The Art of Judging

0
200

Mari kita menilai lebih dalam lagi

Mereka bilang, don’t judge a book, by it’s cover. Ini ungkapan yang bijak. Karena banyak hal tidak selalu seperti yang kelihatan di luarnya. Tetapi benarkah tampilan sesuatu tidak serta merta merupakan cerminan dari esensi yang terkandung di dalamnya? Dan oleh karenanya, kita bebas melakukan judging terhadapnya?

book2Tentu saja, pikiran ini mencuat gara-gara pro kontra terhadap deretan menteri yang nama-namanya belum lama ini wara-wiri di berbagai media. Mereka –yang tergabung dalam Kabinet Kerja– adalah nama-nama yang terpilih oleh duo Jokowi – JK untuk membantu membenahi kinerja pemerintahan yang baru saja berjalan dua pekan ini.

Banyak yang tidak percaya dengan sejumlah nama dalam deretan menteri itu. Mereka dinilai berdasarkan track record dan reputasi kerja di tempat lama, dicibir dari tingkat pendidikannya, dihujat karena rajah di kulitnya, bahkan didakwa gara-gara kebiasaan merokoknya. Meski demikian tak sedikit yang pro mereka, dan berbalik menghujat para penghujat.

Saya termasuk golongan yang tak mau terkecoh oleh penampilan luar. Buat saya, penampilan selalu menipu. Yang harus dilihat adalah segala sesuatu di balik polesan dan riasan di hadapan kita. Meski begitu, tak ada cara instan untuk bisa mencapai kemampuan see thru atau melihat beyond dari yang terlihat sekilas. Perlu jam terbang, kejernihan hati tanpa dilandasi prasangka apapun, serta kejujuran.

Meski saya bilang tadi bukan termasuk golongan penilai cepat, saya tak juga hendak menghujat siapapun yang kerap terjebak dengan tampilan luar. Boleh jadi, memang mereka belum mencapai tingkat kematangan untuk menilai sesuatu. Siapa kita yang bisa memastikan sesuatu hanya dari apa yang terlihat sebelum terbukti demikian? Bukankah dunia ini diciptakan sedemikian rupa dengan ragam jenis isinya yang membuatnya menjadi menarik untuk ditelaah?

Jadi, jika kita kembali ke urusan nama-nama menteri Kabinet Kerja tadi, maka saran saya adalah berilah mereka ruang untuk membuktikan reputasi masing-masing. Lagi pula, jika memang ada di antara mereka yang punya rapor merah dan punya jabatan basah, bukankah kita punya seperangkat sistem untuk mengawasinya? Apa? Anda bilang, tidak percaya pada sistem yang kata Anda sudah amat sangat corrupt ini? Jika demikian, maka pilihan Anda hanya dua: take it [and fix it] or leave it. « [foto sxc.hu]

Salaam,
@hagihagoromo

SHARE