Sheila Timothy dari Padang Hingga Papua

0
308

Sheila Timothy menelusuri tanah Minang hingga tanah Papua untuk film-nya

Lala Timothy-1

Travelling sembari bekerja ternyata memiliki kesan dan ternyata mengandung pesan yang mendalam bagi produser film Tabula Rasa, Sheila Timothy.

Walaupun filmnya bertitik berat tentang citarasa masakan padang, namun pemilik rumah produksi LifeLike Pictures melanjutkan destinasi hingga tanah Papua.

Perjalanan yang tak hanya sekadar menikmati pemandangan dan keindahan alam karya Sang Maha Pencipta dilakukan Lala [begitu ia biasa disapa] untuk mengulik kisah dan cerita lebih dalam tentang daerah yang dia datangi, beserta menu masakannya yang juga menjadi bagian dari observasi film.

“Kalau jalan-jalan suka banget, tapi khusus untuk film Tabula Rasa ini saya eksplor Sumatra Barat, Padang, terus saya juga sampai 5 kali perjalanan ke Seruwi, Papua agar lebih dapet feel-nya, biar tau detail-detailnya jadi nggak cuma riset via online,” ceritanya saat berkunjung ke kantor redaksi Ghiboo beberapa waktu lalu.

Perempuan yang memiliki garis keturunan dari Palembang ini pun menyebutkan beberapa tempat di Sumatera Barat yang sempat dia bersama timnya datangi kala itu.

“Banyak lokasi cantik seperti Danau Maninjau, saya juga suka suasana di Bukit Tinggi, terus juga yang menarik buat saya saat ke Payakumbuh, ada ibu-ibu di Pasar buah lagi ngulek cabai, pemandangan yang kayak gitu nggak akan didapat di Jakarta,” ujarnya semangat.

Namun perasaan miris terasa saat dia bersama tim berkunjung ke obyek wisata Jembatan Akar yang berlokasi di Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan karena kondisinya kurang terawat.

“Jembatan Akar itu unik banget karena terbentuk dari akar-akar pohon yang berusia ratusan tahun, saling mengikat, dan jadi sebuah jembatan. Tapi itu loh kondisinya nggak terawat dan kotornya luar biasa. Saya rasa kurang ada koordinasi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerahnya untuk tempat-tempat wisata,” ungkap perempuan kelahiran Jakarta, 29 November 1971.

Selain keindahan alam dan kegundahan hatinya atas obyek wisata di Sumatera Barat tersebut, kakak kandung Marsha Timothy ini juga membagi pengalamannya hingga tiba di Seruwi, Papua.

“Seruwi juga indah, masih alami. Oh ya, di sana sudah relatif aman untuk listrik, jadi kebutuhan syuting di sana bisa dilaksanakan dengan baik. Tapi, masalahnya adalah alat transportasi. Kami hanya bisa lewat laut dan waktu saya ke sana itu perjalanannya makan waktu sampai 7 jam, pulangnya lebih parah, sampai 12 jam karena ada badai, padahal perjalanan normal hanya 3 jam. Saya kebayang gimana yah penduduk asli sana kalau untuk keluar dari daerahnya aja membutuhkan waktu cukup lama,” tambah istri dari Luki Wanandi tersebut.

Di akhir kisahnya, penyuka masakan padang ini bertutur kalau dirinya sangat mencintai Indonesia dan tidak akan lelah melakukan perjalanan, baik untuk berwisata maupun yang berhubungan dengan pekerjaannya sebagai produser film. «[teks @boyMALI | foto @maaymayang]

SHARE