Nicholas Saputra: Mbak Mira, gue pengin main film panjang lagi

0
1999

Setelah lama tidak berakting untuk sebuah film dengan proses panjang, kini Nicholas Saputra reuni kembali dengan jenis film seperti itu, yakni Pendekar Tongkat Emas.

Film produksi Miles Films & KG Studio berbiaya 25 miliar rupiah ini mengambil setting di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur yang indah sekali. Dan di film ini, Nicholas Saputra berperan sebagai Elang.

Bagaimana proses dan ceritanya mengenai film ini, simak tanya-jawab dengan kami berikut ini.

Alasan main film ini?
“Pernah ada satu titik ngobrol dengan mba Mira sekitar dua atau tiga tahun yang lalu. ‘Mba gue pengin sekali main di suatu film yang panjang lagi, yang berat lagi, yang syutingnya panjang, yang persiapannya lama. Karena terakhir yang gue alami seperti itu di film Gie di 2004, hampir 10 tahun yang lalu.

“Dan untuk mencari excitement baru untuk me-refresh lagi, karena saya ingin ada di titik nol lagi untuk belajar sesuatu yang baru banget. Menurut saya itu penting banget untuk mengenal dan belajar sesuatu yang baru.”

Tantangan terbesar dalam film ini?
“Proses adegan action. Karena kita semua baru, jadi harus mengatur bagaimana manajemen energi, karena syuting ini kan panjang hampir 3 bulan. Adegan action-nya banyak. Jadi kita usahakan bagaimana caranya kita bisa tetap syuting keesokan harinya.”

Elang
Elang

Berapa lama latihan adegan silatnya?
“7 bulan, 3 bulan pertama persiapan fisik, strength, endurance, power, untuk mempersiapkan fisik kita untuk masuk koreografi. Dan tiga bulan terakhir itu masuk ke pengenalan koreografi, jadi mulai pakai tongkat, mulai belajar aksi-reaksi itu gimana, jatuh yang aman itu gimana, roll ke depan, roll ke belakang, yang basic-basic. Lalu sebulan terakhir masuk ke koreografi yang bisa dilihat di film.

Tongkat Emasnya yang desain siapa?
“Desainnya dari Edward Hutabarat.”

Cedera parah?
“Cedera hampir setiap hari ada, tapi nggak ada yang sampai ganggu untuk syuting esok harinya, atau latihan esoknya. Minorlah.”

Adakah keharusan menjaga penampilan?
“Dengan latihan 7 bulan saja, sudah terbentuk badannya, nggak ada keharusan naikin ataupun turunin, lebih mempersiapkan ke koreografinya sih. Untuk rambut dari mulai latihan sampai syuting saya panjangin, setelah syuting saya potong rambut pendek.”

Selalu pakai tongkat yang sama?
Nggak, ada beberapa yang mirip, kadang kepakai patah, retak, jadi punya beberapa option.

Yang keren di sana [Pulau Sumba]?
“Berangkat syuting melihat sunrise, pulang syuting ngeliat sunset. Cantik banget tempatnya.”

Kejadian seru?
“Ada satu momen saat mau kembali ke hotel tiba-tiba langitnya cantik, sunset-nya luar biasa. Terus karena ada awan yang bentuknya kaya UFO gitu, kita foto-foto lah. Besok paginya ketika berangkat iring-iringan di waktu Subuh, mobil di depan kita mengeluarkan asap terus-menerus. Supir sempat bilang ‘Ini rem nih problemnya di depan’, karena asapnya luar biasa dan mengerikan gitu.

“Terus pas berhenti, kita keluar pintu mobil. Ternyata awan yang kemarin itu letusan gunung Sangiang yang nyampe ke tempat syuting besoknya. Jadi selama dua hari kita berada di tengah-tengah debu-debu itu. Jadi kalau nanti lihat di filmnya ada adegan tendang-tendangan, pukul-pukulan yang ngeluarin debu, itu debu vulkanik ya bukan efek.”

Pendekar Tongkat Mas

Kalau soal makanan?
“Kita makan dari rumah-rumah makan setempat, ya jadi digilir saja sih. Kadang kita masak sendiri, kita beli ikan fresh. Dari Jakarta kita bawa mini barbeque pit, jadi kalau lagi bosen makan makanan lain, kita bakar ikan sendiri.”

Pendekar Tongkat Emas mulai tayang di seluruh bioskop Indonesia, 18 Desember 2014, so don’t miss it! « [teks @bartno | foto @bartno dan dok. Miles Films & KG Studio]

SHARE