MindSlim Challenge Diary – Day 7

0
142
diet sehat

Jakarta, 22 November 2014

Dear G-Readers,

Thank God It’s Friday sepertinya tidak berlaku untuk saya. Beberapa tugas menumpuk di hari ini. Karena memburu waktu, saya kembali meletakkan mobil di Al-Azhar. Ketika jalan kaki, ternyata jembatan penyeberangan di depan masjid sudah dipugar. Kesal! Saya harus jalan sampai perempatan lampu merah. Sebelum menyeberang, tak lupa saya membeli bubur kacang hijau dan ketan hitam campur dan ketan kelapa pedas favorit.

Seorang penjaja kue langganan bilang, “Sudah Mbak, langsung nyebrang dari sini saja. Tuh, joki-joki sudah saja pada nyeberang.” Karena memang saya yang idealis berlebih, jadi saya tidak ingin mengikutinya. Takut orang lain jadi kesal karena harus menginjak rem setelah melaju kencang.

Mengingat prinsip “5 Magic Rules”, yang meminta saya untuk Move More sayapun menolak sarannya. Seperti yang diajarkan saat training, menggumam atau menyanyikan soundtrack MadagascarI Like To Move It” ketika Mindful Walking tentu membuat saya jadi semakin semangat. Sayangnya, saya tidak sempat mengejar bus yang saya incar karena kurang pas waktu tap. Jadi, ketinggalan bus deh.

Selang 5 menit, bus kembali datang dan saya duduk di bangku sebelah kanan. Saya sengaja memilih bangku yang disinari matahari. Alasannya? Ya karena suka saja kalau tubuh saya disinari panas sama seperti kita waktu kecil dulu. Ya ‘kan, G-Readers?

Jam menunjukkan pukul 9.05. Saya pun menyiapkan kamera dan iPad untuk foto dan video GAC [Gamaliel – Audrey – Cantika] di studio 90.4 Cosmopolitan FM. Saya pun kembali ke meja kerja untuk makan sarapan. Tak lama produser acara pagi meminta saya untuk mengambil video para penyiar pagi untuk Challenge #IndonesiaMenari.

Meskipun saya harus mengurungkan niat untuk makan, jadi saya langsung mengambil video dan mengambil videonya untuk diunggah ke Instagram, Path, dan YouTube. Selesai membuat video, saya langsung memberikannya ke editor kami, dan langsung melahap sarapan saya.

Tiba waktu makan siang, saya jadi tidak terlalu lapar. Saya pun menitip makan siang ke seorang teman. Dia merekomendasikan saya untuk makan nasi goreng yang menurut dia enak. Setelah 30 menit, makanan yang dinanti pun datang. Lagi-lagi karena takut mubazir, saya membaginya dengan dia. Saya mengonsumsinya dengan perlahan.

Setidaknya ada 32 gigitan setiap mengunyah. Rasa enak ternyata relatif. Kalau menurut saya nasi goreng yang direkomendasikannya terlalu lembut dan pulen. Rasanya pun sedikit seperti kari. Saya pun menghentikannya di suapan terakhir.

Kira-kira pukul 20.30 WIB, saya meninggalkan kantor. Seorang teman menawarkan saya untuk pulang bersama. Mereka menawarkan saya untuk ikut makan malam di Panglima Polim. Karena takut membuat orangtua kuatir dan pulang larut malam, saya akhirnya memilih pulang. Sampai di rumah, badan terasa lelah dan saya pun memasang CD Hypnolangsing yang sempat terlupakan selama dua hari ini. Mungkin karena saya terlalu lelah, saya pun tertidur pulas dan terbangun di pagi hari.

Lagi-lagi… kali ini kegagalan dipersembahkan oleh ketiduran saat mendengarkan CD Hypnolangsing! Semoga besok tidak lagi ya… « [teks @fffionayh | foto Shutterstock.com]

SHARE