Naked Traveler, Seperti Apa Dia?

0
16231

Bukunya telah banyak menginspirasi orang untuk bepergian

TrinityAda yang sudah baca The Naked Traveler? Keren ya, membuat Anda terpacu untuk segera berkemas dan berkelana. Tapi, pengin secepatnya melakukan itu, ehh terkendala dengan pekerjaan yang ada. Ugh...

Lalu, bagaimana Trinity sebagai penulis The Naked Traveler bisa sampai seperti itu?

Kami akan beberkan kisahnya. Kisah kenapa ia bisa seperti itu, sebuah hidup yang Trinity sebut sebagai “Now I’am living my dream“.

Masa kecil

“Karena memang keluarga semua suka jalan-jalan, jadi mulai jalan-jalan sudah dari kecil. Waktu itu masih dianterin sama orangtua, terus ditinggalin, terus dijemput lagi. Nah kalau mulai sendiri itu sejak SMP lah. Dan kayanya dulu SMP kelas 1 aja aku udah naik pesawat sendiri kok, ‘kan bisa dititipin sama pramugari. Kalau masih kecil itu jalan-jalannya masih di Indonesia aja.”

Dunia kuliah

[Trinity lulus sebagai Sarjana Komunikasi di Universitas Diponegoro]. “Aku aktif di mapala waktu kuliah. Jadi sering ke gunung dan pantai.”

Dunia kerja

“Aku bekerja di perusahaan telekomunikasi. Dan sejak sudah punya duit sendiri, jalan-jalannya pas cuti. Tapi, udah tiga tahun lebih di situ kayanya nggak ada kemajuan. Bosan begini-begini terus. Jadi 2007 aku sudah nggak ngantor lagi, memilih mengambil beasiswa di luar negeri, di Filipina selama setahun. Nah, tanpa disangka-sangka, pas aku balik, buku aku yang diterbikan selagi aku kuliah, hits. Langsung banyak wawancara dan segala macam.”

[eeit kok bisa seperti itu memang kapan mulai bikin buku]  Mulai nulis

“Sudah lama banget, karena memang dulu kan belum ada blog, jadi nulis sendiri aja mulai dari diary.” [sampai ada temannya menyarankan untuk membuat blog. Dan ternyata cerita-cerita wisatanya banyak menarik pengunjung. Sehingga muncul gagasan untuk menjadikannya buku]. “Jadi 2005 itu udah bikin blog. Dan di 2007 itu udah ada buku aku diterbitkan [The Naked Traveler].”

Traveling sebagai pekerjaan

“Dari banyaknya permintaan wawancara, jadi pembicara, dan udah dapat masukan dari nulis, akhirnya lama-lama mikir, kayanya oke juga nih kalau kita berhenti. Dan berhentilah sejak itu. Dan memang dari dulu udah bercita-cita bagaimana caranya nggak usah kerja kantoran, tapi dari jalan-jalan dapat duit. Dan sekarang udah kejadian.”

[The Naked Traveler merupakan plesetan dari nekat traveler] Seberapa nekat

“Menurut aku sih semuanya biasa-biasa aja. Tapi kata orang nekat. Mungkin gini ya, karena aku cewek mungkin lebih terkenal. Karena aku duluan jalan dibanding semua orang. Karena aku mulai jalan-jalan di saat belum ada internet dan belum ada handphone. Bayangin setua apa saya.

Terus karena di Indonesia ini masih paternal banget. Sehingga orang menganggap, wiih cewek berani banget nih jalan-jalan sendiri. Padahal menurut aku sih biasa-biasa aja, karena di keluarga aku hampir begitu semua cewek-ceweknya. Mmmm tapi mungkin ada orang yang nggak senekat aku, misalnya kaya bungy jumping dari Macau Tower , aku udah pernah. Aku suka yang ekstrem, tapi kalo ada ya, bukan yang nyari-nyari.”

Total negara

“Sudah jalan-jalan lebih dari 20 tahun dan sudah 64 negara.”

Cara menghemat biaya perjalanan

“Aku selalu naik public transportation, seperti bus atau apa. Kaya kemarin satu benua Amerika Selatan jalan naik bus. Nginap di hostel yang sekamar rame-rame gitu. Makanan cenderung masak, itu kalau perjalanannya lama ya. Kalau di Asia doang, makanan masih murah, masih beli.”

Kendala bahasa

“Kan ada bahasa tubuh, kalau misalnya ke negara yang bukan berbahasa Inggris, pake bahasa Indonesia. Karena toh kalo pake bahasa Inggris mereka juga nggak ngerti, ha ha ha. Daripada cape, “eh sini berape? Bangke lo mahal bener“, [ha ha ha, yang nanya ngakak], kan nggak ngerti juga dia.”

Menghindari kriminalitas

“Kuncinya, mengikuti kata insting. Bila orang itu kayanya bahaya, tinggalin. Terus kita juga nggak ngundang lah, nggak pake perhiasan, nggak pake baju kaya ‘cabe-cabean‘ gitu.” [ha ha ha, ketawa lagi].

[dalam suatu kesempatan ia pernah mengungkapkan terkena kena demam berdarah, malaria, dan tipes saat traveling] Sakit terparah saat traveling

Nggak sih itu udah paling parah. Malaria itu kan inkubasi 10 tahun. Jadi masih kumat-kumat terus. Pernah juga masuk UGD, tapi nggak sampe nginep.”

Dampak traveling bagi Triniti

“Yang terbesar adalah ‘Now I’am living my dream’“.

Saran untuk traveler

“Aku selalu bilang, worrying gets you nowhere. Kebanyakan kita khawatir mulu, nanti gini, nanti gitu. Bagaimana mempercepat ke luar negeri? Pokoknya punya paspor dulu. Bagaimana kita mempercepat untuk jalan-jalan? Punya tiket dulu. Abis itu, ntar kumaha engke wae [lihat aja nanti]”.

Satu hal yang juga diungkap Trinity adalah, bahwa ayah ibunya pertama kali bertemu di kereta [pantes ya anak-anaknya suka jalan-jalan, G-Readers].

So guys, are you living your dream now? « [teks & foto @bartno]

SHARE