Ibukota Pilihan Delon Thamrin

0
467

Tiga kota ini layak jadi ibukota menurut Delon

delonPanasnya suhu udara, kemacetan di berbagai sudut jalan, hingga kesemrawutan dalam berbagai hal masih dirasakan masyarakat yang tinggal di ibukota Jakarta, termasuk salah satunya adalah penyanyi Delon Thamrin.

Ya, alumnus program pencarian bakat Indonesian Idol pertama pada tahun 2004 ini tak menampik bahwa Jakarta belum seutuhnya layak menjadi sebuah ibukota negara, dan ia pun memberi beberapa pilihan kota yang bisa dijadikan sebagai pengganti Jakarta yang kian terasa padat.

“Kalau ada opsi Ibu Kota pindah saya punya beberapa pilihan kota. Kalau masih di sekitaran pulau Jawa, Bogor bisa jadi pilihan karena letaknya nggak terlalu jauh juga dari Jakarta. Tapi di luar pulau Jawa pun ada kota yang bisa diandalkan,” ujarnya saat berkunjung ke kantor redaksi Ghiboo beberapa waktu lalu.

Pemilik nama lengkap Stanislaus Alexander Liauw Delon Thamrin ini menyebut Bangka sebagai tempat pertama untuk dijadikan ibu Kota Negara Republik Indonesia.

“Tempat asal Nyokap [ibu-red], Bangka bisa jadi pilihan pertama. Kenapa? karena disana banyak tempat wisata yang bagus, kulinernya juga banyak pilihan, alamnya indah tapi belum banyak ekspose dari teman-teman media,” ungkap pemilik wajah oriental ini.

Pria kelahiran Jakarta, 20 Mei 1978 menambahkan kalau Bangka juga dikenal sebagai kota penghasil timah dan kelapa sawit dalam jumlah yang besar. Setelah Bangka, Delon menyebut Makassar untuk jadi Ibu Kota pengganti.

Nah kalau mau suasana yang mirip Jakarta, Ibu kota bisa dipindahin ke Makassar. Di sana sudah ramai penduduknya, fasilitasnya juga bagus mulai dari bandara hingga tempat hiburan, dan yang pasti sudah macet juga, tapi macetnya masih bisa diprediksi nggak kayak di sini [Jakarta-red],” lanjut suami dari Yeslin Wang.

Pria yang menjadi pengganti Joy Tobing sebagai pemenang ajang pencarian bakat menyanyi ini, menyebut Medan sebagai kota terakhir yang juga bisa menjadi pilihan .

“Yang terakhir saya pilih Medan, kenapa Medan? Karena di sana penduduknya beragam. Ada suku Batak dan ada etnis Tionghoa. Maaf bukan maksudnya menyinggung soal ras, tapi kalau orang Tionghoa itu kan lebih cenderung ke bisnis, dan kalau suatu kota banyak pebisnisnya bisa dipastikan kota itu berkembang,” pungkasnya.«[teks @boyMALI | foto dok Fire | kover @ajiotoy]

SHARE