MindSlim Challenge Diary – Day 8

0
685
persiapan lari

Jakarta, 22 November 2014

Dear G-Readers,

Yeay it’s weekend finally! Seperti yang direncanakan dua hari yang lalu, pasangan saya mengajak pergi makan ke Kuningan City. Karena tahu hari ini akan makan besar, saya mengharuskan diri untuk olahraga pagi. Setelah yoga Surya Namaskar 5 set, saya membuka Path. Ternyata banyak teman-teman Path update status dengan Nike Run di Gelora Bung Karno, Senayan. Ah, saya tertantang ikut jalan pagi.

Saya langsung memakai sepatu untuk jalan-jalan di sekitar rumah. Kebetulan ibu saya menitip roti sobek, jadi saya harus pergi ke mini market. Sebenarnya beberapa kavling di dekat rumah, ada mini market. Namun menurut saya itu terlalu dekat. Jadi, saya pun memberanikan diri untuk jalan ke mini market yang lebih jauh.

Sebelum jalan saya unduh dulu Nike Run, ternyata setelah 1 km, aplikasi ini tidak bergerak. Mungkin karena saya tidak tahu cara memulainya. Kemudian di pertengahan itu saya menggantinya dengan pedometer Runtastic seperti kemarin dan melanjutkan perjalanan. Kopaja menginjak pedal gas, otomatis asap hitam mengepul dari knalpotnya.

Saya pun langsung menutup mulut dan hidung karena takut terhirup. Lama, kira-kira 3-5 menit, asap hitam itu menghilang. Saya tetap melanjukan perjalanan hingga mini market yang dituju. Trotoar-trotoar rusak, becek, dan kotor di sekitar jalan Ampera terus saya lalui. Huah…. ‘Semoga Gubernur Jakarta yang baru, Bapak Basuki Tjahaya Purnama memperhatikan para pedestrian ya,’ pikir saya.

Sesampainya di mini market, saya langsung menuju rak roti sobek dan menuju kasir. Aplikasi pedometer tidak saya matikan. Sebab dia tahu kapan dia harus berhenti menghitung langkah, kapan harus menghitung. Setelah membeli roti sobek, saya pun pulang ke rumah melalui jalan yang sama. Sesampainya di rumah, saya langsung mengecek pedometer saya. Wow! Ternyata saya telah melalui 2.793 langkah! Keren! Padahal saya baru menghitungnya di pertengahan ya? Wah, kalau menghitungnya pas di depan rumah, pasti langkah saya mencapai angka 3.000-an. Keringat pun terus mengucur. Saatnya untuk mandi dan bersiap ke Kuningan City.

Makan siang, sore, dan malam

Saya pun bersiap untuk pergi ke Kuningan City untuk bertemu pasangan dan sepupu saya. Awalnya saya ingin pergi ke b-side, tapi melihat tempat yang ber-AC, kecil dan mungil, jadi saya meutuskan untuk pindah. Mungkin tempat ini akan enak apabila makan sore atau malam sekalian.

Kemudian saya langsung melangkahkan kaki ke Humming Bird yang terletak tepat di atas Marks & Spencer. Di sana saya memesan Melting Mozza Chicken yang terdiri dari mashed potato, grilled chicken, keju mozzarella cair di atasnya, dan sedikit salad. Karena porsinya cukup kecil, saya ternyata habis dengan waktu yang lama. Untuk minuman saya pesan ice tea yang di dalamnya diberikan batang serai. Ini favorit saya! Ketika minuman hampir habis, batang serai saya gigit. Rasanya agak sedikit manis unik dan memiliki aroma yang wangi.

Setelah mengobrol mengenai program yang saya ikuti, kami pun pulang. Tak puas hanya di satu titik, saya akhirnya pergi ke Pasar Santa. Untuk melaparkan diri, saya memperbanyak langkah. Takut tidak ada parkir sebenarnya, tapi setelah dicoba akhirnya berhasil. Saya dapat di parkiran depan Ajo Ramon. Hehe… Saya pun langsung menuju tempat para kaum hipster itu berkumpul. Tujuan kami cuma satu, yaitu Sepotong Kue.

Kami ingin merasakan es krim matcha yang lezat. Ketika datang, ternyata di sana sudah ramai. Kami berkeliling hampir tiga kali di tempat yang sama tapi tetap tidak ketemu. Akhirnya saya bertemu teman lama dari majalah Her World, Dini yang memiliki toko pernak pernik vintage dan chic di sana. Ketika ia memberi tahu, saya pun menuju ke sana.

Saya dan pasangan memesan apple cake dan es krim matcha untuk berdua. Bukannya pelit nih G-Readers, karena saya hanya ingin merasakan saja. Hihihi…. Tekstur gurih crumble apple cake menyatu dengan es krim matcha dan membuat rasanya semakin nikmat. Keramahan pemiliknya menambah nilai plus.

Kemudian saya menuju Kantin SD yang menjual Kue Cubit Green Tea setengah matang. Tidak seperti kios lain yang menghias resto kecilnya dengan cantik, manis, dan apik, Kantin SD memang membuat kita merasa seperti berada benar-benar di kantin SD. Isinya hanya meja dan tiga gantungan snack masa kecil seperti Chubba. Hahaha… lambang kantinnya pun menyerupai emblem anak SD. Hihihih…

Setelah menunggu hampir tujuh kali putaran, akhirnya saya mendapatkannya. Unik dan enak! Perut pun sudah menandakan netral, tapi Cendol Oreo dari Duren Bar yang sempat saya pesan sudah menunggu. Sebelum pulang, saya pun take away pesanan saya. Menurut pramusajinya, nama saya sudah dipanggil berkali-kali. Ya iyalah, diminta jalan-jalan, saya malah makan di dua tempat.

Hihihi…. Tapi untuk keseluruhan hari ini, akhirnya saya pergi juga ke tempat yang sudah saya nantikan jauh-jauh hari. Hummingbird dan Pasar Santa. Dan kue cubit green tea sukses menjadi menu makan sore sekaligus makan malam saya. Hahaha…. « [teks @fffionayh | foto shutterstock.com]

SHARE