Magenta Orchestra 10 Tahun dalam Suatu Konser

0
7020
slank

Pagelaran komplet: musikal, komedi, dan drama

Plenary Hall, Jakarta Convention Center di Jumat malam menjadi tempat digelarnya konser MOX atau konser Magenta Orchestra dalam perayaan ulangtahunnya yang ke-10.

Seperti biasa, hampir di setiap pertunjukan, jam di tiket yang tertulis pukul 20.00, bukan berarti jam mulainya acara. Tetapi, masa dimulainya waktu tenggang sekitar 30 menit bagi para pengunjung untuk menempati tempat duduk mereka.

Ruangan konser MOX yang memiliki kapasitas dua ribuan penonton membuat Plenary Hall dibangun bak ruang theater.

Selagi kami menunggu konser dimulai, pesan-pesan sponsor di layar kiri dan kanan panggung menjadi penghibur kami sementara. Dan bangganya saat nama kami muncul, Ghiboo.com, yang merupakan media partner acara ini.

Pesan yang paling diingat dari iklan di layar kanan dan kiri, yaitu ucapan Andi Rianto, yang juga pimpinan Magenta Orchestra, untuk EMP, “Musik adalah energi, diubah menjadi nada, diberi warna, dan jiwa. Sehingga menghadirkan energi baru. Musik adalah energi yang memberdayakan, mencerdaskan, dan menyembuhkan…Bersama-sama mari kita mengubah energi menjadi memberdayakan.”

Ari Lasso di Magenta Orkestra

Ini dia alunan nada seriosa melantunkan gumaman lagu “Mengejar Matahari” dan sorotan lampu, sebagai pertanda konser akan dimulai. Dan jreng, tirai tersingkap, terlihat sebuah grand piano di tengah panggung yang dibentuk futuristik. Pianisnya, Andi Rianto, seolah sedang menerbangkan pesawat luar angkasa. Kemudian di samping kirinya, kru Magenta Orchestra tampil berjejer dan bertingkat memainkan alat-alat musiknya.

Satu tingkat lagi di atas mereka ada layar yang menampilkan gambar-gambar menarik yang seirama dengan musik. Layar itu terbelah dua oleh sebuah jembatan berbentuk parabola terbalik. Penghubung tingkat-tingkat ini adalah dua tangga di kanan dan kiri yang menuju hingga ke panggung paling bawah.

Tepuk tangan membahana melihat set panggung yang tak biasa. Kemudian Andi Rianto berdiri berkata, “Terimakasih atas semua dukungannya. Saya dengar ada juga yang datang dari Singapura, Brunei, Hong Kong, dan Dubai.. Terimakasih untuk semua yang telah mendukung karya-karya kami bersama Magenta Orchestra.” Kemudian seluruh tim Magenta Orchestra berdiri seolah mengucapkan terimakasih kepada penonton.

Musik mengalun lagi. Titi DJ muncul sebagai penampil pertama. Ia bercerita “Saya tak pernah menyesal di tahun 1999, bertemu pertama kali dengan Andi Rianto. Saya, Andi Rianto, dan Dorie Kalmas membuat lagu “Bahasa Kalbu” yang mendapat penghargaan dan sambutan luar biasa dari kalian semua.” Tapi bukan lagu ini yang dinyanyikan Titi di lagu pertama, melainkan sebuah karya dari Yovie Widianto “Bukan Untukku”. “Bahasa Kalbu” baru dinyanyikan Titi setelah sebelumnya melantukan dengan merdu lagu “Sekali Ini Saja” dan “Sepenuh Hati”. “...Kasih yakinlah, hanya aku yang paling memahami, besar arti kejujuran diri, indah sanubarimu kasih, percayalah…” begitu lantun Titi.

Lampu meredup dan hening sesaat menjadi penanda setiap pergantian penyanyi.

B3 di Magenta Orkestra

Lalu, Harvey Malaiholo muncul di panggung teratas. Ia mendendangkan lagu, “Misteri Mimpi” karya Guruh Soekarno Putra, “Sebatas Mimpi” karya Yovie Widianto, dan “Selamat Datang Cinta” karya mendiang Elfa Secioria. “Tiga lagu yang baru saja berlalu adalah bentuk apresiasi dari Magenta Orchestra dalam waktu 10 tahun. Magenta Orchestra sangat produktif, sudah ratusan kali mengadakan acara dengan format besar. Antara lain, salah satunya pegelaran konser tunggal saya di tahun 2012. Dan ini lagu terakhir yang akan saya bawakan, karya kami, saya, anak saya Joshua, Ria dan Andi Rianto, ‘I’am Still Here'”, ujar Harvey yang kemudian berjalan menyusuri tangga menuju panggung di bawah, menyanyikan lagunya itu.

Lampu meredup dan hening sesaat kembali menjadi penanda setiap pergantian penyanyi. Siapa lagi kali ini?

Suaranya sudah sangat familiar di telinga kami, ternyata benar seperti dugaan, itu Afgan. Ia muncul dengan lagu pertama “Bunga Terakhir”, dan kemudian tiga lagu berikutnya, “Sabar”, “Since I Found You”, “Karena Ku Sanggup” secara beruntun, sebelum mengajak para pengunjung bernyanyi bersama lagu penutupnya, “Bukan Cinta Biasa”. “Sing a long,” ucap Afgan yang kemudian penonton menyanyi bersama, “Cintaku bukanlah cinta biasa, Jika kamu yang memiliki…”

Penanda itu muncul lagi, namun kini Andi Rianto memulainya dengan sebuah pidato, “Setiap pertunjukan Magenta Orchestra, saya selalu menunjukkan bakat-bakat muda yang luar biasa. Malam ini panggung akan saya serahkan. Kita sambut, Naura pada vokal, Tata pada celo, Mulan pada flute, dan Chelsea pada drum.”

Bunga Citra Lestari di Magenta Orkestra

Seketika itu muncullah empat wanita muda yang diawali dengan perform Naura menyanyikan lagu “Bidadari”. Baru kemudian, masing-masing menunjukkan kebolehannya, dimulai dari hentakan drum Chelsea, lalu gesekan celo Tata, dan tiupan flute Mulan. Aksi mereka ditutup dengan gerakan akrobatik Naura. Tepuk tangan tak berhenti hingga keempat bakat muda itu hilang dari panggung.

“Siapa lagi ya?” ucap kami dalam hati setelah penanda itu muncul lagi.

Agak sedikit membingungkan, sosoknya tak tersorot lampu seperti yang lain. Yang jelas malah backing vocal-nya yang tediri dari 10 wanita di sisi kiri panggung bawah dan 10 pria pada sisi sebelahnya. Ternyata sosok penyanyinya dimunculkan pada kedua layar di sisi-sisi panggung, dia adalah penyanyi seriosa Zahra Damariva yang menyanyikan “Tak Kembali” karya Andi Rianto.

Lampu meredup dan hening sesaat di pukul 21.30. Musik electro mengawali sesi ini. Surprise! Teriak mereka yang dikiaskan dalam bentuk mini panggung di sisi kiri tribun, dengan lampu disco kerlap-kerlip, dan tiga wanita bergoyang-goyang. Rossa langsung mengguncang malam itu dengan lagu “Aku Bukan Untukmu” dalam aransemen disco. Sampai-sampai Andi Rianto berdiri memainkan pianonya bergoyang dalam gayanya. Lalu Rossa menutup sesi ajeb-ajeb itu lewat lagu “Sakura” “…Senada cinta bersemi di antara kita, meyandang anggunnya peranan jiwa asmara, terlanjur untuk terhenti, di jalan yang telah tertempuh semenjak dini, sehidup semati…”

Tanda itu datang lagi, siapa lagi nanti di panggung ini yang diawali dengan alunan nada yang khas untuk suasana mencekam.

Afgan di Magenta Orkestra

Ternyata, Bunga Citra Lestari. Ia menyanyikan lagu sedih, sebuah lagu yang menjadi awal operet kisah cinta yang akan tersaji di panggung JCC ini. Usai itu, Evan Sanders muncul dengan lagu “Cinta Terlarang” seolah menceritakan hubungannya dengan BCL adalah kesalahan.

Kali ini lampu meredup dan hening menjadi petanda kelanjutan kisah cinta mereka berdua. Layar di sana menggambarkan angkasa raya, seperti mimpi-mimpi yang ingin digapai. Lalu tanpa disangka, aktor laga Fast & Furiuos 6, Joe Taslim bernyanyi lagu sendu bersama BCL, sebuah lagu yang diciptakan khusus untuk operet ini oleh Andi Rianto. Liriknya menandakan kerinduan yang mendalam kedua insan, “Hangat surya tak lupa tuk bersinar, redup tak berkilau, denting nada berhenti tak bernyanyi.. hening semua diam tak bermakna, dunia tanpamu, dunia tanpamu..

Joe kemudian berlari cepat di dalam layar, yang kemudian mengejutkan kami, sosoknya muncul di tengah panggung bertepatan dengan hilangnya adegan berlari Joe di layar itu. Joe pun langsung mengarah ke Evan Sanders yang sedang berdua dengan BCL. Perkelahian tak terelakkan. Kedua pria itu bertarung hingga ke panggung bawah. Keduanya saling berujar dengan lagu menunjukkan perasaan. Lalu kemudian BCL muncul menyatakan ia memilih siapa. Menyadari itu Evan perlahan menyingkir ke luar dari panggung. Dan kemudian Joe menjawabnya dengan lagu “Bahasa Kalbu”. Duet mereka dan peluk mereka, menjadi penutup operet cinta di konser ini.

Tepuk tangan tanpa komando terjadi lagi. Begitu juga dengan lampu meredup dan hening sesaat.

Penampil di Magenta Orkestra

Jam menunjukkan pukul 22.01, alunan nada itu kini dimasuki teriakan ceria seorang ibu, “Yu huuuu..” ujarnya. Ternyata ibu itu adalah Widi anggota Be3. Bersama dengan dua mami rekannya, Cynthia dan Nola, mereka memainkan operet komedi bertema selingkuh. Lagu, “Sakitnya Tuh di Sini” dan “Buah Jagung” bikin komedi ini tambah asyik. Ditambah dialog-dialog kocak seperti ini, “Kurang service kali Mak..” ujar Widi. “Ini udah anak ketiga, bagaimana. Bukan yang paling cantik, tapi yang paling ganteng,” sahut yang lainnya. Hahaha, tawa kami pun lepas. Tiga cowok yang hadir sebagai penghibur lara mami Widi yang diberikan Nola dan Cynthia, bukan lelaki sejati. Di akhir cerita mereka bergaya banci.

Kemudian Be3 tampil lagi dengan kostum merah ala Broadway. Mereka menyanyikan lagu “Waktu ‘kan Menjawab” yang pernah dipopulerkan grup band Warna. “Lagu berikut ini, lagu yang istimewa yang menggambarkan 21 tahun kami untuk Anda”, tutur Widy, yang kemudian Be3 menyanyikan lagu “Bernyanyi dari Hati”, sebagai penutup aksinya malam itu.

Belum usai juga, tanda itu muncul lagi. Dan memang kami masih menunggu aksi-aksi musisi lainnya. Sebelum yang lain, Andi Rianto bermain solo. Tuts-tuts pianonya dia bunyikan seru untuk menghibur kami, dan itu keren.

Usai itu, Slank muncul. Kaka berdiri tepat di tengah jembatan parabola itu. Lagu “Jangan Ingkari Janji” melantun. Sembari bernyanyi, vokalis Slank itu berjalan menuju Andi, lalu kemudian ia melompat dari situ. Hap! Untuk mengakhiri lagu pertamanya itu.

Dentingan piano Andi mengawali lagu Slank berikutnya, “Ku Tak Bisa”. Saat reffrainKu tak bisa, jauh, jauh, darimu..” penonton serentak mengikuti. Dan Kaka memancingnya kembali, “Bersama.. ‘Ku tak bisa, jauh, jauh, darimu“. Konser itu bisa menjadi dua konser berbeda jika saja Slank mengiyakan permintaan penonton saat gema kata “lagi, lagi, lagi,” berkumandang. Untungnya tidak.

Sepertinya tanda ini yang terakhir. Karena tinggal Ari Lasso saja yang belum muncul di panggung.

Sesosok bayangan berlari ke tengah panggung. Ia langsung memegang stand mic dan lampu sorot menembak ke arahnya untuk membuka siapa dia, dan seperti dugaan tadi, itu Ari Lasso. Lagu “Perbedaan” jadi awal pembuka. “JCC!” teriak Ari, mengundang penonton untuk bernyanyi bersama “Segala perbedaan itu, membuatmu jauh dari ku, biarlah sang waktu menjaga cintamu”.

“Mudah-mudahan Magenta Orchestra selalu maju dan berarti. Seperti kita yang selalu ‘Mengejar Matahari’.” tutur Ari mengawali lagu pamungkasnya, “Mengejar Matahari”.

Perform Ari Lasso itu menjadi penutup konser MOX. Dan lewat ucapan terimakasih Andi Rianto kepada semuanya, menjadi tanda kemunculan lagi seluruh pengisi acara. Dan mereka berbaris rapi di panggung bawah, tersenyum dan membungkuk sebagai ucapan terimakasih juga kepada semua. …Selamat ulangtahun ke-10, Magenta Orchestra. « [teks @bartno | foto @bagusdimsum]

 
 
SHARE