Davy Linggar mengabadikan seniman tanah air lewat kamera film

0
402
Angki Purbandono

Nama Davy Linggar sudah tak asing lagi di ranah fotografi. Pria kelahiran Jakarta, 8 Juli 1974 ini, selalu menyuguhkan karya yang estetis dan sarat dengan konsep yang kontemplatif.

Dalam pameran tunggalnya yang ketiga ini, Davy membuat project dokumentasi studio 17 seniman papan atas seni rupa Indonesia, tanpa menggunakan perangkat kamera digitalnya. Sebagai ganti, ia menggunakan empat kamera film large format, yang di antaranya sudah ia miliki sejak 20 tahun lalu.

Aksinya kali ini, membawa Davy kembali ke kamar gelap. Film negatif dan film polaroid hitam putih, serta polaroid warna digunakan Davy secara spesifik untuk menciptakan gambar-gambar tanpa manipulasi digital.

Menggunakan kamera dengan film, diperlukan banyak skill dan pentingnya koneksi antara fotografer, kamera, dan subjek. Juga dituntut untuk mengerti mengenai pencahayaan, mengenal subjek, dan melihat ruang yang akan di-capture sebelum gambar diambil.

“Memotret dengan menggunakan kamera film large format, membuat saya belajar lagi dan merasakan banyak manfaat baru. Sebelum pemotretan, saya harus sudah berpikir hasil seperti apa yang ingin dicapai. Pada saat pemotretan, saya juga harus benar-benar intense.

“Dengan menggunakan kamera film large format, saya belajar lagi tentang pentingnya bersikap disiplin, karena menggunakan kamera film large format banyak sekali ritualnya. Belum lagi proses pasca pemotretannya. Kalau ada satu tahapan proses yang dilewati atau dilanggar, hasilnya akan kacau,” jelas Davy lewat keterangan resminya via surel kepada Ghiboo.

Ke-17 seniman Indonesia yang menjadi objek Davy itu adalah Ade Darmawan, Agus Suwage, Ay Tjoe Christine, Angki Purbandono, Dolorosa Sinaga, Entang Wiharsa, FX Harsono, Handiwirman, Heri Dono, Mella Jaarsma, Nindito Adipurnomo, Nasirun, Pramuhendra, S. Teddy D, Tisna Sanjaya, Titarubi, Tromarama, dan Ugo Untoro.

Project ini dinamai FILM. “Karena di luar prosesnya yang menggunakan kamera film, saya juga berpikir bahwa dunia seni rupa di Indonesia itu seperti sebuah ‘film’. Disadari atau tidak, ada skenario yang melibatkan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, di antaranya seniman, pemilik galeri, kolektor, hingga kurator.

Selain itu, dengan menggunakan kamera film large format, saya juga ingin subyek seniman yang saya foto juga terlibat di dalam proses pembuatannya. Saya datang dengan segala kompleksitas ritual penggunaan kamera film large format, dan secara otomatis, para seniman tersebut juga ikut larut bersama dalam persiapan ritual foto di hadapan mereka”, tambah Davy menjelaskan mengenai pameran tunggalnya kali ini yang ditampilkan di The Papilion Kemang, Jakarta, dari 17 Januari 2015 hingga 17 Februari 2015.

Yuk intip beberapa karyanya di bawah ini.. « [teks @bartno | foto dok. Davy Linggar]

This slideshow requires JavaScript.

SHARE