Kesederhanaan Japan Fashion Week di Jakarta

0
317
Japan Fashion Week

Jepang memang tidak suka main motif. Mereka suka bermain bahan

Hal tersebut semakin ditegaskan dalam Japan Fashion Week yang hadir di Indonesia. Iya, hadir. Dalam Jakarta Fashion Week 2015 di Senayan City, Jakarta. Seolah seperti pertukaran pelajar, ya? Tetapi berkat kerjasama yang dibangun oleh Fashion Link [Kementerian Ekonomi], maka kita bisa menikmati karya-karya gemulai beberapa desainer Jepang. Di antaranya, Mannequins Japon, Motonariono, dan Somarta.

Ketiganya memang lini yang berbeda. Mannequins Japon yang diusung Hideaki Sakaguchi, Motonariono-nya Motonari Ono, dan Somarta by Tamae Hirokawa. Namun sebetulnya, ketiganya satu nafas: mereka menampilkan keanggunan dan kesederhanaan.

Sederhana di sini, maksudnya tak banyak bermain motif dan jahitan. Pada Mannequins Japon, para model berjalan memperagakan busana-busana formal. Semacam kemeja resmi dengan celana bahan. Atau rok satin hingga lutut. Yang agak sedikit “rebel”, mungkin coat.

Namun coat juga tak bisa dibilang dekonstruktif, mengingat coat yang dirancang oleh Sakaguchi tidak banyak bermain jahitan. Warna-warnanya pun aman dan sendu: putih tulang, hijau tua, hitam, dan coklat.

Mannequins Japon

Japan Fashion Week Japan Fashion Week Japan Fashion Week

Sementara itu, Motonari Ono lebih girly. Menggunakan konsep shift dress dan cocktail dress, juga warna-warna ala wanita semacam maroon dan nude pink, gadis-gadis peraga semacam menampilkan kesan modern glam, para wanita yang siap berpesta, tetapi pesta eksklusif. Namun mengenai motif, lagi-lagi Ono tak jauh beda dengan Sakaguchi: senyap. Paling-paling, yang agak meramaikan, sekadar renda pada belt ataupun kerah.

Namun Somarta, yang tampil belakangan, mungkin paling kaya. Pasalnya, ia mulai memadukan shift dress dengan stocking renda. Atau rok rempel dengan motif abstrak, semacam semi-geometris juga semburat alam [bunga dan dedaunan]. Namun untuk warna, dengan merah maroon, hitam, oranye tua, juga coklat krem, ada kesan nude. Seperti Tamae mengisi desainnya dengan kesunyian ala musim gugur. Jadi, kalau dibandingkan dengan kedua rekannya,Somarta lebih ekspresif memang. Tapi, tetap saja, sepi.

Motonariono

Japan Fashion Week Japan Fashion Week

Scarf, hijab?

Iya, beberapa rangkaian koleksi trio Jepang ini memang bukan busana muslim. Namun entah mengapa, scarf difungsikan semacam jilbab paris segiempat. Mengapa kami berkata begitu, karena scarf ini tak sekadar diletakkan di kepala layaknya gadis gembala ataupun les femmes de 80e. Aplikasi scarf ini betul-betul selayaknya jilbab standar para wanita muslim yang biasa kita temui dalam keseharian.

Mungkin saja, ketiganya terinspirasi dari trend jilbab dan hijab yang mulai mendunia. Namun alasan yang paling cocok, barangkali karena konsep jilbab paris ini meneduhkan. Yap, ketiga desainer ini memang cenderung tak suka bermain warna. Mereka tak ingin menampilkan kesan gadis playful atau rebel. Seperti kebanyakan desainer haute-couture yang wara-wiri di Japan Fashion Week, yang lurus, elegan, dan formal.

Hal ini memang sedikit membosankan, mungkin. Namun memang kemeriahan hanya indah dipandang di catwalk saja, bukan? Toh biasanya, busana yang kita kenakan dalam keseharian pun tak semeriah itu. Kita cenderung memilih busana yang proper, dengan bahan yang kuat. Seperti konsep busana Jepang pada umumnya. Tak terlihat meriah dan ramai, tetapi soal bahan, kualitasnya tak perlu ditanyakan. Satin kualitas tinggi, atau sutra, sudah sering jadi bahan utama. « [teks @intankirana | foto @bagusdimsum]

Somarta

Japan Fashion Week

Japan Fashion Week Japan Fashion Week tokyo fashion week somarta 1

SHARE