Kata siapa pria tak bisa jadi korban kekerasan dalam pacaran?

0
190

Dalam kehidupan pasti ada satu rasa yang memang tidak mudah digambarkan oleh kata-kata. Bahkan kata “sayang” atau “cinta” menjadi kata simbolik di atas semua rasa. Keterbukaan memang begitu baik dalam sebuah hubungan. Hingga ada saatnya keterbukaan bisa membawa bencana yang memancing emosi di dalam hubungan tersebut. Emosi yang tak dikontrol itu menyebabkan hubungan bisa retak. Katakan saja kekerasan dalam sebuah hubungan.

Ajeng Raviando, psikolog, menjelaskan kategori kekerasan dalam hubungan terdapat verbal maupun non verbal. Kata-kata kasar yang abusive bisa terbilang sebagai kekerasan verbal dan juga kekerasan non verbal jika terjadi kekerasan fisik.

Memang banyak ditemukan kasus kekerasan dalam sebuah hubungan. Ajeng berpendapat, seharusnya seseorang sudah memilah mana yang tidak boleh dan boleh dilakukan dalam sebuah hubungan.

Sadar atau nggak sadar, jika sebuah perkataan kasar yang menyinggung perasaan bisa terbilang verbal abusive.

Tetapi G-Readers, sayangnya di masyarakat masih dominan dengan budaya yang patriarki, masalah yang sangat disorot di sini adalah masalah kekerasan perempuan ketimbang laki-laki.

Penelitian dari Community Development Corporation [CDC] memaparkan bahwa 60 persen wanita mengalami kekerasan dalam hubungan dan 40 persen terjadi pada pria. G-Readers, kekerasan dalam berpacaran bisa melibatkan siapa saja, termasuk pria.

Seperti sebelumnya, memang keterbukaan maupun hal yang bisa membuatmu emosi pasti ada. Tapi ketahuilah batas-batasnya. Saling percaya dan emotional control menjadi landasan agar sebuah hubungan awet.

Jika violence yang cenderung abusive ini ternyata terjadi kepada kamu, lebih baik kamu coba bicarakan baik-baik dengan pasanganmu. Buat perjanjian agar kalian tak saling menyakiti. Manakala tidak ada perubahan, kayaknya kamu harus pikir-pikir lagi deh apa kamu layak mendapat perlakuan seperti itu?

Ajeng juga menambahkan, untuk menjalani hubungan yang sehat tentunya masing-masing bisa mengekspresikan diri dengan baik dan membuat nyaman pasangannya satu sama lain.

Ada pun pasangan harus bisa saling menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Jauhkan pikiran untuk memaksa pasangan berbuat seperti yang ia mau. Kedengarannya begitu umum ya, tapi kerap memang sulit dilakukan. « [teks @03BMAI | foto orensteinsolutions.com]

SHARE