Six Strings dari Awal Hingga Satu Panggung

0
12036
Aksi 6 strings di TIM
Aksi 6 strings di TIM

Six Strings rampungkan konser bertajuk I Got Your Back pekan lalu

 

Aksi 6 strings di TIM

Enam musikus yang mahir memetik senar bersatu dalam Six Strings, Eross Candra, Dewa Budjana, Tohpati, Baim, Baron, dan Andre Dinuth. Mereka pada malam Kamis lalu, petikan senarnya berhasil merayu. Kami, tersenyum, terkagum, tertawa, dan sangat terhibur dengan konser perdana Six Strings di malam itu.

Tapi sebelum bercerita mengenai konser ‘istimewa’ itu, kami akan perkenalkan bagaimana Six Strings bisa terbentuk, yang ceritanya kami beber dari para personelnya.

Awal
Six Strings bermula dari grup WhatsApp. Pada mulanya terdiri dari Baron, Dewa Budjana, dan Tohpati. Awalnya ini grup belanja equipment [seperti ampli], me-review alat, curhat, dan diskusi alat. Lalu kemudian Tohpati meluncurkan ide. “‘Gimana kalau bikin satu lagu aja, terus di-upload di iTunes?” akhirnya semua setuju. Lalu kemudian semua sepakat untuk membuat suatu album.

Baim:  “Saya paling belakang mungkin masuknya. Kalau menurut saya, album ini sebenarnya sih bonus. Jadi daripada kami ngumpul doang, gosip, ngomongin orang, mending kami berbuat sesuatu. Dan jadilah satu album ‘gitu.”

BAD_4145-1-2

Dewa Budjana: “Benar grup ini awalnya berdiri dari beli satu ampli. Satu merek ampli sama nih berempat. Anehnya, pembayaran tax-nya berbeda-beda tiap orang. Tohpati nggak kena dan Baim kena yang paling mahal. Mungkin disesuaikan dengan kemampuan dompetnya, hahaha. Grup cowok harus punya hobi. Kalo kita nggak punya hobi belanja, nanti malah aneh-aneh ya, hahaha.

Andre Dinuth: “Kebetulan saya di sini yang paling muda. Jadi banyak belajar juga dari kakak-kakak di sini. Bukan hanya tentang gitar saja, tapi mengenai kebersamaan juga. Tetap dengan bermain kami harus tetap belanja, Mas Baim, dan Mas Eross ini sangat demen belanja. Jadi marilah kita main untuk tetap belanja.”

Tohpati: “Ini awalnya sebenarnya nggak sengaja. Gara-gara grup WhatsApp itu. Jadi saya di-invite sama Budjana, ‘Tot, mau beli ampli nggak? Mau, jadi gabung,’ Abis itu ‘Nuth mau beli ampli nggak? Mau!‘ Akhirnya beli ampli semua. Eh, Baron nggak beli ampli, hahaha.”

Eross: “Six Strings salah satu tempat saya berlindung dari istri saya, kalau mau belanja. Jadi saya mengatasnamakan mereka kalau saya mau belanja. ‘Itu sudah beli semua, masak saya nggak beli, oh ya udah.’ Jadi ya sangat fun sekali.”

Baron: “Sebetulnya teman-teman ini terbentuknya memang karena persaudaraan bukan hanya belanja ‘gitu. Bertemunya kita sempat tiga tahun lalu saat ngumpulin dana di Kompas.”

 

Album dan Konser
Baim: “Ini agak lumayan mendadak. Untung dibantu sama Pos Entertainment, juga Mas Dhani Pette. Kami cuma punya waktu 2,5 minggu kurang lebih untuk proses sampai jadi CD. Saya pun sebetulnya semi-semi pesimis dan nggak yakin awalnya. Cuma ternyata jadi. Terus penontonnya juga rame dengan promo yang sangat singkat ini. Hebat!

Dewa Budjana: “Album ini juga dibuat benar-benar gotong-royong. Dari mixing Baim sendiri, sampai mastering. Dan motret pun dia. Hasil fotonya ini semua hasil karya Baim. Latihan pun juga kadang-kadang bayar listrik, kami latihan di Baron harus bayar listrik, hahaha. Terus makan kadang-kadang Dinuth yang bawa, cuma kadang-kadang dia ngitung, hahaha.”

BAD_4180-1-2Baron: “Secara tidak disadari, saya bangga dengan teman-teman di sini. Kami kreatif. Kalau ngomongin biaya, mungkin semuanya keluar biaya. Tapi kami nggak memikirkan itu. Dhani Pette dengan kepercayaan ini, 2,5 minggu adalah hal yang ajaib. Sekarang jamannya adalah musisi nggak boleh tergantung dari industrinya. Kalau mau jualan, kita harus ikut jualan, dan dari sisi ini kami sendiri sudah jualan. Jadi mudah-mudahan ini akan memberikan inspirasi ke yang lainnya.”

 

Menyatukan Ego
Baron: “Jadi kami berenam selalu ngaca, yang memang biasa main blues dan jazz itu siapa. Seperti saya, Baim, dan Eross memainkan bersama ‘Juwita Malam’. dan Budjana, Tohpati, dan Dinuth memainkan ‘Maju Tak Gentar’.”

Tohpati: “Mainnya sih beda-beda, tak ada pemain gitar yang sama persis. Walaupun sama main blues, pasti punya rasa yang beda. Pada intinya di sini fun saja. Jadi nggak ada, Baron harus begini, Baim harus begini, semuanya bebas saja. Jadi azasnya kebersamaan, jadi happy-happy saja.”

Baim: “Jadi band ini sebenarnya adalah semacam tidak serius, tapi kami sangat serius dalam mengerjakannya, Basic-nya kami fun.”

 

BAD_4157-1-2Sensasi?
Baron: “Pertama kami main berenam dari job sebuah stasiun teve. Setelah itu kita main di tempatnya Indra Lesmana, RW [Red White Jazz Lounge], inisiatif sendiri. Terus juga kemarin quick count sama Kompas TV. Kami kaget, karena tidak ingin bikin sensasi apa pun. Justru ini mengalir begitu saja. Yang kami harapkan adalah kehadiran kami bisa memberi inspirasi.”

Dhani Pette: “Bagi saya, menjual atau tidak menjual, saya senang musik. Jadi ketika saya melihat ini musik berkualitas dan enak ditonton, dan pemainnya bisa mempertanggungjawabkan kualitasnya, saya senang. Apa pun yang terjadi di belakang, saya kerjakan. Alhamdullilah, kelihatannya semua berjalan bagus.”

 

Next
Baim
: “Kalau melihat dari cara belanja mereka, ke depannya kayanya masih panjang. Jadi lagu pun banyak. Maksudnya kita semua orang yang sangat produktif, Jadi untuk membuat lagu dan album berikutnya, saya rasa yang dibutuhkan bukan semangat, tapi waktunya saja. Semoga masih bisa bertemu secara intens. Karena jujur saja, masing-masing kita punya kesibukan yang cukup sulit untuk dipadukan.”

 

Jadi seperti apa konser mereka? Berikut ceritanya..

Six Strings tampil di panggung Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.

Pukul 8 malam adalah waktu yang tertera untuk memulai pertunjukkan enam gitaris handal Indonesia dalam Six Strings ‘I Got Your Back’. Mereka mengawalinya dengan tampil bersama dalam lagu “I Got Your Back”. Dari kiri ke kanan, Baim, Baron, Tohpati, Budjana, Dinuth, dan Eross, bergantian memetik gitar masing-masing melantukan lagu pembuka mereka dari 14 lagu yang akan dimainkan.

Tepuk tangan mengapresiasi mereka yang berhasil menghentak sunyinya malam itu lewat petikan senar yang asyik didengar. Kemudian Dinuth bermain solo dalam “Perpetual Hype”. Nuansa rock dengan tempo cepat dia bawakan dengan sempurna, “Maklum, darah muda,” ujarnya.

Lalu kemudian Eross tampil solo lewat lagu “Baby Crunch” yang katanya terinspirasi dari anaknya yang suka main gitar sambil guling-gulingan. Ucapannya itu membuat senyum kami terkembang. Tak hanya jago melentingkan senar gitarnya, ia juga sukses membuat tawa di ruang teater ini, saat Eross memanggil dua temannya, “Dia turut andil memporak-porandakan keuangan dengan barang-barang bagus, Baron, dan teman saya di modeling, Baim, hahaha.” Bertiga, mereka menunjukkan aransemen ulang lagu “Juwita Malam”. Setelah trio ini selesai, trio kedua juga unjuk gigi. Budjana, Tohpati dan Dinuth dalam “Maju Tak Gentar”.

Sebuah kisah sedih Budjana dituangkannya dalam lagu “Dear Yulman”. “Sebuah lagu untuk sahabat gue, Yulman Hapsati. Lagu ini diciptakan ketika beberapa tahun lalu dia sakit,” ujar Budjana mengawali aksi solonya di teater bertingkat dua itu.

BAD_4168-1-2Rupanya, bukan hanya sekadar instrumen merdu yang mereka bisa bawakan. Tapi, kini lewat pilihan lagu yang tepat, “Dan” [Sheila on 7], tanpa komando, ruang teater ini bergema dengan suara bersama, “Lupakan saja diriku bila itu bisa membuatmu, kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala…” ohhh..

Lalu kemudian lagu-lagu lainnya menyusul, seperti “Super Nice Thing” dari Tohpati dan “Men Like Us” oleh Baim plus vokal. Sesaat kemudian mereka muncul bersama lagi, kini bukan memetik tapi mengilik saraf tawa kami lewat candaan obrolan mereka yang lucu. Ini cuplikannya:

Baim: Six Strings kalau sekali manggung 120 juta, lho.
Eross: Kalau 40 juta?
Baim: Ya gilalah, 35 juga berangkat, hahaha..

Baim: Jadi sebenarnya band ini adalah semacam tidak serius. Tapi kita sangat serius dalam mengerjakannya. Basic-nya kami fun. Nyari duit itu nomorrr.. satu.
Baron: Baim nyari duit itu nomor 6. Nomor 1 sampai 5, Pancasila soalnya, hahaha..

Kembali pada lagu penghujung, setelah lebih dari dua jam mereka memberikan hiburan yang mengasyikkan. Mereka berada dalam satu panggung lagi, membawakan lagu “Bendera” ciptaan Eross yang dipopulerkan oleh Kikan, Cokelat. Masih tak mau pisah, kami penonton terus memberikan tepukan selamat, dan teriakan kagum supaya mereka kembali. Dan, mereka pun kembali, memegang kembali gitarnya, dan melantunkan lagi lagu “Bendera” dengan gaya yang berbeda. Puas rasanya dan satu persatu mereka pamit, berjalan ke belakang panggung.

Bagi penonton yang datang pada malam itu, langsung mendapatkan CD album baru ini. Karena, harga tiket sudah termasuk satu album mereka. Dan bagi Anda yang ingin mendengar petikan-petikan indah dari Six Strings, album mereka bisa didapatkan lewat POS Entertainment atau via Twitter @sixstringsina atau via email [email protected] « [teks @bartno | foto[email protected]]

SHARE