Maudy Koesnaedi: Teater Abnon untuk mengenalkan budaya Betawi

0
1009

Terpilih sebagai None Jakarta di tahun 1993, Maudy Koesnaedi tak pernah lepas akan cintanya terhadap Jakarta. Lewat sinetron Si Doel Anak Sekolahan, ikon Maudy sebagai anak Betawi semakin kental dan dikenal masyarakat.

Dari rasa cintanya kepada kebudayan Betawi itulah, Maudy kemudian mendirikan Teater Abang None [Abnon] di tahun 2009, bersama teman-temannya yang mantan Abnon Jakarta.

Teater Abnon adalah organisasi non-profit berbasis komunitas yang bergerak di bidang seni dan budaya, khususnya seni pertunjukkan budaya Betawi, yang anggotanya berasal dari alumni maupun mereka yang menjabat sebagai Abang None Jakarta.

Lewat teater ini, Maudy dipercaya menjadi produser untuk setiap pementasan yang dilakukan. Beberapa di antaranya adalah “Cinta Dasima”, “Doel: Antara Roti Budaya dan Burung Merpati, Kembang Parung Nunggu Dipetik”, dan “Topeng Betawi Jaya Bersama”.

“Teater Abang None ini sendiri dari tahun 2009, selain pentas besar sekali setahun di GKJ atau di Teater Jakarta, kita memang sering isi acara lain,” jelas Maudy saat kami temui usai Teater Abnon mengisi acara dalam event Jakarta Tourism Business Forum [JTBF] 2014, dalam tema Topeng Jakarta Jaya Raya, beberapa waktu lalu.

Ketika ditanya kapan akan pentas lagi, Teater Abnon menyatakan kesiapannya bila dikasih waktu yang cukup. “Kita sih siap saja. Karena kebetulan dari 4 atau 5 produksi yang kita jalankan itu kita banyak tabungan tariannya mau apa, lagunya mau apa. Jadi anak-anak tinggal belajar lagi, kalau dikasih waktu banyak. Cuma kan masalahnya kita bukan penari full professional teater. Anak-anak ada yang masih kuliah, sebagai dokter, karyawan, jadi waktu latihannya harus dicari-cari.”

Lalu kami tanya lagi, background-nya sebagai aktris, kenapa Maudy tidak ikutan menjadi salah satu pemerannya? “Malu, sudah tua sendirian gitu,” katanya. “Dan sepertinya nggak ada yang sabar ngajarin saya nari. Lagian kan tujuan sebenarnya Teater Abnon ini bukan untuk saya tapi untuk generasi-generasi Abnon yang muda ini, untuk ada cara lain mengenalkan budaya Betawi, kan mereka menjabat cuma setahun, setelah itu selesai.

“Masa ilmu yang sudah dibina, investasi budaya yang sudah dimasukin ke Abang None selama setahun itu terus bubar begitu saja. Kan sayang. Jadi kita dari Teater Abang None dari semua kalangan bisa berkontribusi di sini. Nggak harus jadi pemain, penyanyi atau silatnya, bisa jadi krunya, bagian manajemennya, bagian ngurusin kostumnya, atau apa saja, itu semua anak Abnon.”

Selain Teater ini wadah untuk kumpul Abnon apa lagi?
“Jadi si Abang None ini komunitas tertingginya itu IANTA [Ikatan Abang None Jakarta]. Nah IANTA ini punya aktivitas macam-macam. Dan kita Teater Abang None ada di bawah mereka. Tapi memang manajemennya, sistemnya, dan karyanya, kita lebih dulu ada daripada IANTA.”

Kalau dibandingkan dengan jaman dulu, ketertarikan Abnon sekarang dengan budaya Jakarta meningkat atau menurun?
“Susah ya, tolak ukurnya dari apa ya? Kalau saya sih, waktu saya bikin Teater Abang None tujuannya adalah untuk mengenalkan budaya Betawi, selain memberikan wadah ekspresi para Abnon maunya ngapain, tapi setelah pementasan itu kita lihat betul jumlah pendaftaran untuk mengikuti Abang None meningkat jauh.

“Karena itu menjadi event promo atau pre pemilihan Abang None. Lepas dari kesenioran saya pikir masalah anak mudanya juga ya, kalau mereka nggak kenal karena mereka nggak punya akses gitu untuk belajar budaya Betawi harus ke mana, kalau bukan karena masalah kuliah sosial budaya, atau karena ikut Abang None kayanya susah gitu mencari literatur Betawi.

“Ya pokoknya saya sih selama anak mudanya masih ada, masih semangat, mereka ada waktu, ayo kita jalanin. Saya melihatnya ini investasi untuk masa depan mereka, saya tuh senang kalau melihat mereka puas hati.”

Teater Abnon berencana akan merekam lagu-lagu yang sudah ada di produksi sebelumnya untuk menjadi album, “Jadi kaya soundtrack gitu,” tutur Maudy, menutup perbincangan ini. « [teks @bartno | foto @bagusdimsum]

SHARE