Monolog 3 Perempuan, Cerita Wanita Indonesia

0
3250
MONOLOG 3 PEREMPUAN (1) 2

Pada akhirnya wanita harus bangkit

Monolog 3 Perempuan

Srintil, Anneliesse, dan Nayla merupakan sosok perempuan yang berada di beda zaman dan latar kehidupan. Uniknya, mereka memiliki pengalaman yang sama. Tentang bagaimana mereka dipaksa dan akhirnya meninggalkan kehidupan mereka untuk menemukan jati diri atau sekadar untuk tumbuh kembang layaknya perempuan normal, walaupun sulit.

“Pertunjukan monolog ini membawa penonton pada 3 kisah perempuan yang berada dalam ruang dan zaman yang berbeda, namun menghadapi permasalahan yang mengikat mereka satu sama lain, dan menunjukkan refleksi wajah Indonesia,” ujar Happy Salma tentang pagelaran teater tersebut.

Srintil diceritakan melalui sosok ibunya, Nyai Kertareja yang memaksanya untuk meneruskan tradisi menjadi seorang penari ronggeng, sehingga membuat Srintil harus mengorbankan tubuhnya untuk memuaskan nafsu penonton sehabis menari. Kemudian kisah dari Anneliesse, perempuan keturunan bangsa Eropa dan pribumi, harus mengikuti aturan bangsa Eropa untuk memenuhi kehidupannya.

Padahal jiwa sebenarnya yang melekat adalah jiwa pribumi yang diturunkan dari ibunya, Nyai Ontosoroh. Anneliesse harus menghadapi kakaknya yang kejam, Robert, yang mewarisi sifat dari ayahnya seorang keturunan bangsa Eropa. Bukan hanya itu, ia bahkan diperkosa Robert.

Srintil [Arlin Putri], Ronggeng Dukuh Paruk
Srintil [Arlin Putri], Ronggeng Dukuh Paruk
Dan Nayla, yang sejak kecil mengalami penyiksaan yang dilakukan ibunya sendiri. Sampai besar, ia sangat membenci ibunya karena trauma yang sangat mendalam. Ia diperkosa pacar ibunya saat umurnya masih 9 tahun. Ia tak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah, bahkan tak pernah mengenal ayah kandungnya. Sehingga ia tumbuh dan bekerja dalam lingkungan yang tidak sehat, dan memilih jalan hidupnya menjadi seorang lesbian.

Penggalan tiga kisah itu adalah bagian dari yang ditampilkan pada pementasan Monolog 3 Perempuan yang diproduseri Happy Salma. Ini merupakan gabungan fragmen dari beberapa karya sastra Indonesia yang mengetengahkan perempuan sebagai tokoh sentral yang membangun cerita. Karya sastra tersebut adalah Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, dan Nayla karya Djenar Maesa Ayu.

Peristiwa dalam fragmen Bumi Manusia diceritakan melalui mata seorang Anneliesse, anak Nyai Ontosoroh. Fragmen Ronggeng Dukuh Paruk akan mengetengahkan sosok Nyai Kertareja, antagonis yang menjadi ‘germo’ bagi Srintil, penari yang menjadi tokoh utama novel ini.

Fragmen terakhir menengahkan Nayla yang merupakan korban kekerasan seksual yang dialami sejak dini di rumahnya sendiri. Lakon itu diperankan Olga Lydia sebagai Anneliesse, Pipien Putri sebagai Nyai Kertareja, Arlin Putri sebagai Srintil, dan Sha Ine Febriyanti sebagai Nayla.

Nyai Kertareja [Pipien Putri], Ronggeng Dukuh Paruk
Nyai Kertareja [Pipien Putri], Ronggeng Dukuh Paruk
“Pertunjukan ini ada korelasinya antara perempuan satu dengan yang lain. Walaupun dengan jaman yang beda, latar yang beda tetapi memiliki pesan tentang sexual abuse. Kebetulan memang korelasinya benang merahnya sama dan di akhir bagaimana mereka harus bangkit,” tutur Sha Ine Febriyanti yang hanya latihan selama 6 hari untuk pementasan Monolog 3 Perempuan ini.

Pertunjukan berlangsung selama 1,5 jam mulai pukul 15.00 pada Sabtu, sepekan lalu di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta. Para perempuan ini membawa penonton untuk melihat beragam konflik yang dihadapi para wanita Indonesia yang hidup di zaman berbeda. Melalui pertunjukan yang disutradari Agus Noor ini, penikmat seni diajak menyelami apa dan bagaimana sesungguhnya menjadi perempuan itu.

Pertunjukan ini adalah salah satu rangkaian acara untuk memperingati ulangtahun pertama Galeri Indonesia Kaya [GIK] dengan mengangkat tema Indonesia Kreatif, Indonesia Keren.

“Happy Salma merupakan seniman yang mendedikasikan dirinya dalam dunia seni dan budaya Indonesia dan selalu tampil dengan beragam ide kreatif. Bersama Agus Noor, mereka mengangkat kisah perempuan yang tertindas dan bagaimana ia mampu bangkit dari penindasan tersebut.

Nayla [Sha Ine Febriyanti]
Nayla [Sha Ine Febriyanti]
Pertunjukan yang ditafsirkan dari 3 novel karya sastra Indonesia ini menjadi satu pertunjukan yang mengedukasi dan menginsiprasi,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Dewi dan Mita yang berprofesi sebagai pegawai swasta yang ikut menonton pementasan itu mengatakan, bahwa penampilan Monolog 3 Perempuan ini sukses dengan penghayatan yang dalam, jalan ceritanya pun sesuai dengan novel yang mereka ikuti, yang menjadi latar cerita pementasan ini.

“Jarang-jarang Indonesia punya tayangan [pementasan] yang bagus. Cerita yang paling mengesankan itu, Nayla, tetapi yang paling dapet sad story-nya itu, Anneliesse. Semoga Galeri Indonesia dapat terus meningkatkan kebudayaan tiap daerahnya,” tegas Dewi dan Mita saling menambahkan. « [teks[email protected] | foto dok Galeri Indonesia Kaya]

SHARE