Yang Ketu7uh

0
103

Presiden ketujuh dan pekerjaan di depan mata

Saat tulisan ini dibuat, baru saja diselenggarakan pawai arak-arakan mengiringi Presiden RI ke-7, Joko Widodo dan Wakil Presiden RI ke-12, Muhammad Jusuf Kalla. Melalui siaran langsung di televisi, tampak sebagian rakyat Jakarta tumpah ke jalanan menyambut dilantiknya kepala negara dan kepala pemerintahan yang baru.

jokowi

Beberapa awak redaksi Ghiboo juga ikut dalam kemeriahan ini. Yeah, sebenarnya sih, antara kebagian tugas liputan, bosan di kantor terus, dan penasaran ingin melihat keramaian di luar sana. Bak tak ingin kehilangan momen besar abad ini, mereka berlomba-lomba untuk segera berada di tepi jalan dan mengabadikan saat RI 1 dan RI 2 yang baru lewat di depan mereka.

Saya, tidak termasuk yang ikut-ikutan acara itu. Bukan cuma karena sedang tidak enak badan, tetapi juga karena tak minat larut dalam euforia dan histeria massa. Oke, ini momen bersejarah bagi bangsa ini. Yak, benar, ini adalah tonggak peringatan bagi perubahan Indonesia. Dan ada banyak asa dan doa di luar sana yang berharap pergantian tampuk pimpinan negeri ini membawa angin segar untuk kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Meski masih saja ada bentuk-bentuk ketidakpercayaan, sinisme, sarkasme, dan segala cibiran untuk pemegang mandat rakyat ini, hendaknya, kita semua, sebagai warga negara, senantiasa menjunjung tinggi kedaulatan yang telah sama-sama kita sampaikan melalui pemilihan umum –baik untuk legislatif maupun untuk presiden dan wakilnya– beberapa waktu lalu. Kecuali, Anda termasuk yang memilih untuk tidak memilih. Dan karena setiap pilihan punya konsekuensi, saya hendak mengucapkan selamat bagi Anda yang golput. Karena Anda hanya akan mendapat konsekuensi, tanpa bisa punya suara lagi, karena hak yang seharusnya Anda gunakan, sudah Anda sia-siakan.

Kembali ke perayaan atas dilantiknya presiden dan wakil presiden baru, saya memang tak hendak larut ke dalamnya. Ada banyak pekerjaan lain yang bisa dan harus saya selesaikan, ketimbang ikutan dalam hore-hore yang sudah lewat. Dan saya pikir, selayaknya kita semua juga lebih memfokuskan diri untuk menyelesaikan banyak pekerjaan yang tertunda di negeri ini. Masih banyak tikus-tikus koruptor yang harus diberantas, masih banyak sistem yang harus diperbaiki, masih banyak infrastruktur yang harus dibangun dan disediakan, masih banyak asset-asset yang harus dirawat, dijaga, dan dipelihara.

 

Jalan kita masih panjang, tugas kita masih banyak. Mari singsingkan lengan, dan bahu membahu demi kemajuan negeri ini. « [foto courtesy of Fajar Subechi | kover dok Yang Ketu7uh]

 

Salaam,
@hagihagoromo

 

~tentang judul~
Yang Ketu7uh adalah sebuah film dokumenter besutan Dandhy Dwi Laksono dari rumah produksi Watchdoc. Film yang melibatkan sembilan belas jurnalis dan videografer ini berisi potongan-potongan rekaman kejadian atau footage-footage selama masa pemilu pada tahun 2014 ini. «

SHARE