Makna Jepang dalam Tokyo – Mercedes-Benz Fashion Week

0
221

Bagaimana cara Mercedes-benz mengimplementasikan Jepang?

MERCEDES BENZ TOKYO FASHION WEEK

Mewah. Kata kunci tersebut sudah tentu hadir dalam Mercedes-Benz Fashion Week. Sebuah minggu pagelaran busana yang digelar secara rutin tiap tahun, di berbagai kawasan besar dunia.

Mendapuk serangkaian desainer terkenal asal Jepang — sebutlah Tamae Hirokawa [SOMARTA] dan Toshikazu Iwaya [DRESSCAMP] pada hari pertama, disusul dengan desainer ternama Jepang lain pada hari kedua: Bunzo Kadono [AMBELL], Yasutoshi Ezumi, Ritsuko Shirahama, dan Horihata&Sekiguchi [MATOHU] — maka pantaslah bahwa dalam publisitas yang dikeluarkan oleh Mercedes, kental sekali kehadiran nuansa Jepang.

Namun ketika mendengar kata Jepang, mungkin ini adalah tiga hal yang muncul di benak Anda: kimono, sakura, dan nuansa tradisional-oriental. Tapi itu, Jepang konvensional. Kini Jepang sudah punya banyak wajah.

Mercedes-Benz Fashion Show 2015: Desain sebagai sebuah teks.

Jadi, ada beberapa definisi yang berbeda tentang Jepang, di mata para desainer asli Jepang. Sementara Yu Amatsu [dengan Hanae Mori], mendefinisikan Jepang sebagai sesuatu yang lembut dan natural [lewat penggunaan motif floral dan sutra], Jei Kim [desainer keturunan Jepang-Korea], melihat Jepang sebagai negara yang identik dengan hal yang manis dan imut [semacam kartun dan komik cantik, dengan aksen rok rimpel serta sweater kasual].

tokyo-fashion mercedes benz week

fashion-tokyo-2

Namun lain halnya dengan Toshikazu Iwaya. Anda ingat dengan Shibuya? Gaya tabrak warna, tabrak motif, hingga tabrak jenis, yang bertebaran di sepanjang jalan teramai Tokyo tersebut. Saking campur aduknya, kita jadi tak bisa memahami: tema apa yang tengah mereka gunakan? Natural? Rock? Elegan? Edgy? Begitulah Harajuku menjadi sebuah identitas yang baru. Seperti dalam DRESSCAMP besutan desainer eksentrik tersebut: Harajuku, but much softer. Jadi tak terlihat layaknya Harajuku “militan” yang seperti satu pak cat air.

dresscamp-tokyo1

Kalau menurut G-readers, Jepang itu, seperti apa ya? Natural? Cute? Atau campur aduk? Seperti Tokyo pada pagi hari yang sibuk? Kalau Anda mendefinisikannya semacam desain konvensional, mungkin Anda salah tempat. Karena seperti Mercedes-Benz yang senantiasa berkembang, seperti itu pulalah budaya Jepang.« [teks@intankirana | foto image net]

SHARE