Amba dan Nitik

0
178

Say it with batik

Oktober adalah bulan istimewa. Salah satunya, karena pada awal bulan –tepatnya setiap tanggal 2– diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

Seperti diketahui, beberapa waktu silam, negeri ini sempat digegerkan sebuah kabar kurang baik: negara tetangga mengklaim batik sebagai salah satu ragam kekayaan kebudayaan mereka. Tentu saja, nasionalisme rakyat seluruh negeri seperti tersulut bara. Ibarat menduduki sebutir paku payung, kita berteriak kencang. Batik adalah milik Indonesia!

ambanitik

Berbagai usaha dilakukan untuk mendapatkan pengakuan itu. Rakyat dari kedua negara –yang hubungannya gigi dan lidah, dekat tapi acap bertikai– sepertinya kembali merenggang. Masing-masing pihak saling mengklaim. Masing-masing pihak saling ┬ámenuding.

Untungnya, Dewi Fortuna masih betah menjadi penghuni negeri ini. Pada 2009, UNESCO menetapkan dan mengukuhkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non-bendawi milik bangsa Indonesia. Ada sebentuk pengakuan dari dunia internasional tentang budaya yang diteruskan secara turun temurun ini. Bahkan sejumlah pesohor dunia pun mengenakan batik sebagai busana kesayangan mereka.

Sudahkah masalahnya selesai? Tentu saja belum. Batik, yang belakangan jadi banyak sekali model dan turunannya, mulai kehilangan jati diri. Saya bilang demikian, karena dunia industri makin campur tangan ke dalam perkembangan seni lukis kain ini. Batik tulis, yang merupakan cikal bakal kebudayaan ini, secara perlahan kian tersingkirkan dengan budaya modern yang lebih mementingkan faktor ekonomis ketimbang sisi seninya. Batik tulis tergeser batik cap dan batik printing.

Tidak, bukan saya mau nyinyir dengan euforia masyarakat pemakai batik. Tetapi, dengan menjadikan batik sebagai busana sehari-hari, otomatis keagungan dan kesakralannya menurun. Karena dengan begitu, hukum supply dan demand mulai mengambil alih dan ikut menentukan nasib komoditi ini.

Menurut beberapa teman yang menggeluti dunia batik, juga dari hasil wawancara dengan sejumlah tokoh batik nasional, didapat data bahwa para pembatik tulis ini, jumlahnya mulai berkurang. Sudah nasibnya tak kunjung membaik karena yang mereka kerjakan acap tak dihargai sepantasnya, kaderisasi untuk meneruskan warisan budaya ini juga tak mulus. Tak banyak yang mau menjadikan membatik sebagai jalan hidupnya. Dan tuntutan ekonomi membuat sebagian dari mereka berpaling, tak lagi berminat untuk menekuni bidang ini.

Di satu pihak, kita bersyukur karena dunia internasional sudah membuat pengakuan terhadap batik. Tetapi di sisi lain, kita harus berpikir dan bekerja keras membuat warisan ini tetap terjaga keberlangsungannya. Caranya? Mulailah menghargai, membeli, mengenakan, dan merawat batik tulis Anda dengan baik. Jika kita mau memulai untuk menjaga warisan Indonesia ini, kita boleh berharap seni amba dan nitik ini akan selalu menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat kita.

 

Salaam,
@hagihagoromo

SHARE