Nosstress dan Jerinx Alami Intimidasi Akibat Tolak Reklamasi Bali

0
721

Shock Therapy yang Nosstress dan Jerinx alami

nosstress dan jerinx

Angga, Kupit, dan Bagus, mereka bertiga adalah personel dari Nosstress, sebuah band folk yang mengemas lirik bermuatan sosial dan pesan untuk menjaga alam dengan musik yang sederhana. Lewat album Perspektif Bodoh, Angga, Kupit, dan Bagus mulai dikenal oleh publik.

Dengan lagu-lagu semisal “Tanam Saja”, “Kantong Sampah” dan “Hiruk Pikuk Denpasar”, tiga sekawan ini coba mengetengahkan problem yang Bali sedang alami. Hilangnya kebun-kebun yang digantikan oleh cafe atau bar, sampah berserakan, dan jalan raya yang mulai macet seperti di Jakarta.

Ketertarikan mereka akan isu lingkungan serta sosial, akhirnya membawa Angga [gitaris/vox], Kupit [gitaris/vox], dan Bagus [perkusi] pada pergerakan Bali Tolak Reklamasi. Bersama Navicula, Superman Is Dead, dan komunitas For Bali, Nosstress ikut ambil bagian dalam perlawanan menentang reklamasi di Teluk Benoa.

Kami bertemu saat Konser Svara Bumi di Rolling Stone Cafe Jakarta [30/9], berbicara tentang akibat penentangan mereka atas Perpres 51/2014. Yang ‘menghalalkan’ pengurukan Teluk Benoa seluas 838 hektar oleh PT Tirta Wahana Bali International [TWBI].

Petang itu di backstage Konser Svara Bumi, Angga bercerita bahwa suatu kali pernah ia, Kupit, dan Bagus menerima intimidasi saat manggung di sebuah kafe di Denpasar. Gigs itu memang ditujukan untuk menyuarakan penolakan akan rencana reklamasi. Ajakan pun disebar lewat sosial media untuk mendatangi konser itu. Alhasil, kafe kecil itu penuh sesak oleh sekitar 30 orang, menurutnya. Tapi bukan oleh fans Nosstress, melainkan preman sewaan.

“Ayo nyanyi! Nyanyi! Nyanyi tolak Bali!” kata Angga dengan nada membentak sambil menirukan gestur seakan menantang dari seorang preman yang datang malam itu. Jawara-jawara itu datang untuk mabuk-mabuk, bukan menikmati alunan folk yang Nosstress lantunkan.

Melihat gelagat seperti ini, tiga sekawan ini sepakat main seperti biasa tapi menahan untuk berbicara tentang isu Bali Tolak Reklamasi. “Mereka memenuhi kafe itu, sampai orang lain nggak bisa masuk ke dalam,” tambah Angga.

Ada salah seorang teman Angga yang ikut dalam gerombolan tersebut. Ajaibnya, temannya itu tidak tahu menahu mengapa diminta untuk datang ke kafe itu. Dia cuma menerima undangan lewat pesan BBM untuk dibayari makan-makan di kafe kecil di Denpasar, ucap sang gitaris Nosstress. Menurut Angga ada beberapa tingkatan dalam struktur preman sewaan itu, bos, bos kecil, dan anggota. Nah, temannya itu sekadar anggota yang tidak tahu menahu.

“Kita sudah sadar bahwa perlawanan ini akan ada resikonya,” tutur Angga, ”Orang tua dan saudara di rumah pun sudah memperingati bisa saja kita diapa-apain. Tapi yaa.. lawan!”

Setelah minuman yang preman-preman borong itu habis, gerombolan ini pun memutuskan pulang. Dan, kerumunan anak muda yangs sedari tadi menunggu di luar alhasil bisa masuk, and the show goes on!

Jerinx dikuntit oleh preman

Setali tiga uang dengan Nosstrees, Jerinx pun pernah merasakan hal yang sama. Menerima intimidasi dari preman-preman sewaan. Drummer dari Superman Is Dead ini terbilang vokal untuk menyurarakan Bali Tolak Reklamasi. Akun twitter pribadinya, @JRX seringkali mengecam nafsu rakus penguasa yang ingin memperkosa Bali Selatan tanpa henti.

“Bali itu nggak perlu wisatawan. Wisatawan yang perlu Bali, karena cuma di sini mereka bisa seenaknya. Bayangin aja di negaranya sana kan banyak peraturan. Enggak bisa mereka berlaku kaya gitu,” terang Jerinx yang baru-baru ini mengunggah foto pria asing yang setengah telanjang di Kuta, tanpa mengindahkan norma-norma setempat.

Sikap vokalnya itu alhasil menarik perhatian dari kubu yang pro reklamasi. Beberapa kali ada orang misterius yang datang ke bar milik Jerinx di Kuta untuk mencarinya. Bahkan mereka samapi menayai alamat rumah juga. Tapi sejauh ini, Jerinx mengaku belum pernah berkonfrontasi langsung dengan preman-preman bayaran itu. Hanya sekadar shock therapy saja, yang pernah ia dan kawan-kawan Bali Tolak Reklamasi terima.

“Konfrontasi dengan ormas atau preman bayaran sering. Tapi banyak dari mereka yang saya kenal juga pimpinannya. Jadi ya sama-sama nggak enak. Mereka cuma jalanin tugas, jadi serba salah,” terang die hard fans-nya Social Distortion ini. Menurut Jerinx, beberapa dari ormas itu juga sebenarnya menolak reklamasi di Bali di hati mereka. « [teks @HaabibOnta | foto @bagusdimsum]

SHARE