Ten 2 Five, betapa mereka [album] Cinta Indonesia

0
682

Album terbaru Ten 2 Five berjudul Cinta Indonesia telah beredar. Album ini merupakan gabungan track dari dua album sebelumnya: I Love Indonesia tahun 2010 dan Zamrud Khatulistiwa tahun 2013.

Pada program streaming #RabuGhiboo, Ten 2 Five , yang pada sore itu hadir dengan personel Imel [vokal]
Teguh [keyboard], additional player Thomas dan Ardi, bercerita panjang lebar seputar album Cinta Indonesia kepada Didi Lazuardi.

kalau yang saya dengar, album Cinta Indonesia ini gabungan dari album I Love Indonesia yang rilis tahun 2010 dan juga Jamrud Khatulistiwa yang rilis tahun 2013. Ada nggak sih sebenarnya bedanya dari dua gabungan ini dengan album yang kemarin [2014] rilis?

Imel: Nggak. Sebenarnya jadi kita hanya benar benar menggabungkan track yang ada di album Jamrud Khatulistiwa dengan I love Indonesia. Jadi tidak ada penambahan atau pengurangan sih sebenarnya, jadi semuanya hanya disatuin aja. Karena kemarin setelah kita rilis yang I love Indonesia responnya bagus, syukur, dan yang kedua Jamrud Khatulistiwa bagus juga responnya, jadi kita berpikir kenapa nggak digabung.

Istilahnya kaya repackage sih, digabungin aja. Jadi total ada 18 track. Benar-benar lagu daerah semua, nggak ada single baru.

Kita mengaransemen ulang lagu-lagu daerah yang sudah ada sebelumnya, mungkin kalau yang biasa dengan formatnya lain yah, kita mencoba untuk meremajakan aja.

dan lagu-lagu di album Cinta Indonesia itu sebenarnya berasal dari daerah mana saja sih sebenarnya?

Teguh: Sebenarnya kita itu berusaha untuk merangkum Nusantara Indonesia itu dari ujung dari Sabang sampai Merauke. Yah mungkin karena keterbatasan juga kita memang memilih lagu-lagu yang udah public domain. Jadi bisa dibilang nggak ada embel-embel pencipta, bisa dibilang lagu daerah asli yang semua orang sudah mengenal. Kita ada beberapa daerah, dari Sumatra Utara ada. Jawa ada. Kalimantan ada, sampai Papua ada.

kalau paling banyak dari mana?

Teguh: Kalau yang paling banyak dari Jawa.

Imel: Paling familiar, soalnya kita bingung sih, awalnya, yah misalkan saya ‘kan dari Sunda, di situ ada lagu “Tokecang” sama “Cincangkeling”. Kuncinya lagunya populer aja. Karena kalau nggak populer orang akan semakin ‘apa sih ini udah lagu daerah nggak terkenal lagi’. Semakin nggak mendengarkan gitu.

Misalkan Jawa, waktu itu kita sempat berdebat kenapa nggak lagu “Cublak Cublak Suweng”. Akhirnya kita ambil “Lir ilir” dengan “Gundul Pacul”. Jadi pertimbangannya satu, harus populer, kalau nggak populer nggak diambil.

Teguh: Kita kalau kumpul, kalau misalnya mood-nya lagi ke sini, ya udah kita bahas lagu ini gitu, jadi nggak terlalu lagu yang ini gimana, yang itu gimana.

Ten 2 Five

apa tantangan terbesar atau kritik dengan mengangkat lagu lagu daerah ini?

Imel: Kala dari saya sebagai vocal lebih ke pelafalan aja, pelafalan lirik. Berhubung saya orang Sunda harus menyanyikan lagu Batak dan Padang, aksennya susah, aksennya nggak bisa total dapat gitu. Jadi yang bisa saya lakukan nanya-nanya teman orang padang, teman orang batak gitu, sharing dengan teman aja, ini bener nggak sih ngomongnya. Intinya kita sudah mencoba maksimal, mencari banyak sumber, tapi kalau output-nya masih banyak kurang dalam pelafalan harap maklum lah.

Thomas: Kesulitannya ritmik kali yah, rhythm, ada beberapa lagu daerah yang rhythm lumayan menantang sih sebenarnya.

Teguh: Kalau menurut saya sih tantangannya chord-nya. Tapi yang kita bisa untuk mempresentasikan lagu-lagu daerah orang yang dibawa Ten 2 Five supaya bisa diterima oleh daerah masing-masing, itu tantangan bagi saya. Misalnya kalau dibikin aransemen gini kira-kira mereka komplain nggak yah, gitu.

lagu daerah mana aja yang kira-kira memiliki kesulitan tersendiri untuk diaransemen?

Thomas: “Sinanggar Tulo”, rhythm dan chord-nya lumayan susah

Ardi: “Sinanggar Tulo”, rhythm berubah dari asli. Jauh. Membiasakan rada sulit

Imel: “Ayam Den Lapeh”, “Anju Au”, agak susah lafalnya, dari Sumatera Barat.

Teguh: Tingkat kesulitannya kayak lagu “Sinanggar Tulo”, tapi saya lebih compare ke musik yang udah pernah dibikin kayak Viki Sianipar.

Kalau kesulitannya saya lebih di aransemen, tapi unsur atau jiwa bataknya itu masih ada, dan itu kejadian lagi di lagu Papua. Saya kebingungan bangett di lagu Papua karena ada unsur-unsur kayak tribal atau drum. Itu Papua banget. Jadi mengaransemen tapi tanpa menghilangkan nafas asli lagu itu sendiri.

Imel: Karena kita juga bertujuan lagu-lagu ini untuk keperluan edukasi, di sekolah-sekolah kalau mereka ingin menyanyikan lagu daerah tanpa kesulitan gitu.

apa ada musisi asal daerah yang terlibat?
Teguh: Konsep awal sih ada ingin kolaborasi, tapi karena keterbatasan waktu, jadi kondisinya kita disiapkan dalam waktu seminggu. Waktu itu ingin bertemu pemain tradisional segala macam, akhirnya nggak sempat, mungkin untuk next project kali yah. « [teks @El_Sutopo | foto @ryanstone]

SHARE