Sastra Korea dan Jalinan Kebudayaan

0
363

Seri Sastra Korea abad ke-20 Jembatan kebudayaan Korea dan Indonesia

sastra kor

Kalau urusan nama-nama boyband atau girlband asal Korea Selatan, pasti banyak yang tahu. Nama-nama aktor atau judul drama dan film asal Negeri Gingseng itu juga pasti banyak yang hafal, bukan?

Menyukai, bahkan menggilai Korean Pop sedikit banyak akan membuat sebagian orang juga menjadi tertarik dengan kebudayaan asal Korea. Tapi kalau ditanya mengenai karya sastra asal Korea Selatan, sejauh manakah Anda mencintainya?

Tak jarang para penyuka budaya Korea ini sampai mempelajari Bahasa Korea yang terbilang rumit, karena menggunakan huruf yang bernama Hangeul. Dan jika sudah menyukai bahasanya, tak ada salahnya juga untuk mengetahui sastra dari negeri gudangnya boyband dan girlband tersebut.

Berawal dari sebuah pertemuan, Kim Hyun Joo mendapat kesempatan besar menjadi koordinator atas lahirnya sebuah karya sastra. Buku yang diberi judul Seri Sastra Korea Abad ke-20 ini menggabungkan dua kebudayaan antara Korea Selatan dan Indonesia.

Sang koordinator berpikir dengan lahirnya karya ini menjadi kesempatan luar biasa untuk pertukaran kebudayaan antara Korea Selatan dan Indonesia lewat keindahan sastra. Hal ini penting karena dengan pertukaran kebudayaan ini akan memperluas pemahaman antar-kedua negara.

Selanjutnya, Indonesia dan Korea Selatan dapat memperkuat hubungan di berbagai lini. Dengan buku ini juga dapat menyalakan gelombang Korea yang baru, bernama ’K-Literature’ di Indonesia.

Buku yang dirilis pada Oktober 2014 ini terbagi dalam dua jilid dan memuat karya sastra dari beberapa nama yang berbeda. Mereka antara lain Cho Myung Hee, Yi Sang, Yi Kwang Su, dan Kim Dong In. Penulisannya dibuat ke dalam tiga bahasa, yaitu Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar utama, kemudian diikuti Bahasa Inggris dan dilengkapi karya aslinya dalam Bahasa Korea.

Dalam pembuatannya, buku ini melibatkan sejumlah nama penerjemah. Dalam Bahasa Inggris, tim penerjemah antara lain Peter Lee, Stephen Epstein, Kim Mi Young, Jack Jung dan Janet Hong. Sedangkan tim penerjemah Bahasa Indonesia antara lain Kim Hyun Joo, Tommy Christomy, Laurentia M. N Djajadiningrat, dan Budi M. Suryani.

Secara umum, buku ini menggambarkan betapa sulitnya hidup di masa rayat menjadi pion. Yang digerakkan oleh kaum elit untuk kepentingan pribadi mereka. Penurt Laurentia, salah seorang penerjemah, tokoh utama di buku ini merupakan seorang petani muda yang memiliki kebaikan, kekuatan hati dan heroism serta kedisiplinan dalam hidup. Apakah Anda tertarik untuk kebudayaan Korea Selatan yang satu ini? « [teks & foto @nandiyanti]

SHARE