Dian Pelangi, Kerja Sambil Silaturahmi di AS

0
7251

Ketika di AS, Dian Pelangi sempat mengalami kejadian kurang mengenakan

dian2

Amerika Serikat [AS] memang kerap menjadi tujuan saat kita hendak melakukan travelling. Bagi desainer busana muslim, Dian Pelangi, mengunjungi negara dengan penduduk muslim sebagai minoritas menjadi pengalaman yang tak mudah.

Kegiatan Dian [begitu dia biasa disapa] selama di AS bukan hanya sekedar mengenalkan hasil rancangannya dalam gelaran fashion show bertajuk Washington Haute & Modesty Fashion Show DC Fashion Week, di Washington DC. Ia juga menjadikan Amerika sebagai tempat wisata rohani.

“Iya, aku baru pulang dari Amerika, tujuan utamanya ngenalin karya busana muslim aku pas ada event fashion show di sana,” ujarnya,  “Pertama sih agak ragu, tapi ternyata muslim di sana growing banget. Orang nggak cuma nyari busana muslim, tapi makanan halal pun ternyata jadi tren baru,” pemilik nama lengkap Dian Wahyu Utami menambahkan alasan ke negeri Paman Sam kepada Ghiboo.

Perempuan kelahiran Palembang, 14 Januari 1991 mangatakan jika di Indonesia busana muslim sudah berkembang dari 25 tahun lalu, maka negara yang dipimpin oleh presiden Barrack Obama ini baru memulainya. “Di Amerika belum ada butik spesifik baju muslim, makanya aku tertarik banget saat dapat tawaran untuk fashion show.”

Selain peragaan busana yang memang sudah menjadi bagian hidupnya, Dian juga menjadi saksi diresmikannya sebuah bangunan mesjid Imaam Center milik komunitas orang Indonesia di AS. Bangunan bekas gereja tersebut menjadi mesjid pertama di kawasan Maryland.

“Sempat shalat di Mesjid pertama, dan satu-satunya milik orang-orang Indonesia. Terus sempat selfie juga sama pak SBY [Susilo Bambang Yudhoyono-red] karena beliau yang meresmikan. Bangunannya besar, mirip White House, moderen, dan aku ngerasa nyaman banget di sana. Oh, tapi di mesjid ini belum bisa adzan yang pakai pengeras suara kayak di Indonesia. Mungkin ini untuk menghargai umat lain di sana,” ceritanya semangat.

Fashion desainer yang memilih fokus menggunakan kain songket sebagai bahan utama rancangannya pun tetap melakukan ‘ritual’ favoritnya jika berkunjung ke luar negeri, yakni berkumpul bersama dengan perempuan-perempuan muslim setempat.

“Pengalaman nggak asik terjadi ketika aku ngadain piknik kecil dengan komunitas muslim di New York. Ada seorang pria yang marah-marah gitu pas lihat teman kami pakai jilbab motif mirip bendera Amerika, bahkan dia sampai nyuruh hijabnya dibuka. Untungnya ada polisi datang dan semua bisa terkendali,” kenangnya.

Salah satu lulusan terbaik dari dari Ecole Superieur des Arts et Techniques de la Mode [ESMOD] pada 2008 menyebut dengan mengundang komunitas muslim di negara atau wilayah yang ia datangi dapat berbagi ilmu serta berbagai pengalaman hidup.

“Setiap ke suatu tempat, aku sebisa mungkin kumpul sama teman-teman baru di sana, dari situ kita bisa sharing pengetahuan yang kita punya. Aku akhirnya juga bisa tahu mereka tertariknya sama apa, gaya busananya, jadi buat aku satu paket lengkap, kerja, liburan, dan silaturahmi sesama muslim,” pungkasnya. « [teks & foto @boyMALI]