Pikirkan hal ini sebelum jatuh cinta pada atasan

0
363
fall for boss

Bekerja di dalam satu ruangan dan berinteraksi secara intens dengan atasan terkadang menimbulkan perasaan yang tak dikira akan datang. Bahkan bisa jadi datang tidak pada tempatnya, memang bukan dugaan yang seharusnya datang. Pasti akan ada peluang di tempat kerja untuk suka bahkan jatuh cinta terhadap atasan.

Normal nggak sih? Tentu saja normal, kenapa nggak? We can’t resist our entire feeling sometimes. Mungkin beberapa di antara G-Readers sudah pasang sekat, well it’s a good decision. Tapi jika kamu termasuk orang yang let it flow, ada beberapa hal yang harus dipikirkan sebelum kamu memutuskan untuk menjalin hubungan dengan bosmu.

» Bedakan antara Jatuh cinta dan kagum
Jika tipe bosmu adalah pria yang cukup berkarisma dan semua orang bisa tunduk dan mengangguk ketika ia bicara, akan mudah membuat seseorang jatuh cinta. Bisa jadi kamu amazed dengan kinerjanya, kebijaksanaannya setiap decision making, ataupun emosional yang stabil.

Kemudian kamu hanyut dalam perasaan ketika ia mulai memberikan perhatian kepadamu. Coba make sure dulu apakah perasaan itu hanyalah perasaan kagum saja atau kamu benar-benar jatuh cinta kepada si bos. Karena untuk memulai ke tahap selanjutnya bukan urusan yang mudah lagi untuk dijalani.

» Sssh, it’s a secret
Jika kamu benar-benar menjalani hubungan dengan atasan, mau tidak mau kamu harus merahasiakan hubungan ini. Jika rekan kerja yang lain tahu pasti atmosfer lingkungan kerja bisa kurang mendukung. Kamu harus tahan dengan segala rumor yang ada ketika celah hubungan itu terkulik sedikit ke permukaan.

Pasti akan ada rasa bangga yang tercipta dari dalam diri kamu karena kamulah yang bisa memikat hati atasanmu. Tetapi kamu harus give a boundary tentang perasaanmu. Karena memiliki hubungan dengan atasan bisa dibilang kamu sedang berjalan di atas jurang. Risikonya cukup besar.

» Be professional
Memiliki sebuah hubungan dengan bos bukan berarti kamu bisa berlaku seperti yang kamu inginkan karena status dia lebih dari sekadar atasan. Membedakan antara urusan pribadi dengan urusan pekerjaan adalah hal yang teramat penting. Kamu juga harus bisa menempatkan posisimu sebagai bawahan di kantor.

» What if… it’s over
Sigh. Siapa sih yang suka kalau sebuah hubungan berakhir. Kita tidak tahu apakah suatu hal yang kita jalani akan berakhir bahagia atau malah sebaliknya. Let’s think the worst part, memang menyebalkan. Tapi persiapan mental memang harus dipersiapkan. Apalagi kamu masih dalam satu lingkungan kerja, secara psikis tentunya pasti terganggu. Take a time to heal yourself.

Beda kasusnya ketika si bos pindah perusahaan. Rasanya tidak akan lebih berat. Tapi mau tidak mau, sibukkan diri kamu dengan aktivitas baik di dalam kantor ataupun di luar kantor agar pikiranmu tak terfokus pada “the break up“.  [teks[email protected] | foto nydaily.com]

SHARE