagi para traveler dunia

travel_suitcase

Apakah traveling hanya sekadar hobi? Atau ada faktor lain yang mempengaruhi seseorang untuk mengunjungi tempat-tempat tertentu? Ternyata banyak sebab dan dampak, sebelum dan setelah melakukan perjalanan.

Intinya, sebuah perjalanan baru dapat mempengaruhi sisi psikologis seseorang. Hal yang paling baru bisa diketahui dari hasil survei online yang dilakukan oleh TripAdvisor sebagai situs perjalanan terbesar di dunia. Survei tersebut dilakukan pada tanggal 17 Juli – 5 Agustus 2014. 

Dilakukan bersama dengan Ipsos sebagai salah satu lembaga penelitian dunia dan menggunakan sampel terdiri dari 39.721 konsumen yang merupakan pengguna situs TripAdvisor dan panelis online Ipsos yang melakukan penelitian rencana perjalanan online tahun lalu, dan 14.083 representatif dari akomodasi di data base TripAdvisor.

Dengan data tersebut menjadikannya survei kombinasi antara akomodasi dan wisatawan terbesar di dunia, data survei konsumer dihitung untuk merepresentasikan profil yang dikenal dari populasi online. Dari survei tersebut diangkatlah delapan hal yang dianggap paling mempresentasikan motivasi saat ingin melakukan perjalanan.

Kedelapan hal tersebut antara lain kebebasan, hubungan dengan orang terkasih, harmoni, keteraturan, meningkatkan perspektif, kemewahan, dan kegembiraan. Hasilnya mengungkapkan bahwa 71 persen wisatawan dunia menjadikan ”meningkatkan perspektif” sebagai motivasi mereka untuk berjalan-jalan. Dan diikuti dengan ”kebebasan” berada di posisi kedua dengan presentasi 62 persen.

Namun di beberapa bagian belahan dunia, memiliki motivasi utama traveling yang berbeda. Misalkan wisatawan Amerika Utara, mengutarakan motivasi mereka bepergian untuk mempererat hubungan dengan orang terdekat.

Sedang orang Amerika melakukan traveling untuk bertemu dengan orang baru. Sedang wisatawan Eropa bepergian untuk memamerkan pengalaman luar biasa mereka. Lain lagi wisatawan Timur Tengah yang ingin merasakan gaya hidup orang setempat. Dan wisatawan Afrika ingin merasa diistimewakan dan dimanja ketika melakukan sebuah perjalanan.

Di Australia, mencari momen berkesan adalah motivasi utama mereka berjalan-jalan dan untuk wisatawan Asia, melakukan traveling karena sangat menyukai pengalaman yang menyenangkan. Di Indonesia sendiri 75 persen suara menyatakan hal yang sama, yaitu melakukan traveling untuk meningkatkan perspektif. Dan motivasi memperoleh kebebasan juga berada di posisi kedua menurut traveler yang berasal dari Indonesia. Sedangkan faktor motivasi keteraturan dan harmoni dianggap sebagai faktor yang paling tidak penting bagi wisatawan dunia, dengan hasil persentasi 21 persen di dunia.

Dari survei ini juga diketahui bahwa wisatawan Indonesia adalah salah satu dari beberapa wisatawan yang berpikiran terbuka dan toleran terhadap orang lain dan mempelajari hal-hal baru sebagai dampak dari berlibur. Apakah Anda merasakan hal yang sama?

Lalu bagaimana dampaknya ketika motivasi-motivasi di atas telah membawa Anda sampai di tempat tujuan? Apakah akan ada dampak psikologisnya? Ghiboo akan jelaskan di tulisan mengenai psychology of travel selanjutnya. « [teks @nandiyanti | foto berbagai sumber]

SHARE