MindSlim Challenge Diary – Day 2

0
383
Hilangkan lemak di tubuh
Hilangkan lemak di tubuh

Hari kedua saya mengikuti program MindSlim Challenge di Kemang

Jakarta, 16 November 2014

Dear Diary,

Ini adalah hari kedua saya mengikuti program MindSlim Challenge di Kemang. Di awal sesi, coach Juli Triharto memberikan beberapa trik pada MindSlim Challengers untuk bisa merasakan “5 Magic Rules.” Ada tiga trik praktis yang diajarkan Juli apabila kita merasakan sulit di tiga bagian pertama.

dave2

Pertama, adalah makan ketika kita lapar. Sebenarnya kapan sih kita merasa lapar? Juli kemudian meminta MindSlim Challengers untuk melatih teknik thermostat tubuh setiap hari untuk memudahkan kami mengenal sinyal lapar fisik. Saya pun meletakkan tangan kanan di jantung dan tangan kiri di lambung.

Kemudian, tanyakan pada diri kita apakah kita sedang lapar atau tidak. Kalau menjawab tubuh menjawab ‘Ya’, maka tubuh otomatis mengarah ke depan. Kemudian lakukan hal sebaliknya, tanyakan bila tubuh kenyang atau tidak. Bila tubuh menjawab ‘Tidak,’ maka tubuh otomatis mengarah ke belakang. Inilah yang dinamakan dengan body pendulum.

Di samping menggunakan tubuh sebagai pendulum, saya juga bisa menggunakan kalung untuk mengetahui apa isi hati yang paling dalam.

Kedua, adalah makan apa yang diinginkan. Saya dihadapkan pada tiga makanan lezat. Kerupuk, almond croissant, dan kulit ayam crispy. Tiga makanan yang menggoda iman saya. Juli mengarahkan saya untuk menanyakan pada diri, “Apakah saya ingin makan makanan di depan saya atau tidak?” Pilihan pun jatuh di pilihan kedua, yaitu almond croissant lezat milik Ajeng, salah satu peserta MindSlim Challenge.

Ketiga, adalah makan dengan sadar, yaitu atur cara makan kita secara teratur dan rasakan kenikmatan dari bentuk dan perubahan suhunya. Sudah melakukannya tapi belum ada hasil, Juli mengungkapkan bahwa kemungkinan kecepatan makan kita masih perlu diperbaiki.

Lalu setelah mengajarkan kami trik singkat mencapai 5 trik ajaib ini, Juli mengajak kami untuk STOP CRAVING atau menghentikan keinginan untuk mengonsumsi makanan yang sangat ingin kita makan. Stop Craving ternyata dapat dikaitkan dengan emotional eating.

Saya mengonsumsi makanan karena ada satu trigger yang membuat saya ingin makan dan akhirnya setelah kekenyangan, saya tersadar. Hal ini tentu berkaitan dengan saya setiap hari. Deadline dan tugas harian yang begitu padat membuat saya ingin mengonsumsi makanan, seperti roti sobek, pizza, atau makanan ringan. Karena rasa bosan dan kesal, seringkali ketiga makanan ini dijadikan reward.

Demi menghentikan kebiasaan craving ini, Juli meminta saya dan teman-teman untuk membawa makanan yang saya inginkan. Pizza dengan pinggiran keju serta mayonnaise yang lezat pun saya pilih. Sudah siap-siap ingin menyantapnya. Eh, ternyata Juli bukan mempersilakan kami makan tapi malah membuat saya jadi enggan mengonsumsinya.

Ia meminta saya untuk membayangkan makanan yang paling saya benci. Terong balado di tangan kanan, dan si pizza di tangan kiri. Kemudian, saya diminta untuk menggabungkan keduanya. Saya pun membayangkan apabila terong balado yang saya benci ini menjadi topping dari dua pizza yang saya bawa. Ewww…. Apa rasanya Pizza Terong Balado? Setelah membayangkan itu, saya pun jadi memberi skala kecil pada pizza untuk dimakan.

Mirroring
dave1Di sesi berikutnya, Dave membuka training dengan manis. Kami pun diajak untuk mirroring. Ini bukan bertujuan membuat kami berlagak gila karena bicara sendiri di depan kaca. Tapi berusaha untuk menghargai tubuh kalau kami benar-benar cantik dan memberikan kata-kata optimistis kepada seluruh tubuh bahwa mereka benar-benar bisa mengecil.

Sementara Juli mengajak saya membayangkan tubuh saya langsing seluruhnya di depan cermin. Lalu saya diminta memanggil perasaan senang dan nyaman seperti saya sedang liburan di pantai dan snorkeling. Dan kirim perasaan tersebut ke tubuh melalui cermin dengan selftalk, “Saya menerima pipi ini. Saya penerima bahu ini. Saya menerima lengan ini. Saya menerima perut ini. Saya menerima pinggul ini. Saya menerima paha ini,” saran Juli.

Kemudian saya diajak untuk mempelajari emotional eating. Seperti yang saya katakan sebelumnya, salah satu emosi terbesar saya adalah pekerjaan. Target, waktu, dan kreativitas membuat saya harus berpacu menghasilkan karya yang berbeda.

Juli mengungkapkan, ada delapan perasaan utama yang ada di diri kita, antara lain; sedih, marah, frustasi, takut, bersalah, bosan, depresi, dan kesepian. Juli mengungkapkan, “Ketika stres yang tidak ada solusinya muncul, maka seseorang akan mencari pelarian, dan akhirnya berat badan pun bertambah.” Misalnya jalanan macet dan target di kantor. Keduanya menimbulkan perasaan marah dan frustasi. Inilah yang menjadi trigger supaya saya bisa makan.

Ketika saya makan banyak, maka saya akan mulai sadar kembali. Namun, ketika saya tidak kesampaian apa yang saya inginkan, siklus ini juga akan terus terulang dan membuat saya jadi ingin balas dendam.

Solusinya, saya diminta untuk mengamati penyebab terjadinya perasaan yang saya hadapi. Kemudian, jika saya tidak dapat menjawab persoalan, maka saya bisa meminta saran teman saya. Kalau tidak bisa, maka saya diminta melakukan self hypnosis. Yaitu, tarik nafas perlahan, dan rilekskan tubuh, bernafas teratur, dan bayangkan kalau Anda ini langsing……

Jadi, apakah saya akan melangsing di hari ke-90? Hmm…. Mari optimistis! « [teks @fffionayh | foto dok Diary Dave MindSlim Challenge | kover shuterstock.com]

Also read:
MindSlim Challenge Diary – Day 1

SHARE