‘Suara’ dalam Kekerasan Domestik

0
11374

Ketika kekerasan domestik disuarakan lewat ‘Suara’

suara 2

Dalam siraman cahaya lampu remang-remang, kedepalan orang perempuan menari dengan gemulai di atas panggung Goethe Haus, Jakarta. Menggunakan properti berupa kain berwarna abu-abu, mereka menghadirkan spirit orang-orang yang pernah menjadi korban atau saksi kekerasan domestik atau kekerasan dalam rumahtangga.

Lewat tarian kontemporer bertajuk ‘Suara’ itu, sang koreografer, Nabila Rasul, ingin menceritakan pengalaman yang menyakitkan namun tak mudah untuk diungkapkan. Kekerasan domestik memang bukan hal yang mudah untuk dideteksi. Sebagian korban atau saksi lebih memilih diam dan memendamnya sebagai pengalaman yang menyakitkan.

Nabila Rasul, melalui pengalamannya sendiri sebagai saksi kekerasan domestik mencoba menuangkannya lewat gerakan-gerakan yang ia ciptakan dan ia pentaskan dalam seni pertunjukan yang berlangsung pada Minggu, 2 November 2014 ini. Kain abu-abu seolah menjadi pembatas perasaan sakit yang mereka pendam terhadap dunia luar.

Melalui gemulainya kedelapan penari, Nabila mentransfer pengalamannya tentang bagaimana perempuan sebagai korban merasakan terror di balik keceriaan rumahtangga. Tidak hanya menceritakan sisi kelamnya, lewat pertunjukan ini, Nabila juga mengajak penonton untuk bangkit dan bersuara terhadap kasus-kasus kekerasan domestik.

Dalam durasi sekitar 40 menit, delapan penari silih berganti seolah bercerita lewat gerakan mereka. Senyuman, tangisan, dan teriakan yang tertahan. Ada perasaan yang membuat mereka memilih terlihat bahagia di depan orang-orang, meski pada kenyataannya mereka juga berusaha untuk melepaskan beban tersebut.

Nabila, sebagai sang kreator memang bukan seseorang yang asing di dunia seni tari. Perempuan yang lahir pada 28 Febuari 1990 ini pertama kali belajar ballet klasik sejak usianya masih lima tahun di Sekolah Ballet Sumber Cipta pimpinan mendiang Farida Oetoyo dan berlanjut hingga kini.

Selain menuangkan cerita pribadinya dalam pertunjukan ’Suara’, Nabila juga telah beberapa kali membuat karya seni kontemporer berjudul ‘Losing You’, ‘Routine’, ‘Dia [perempuan]’, dan ‘Ruang Waktu’. Atas kerja kerasnya itu di dunia seni tari kontemporer Nabila membuktikannya sebagai peraih Hibah Seni Yayasan Kelola 2013, lalu dalam Kreativitas Dance Indonesia 2014 di Erasmus Huis. « [teks & foto @nandiyanti]

SHARE