Batik Pantai Gadis Ceria Duet Iwet Ramadhan – Andien

0
651
Iwet Ramadhan di JFW 2015
Iwet Ramadhan di JFW 2015

Ada makna khusus dalam pemilihan batik Madura oleh Iwet Ramadhan dan Andien Aisyah

Iwet Ramadhan di JFW 2015Pada momen apakah Anda mengenakan batik? Saat menghadiri undangan pernikahan? Atau saat kantor mewajibkan Anda? Batik, dengan keagungan ukirannya, memang biasa dikenakan pada acara-acara formal.

Maka, ketika Iwet Ramadhan dan Andien Aisyah berkolaborasi membentuk sebuah rancangan batik ceria, hadirin pun serempak terkejut. Pertama, karena ternyata keduanya memiliki kemampuan desain terpendam, dan yang kedua, rupanya batik dapat memancarkan aura ceria. Dan untuk memancarkan keceriaan itu, Iwet dan Andien mempercayakan rancangannya pada motif batik Madura.

“Wanita itu makhluk yang lembut. Namun dalam kelembutan itu, ada kekuatan. Makanya, kami pun berpikir apa [motif] yang bisa menggambarkan hal tersebut. Kami pun akhirnya menjatuhkan pilihan pada batik Madura,” kata Iwet di acara Jakarta Fashion Week 2015 di Senayan City, Jakarta.

Batik Madura, gaungnya memang tak sebesar batik Solo atau Pekalongan. Namun dalam desain tersebut, ada makna khusus. Banyaknya titik-titik putih yang tersebar pada permukaan batik menggambarkan garam. Lantaran, Pulau di Jawa bagian Timur ini terkenal sebagai penghasil garam.

Iwet Ramadhan di JFW 2015

Selain itu, penggunaan warna merah, hijau, biru, dan kuning, menggambarkan Pulau Madura itu sendiri. Biru, lautan luas yang mengelilingi Pulau Madura, memberikannya cukup garam. Hijau, menggambarkan kesuburan rimbunnya Pulau Madura yang kaya. Kuning, serupa padi yang siap dipetik. Sementara itu, merah menggambarkan keberanian rakyat Madura.

Jadi, layaknya wanita, ia terlihat lembut seperti garam, teduh seperti subur pepohonan. Namun ia juga memiliki keberanian untuk memberikan manfaat. Seperti padi dan garam, yang tak terlepaskan dari kehidupan kita.

Batik ceria, gadis ceria

Yang biasa kita lihat dalam sebuah runway, ialah para model yang berjalan dengan anggun. Wajah dingin, sudah tentu. Namun seperti sebuah kejutan saat mengunyah volcano cake, semacam itulah yang dipersembahkan oleh duo penyiar-penyanyi ini.

Lampu dipadamkan. Awalnya, kami mengira bahwa dengan tema satu bumi, serta konsep wanita kuat, keduanya akan mempersembahkan sebuah pagelaran singkat yang anggun. Begitu anggunnya hingga terasa sunyi. Tetapi dengan alunan lagu “Pesta”-nya Harvey Malaihollo, para model, dengan shift dress  ala noni belanda [namun berhias batik madura], keluar dengan wajah riang, gaya yang ceria.

Iwet Ramadhan di JFW 2015

Tambahan aksesori klederdracht [topi ala wanita Belanda], seolah mempertegas kesan seorang gadis ceria. Dan kejutan yang semakin menambah meriah fashion show ini adalah, Maudy Koesnaedi, yang keluar dengan rancangan mereka! Even she’s already 30something, she looked very, very cute and nice!

Entahlah. Batik seolah sulit dikombinasikan dengan sesuatu yang berasal dari luar. Namun melalui pagelaran ini, Iwet dan Andien membuktikan bahwa batik juga bisa ceria dan playful, serta bersahabat erat dengan busana ala Belanda.

Jadi, kekuatan apakah yang dimiliki oleh perempuan? Kalau menurut Iwet dan Andien, barangkali keceriaan adalah salah satu kekuatan terbesar wanita.« [teks @intankirana | foto @bagusdimsum]

Iwet Ramadhan di JFW 2015

Iwet Ramadhan di JFW 2015

SHARE