Target Indonesia untuk mengurangi stunting

0
144

Pada tanggal 23 januari 2015 yang lalu Millennium Challenge Account– Indonesia  meluncurkan hasil studi formatif gizi. Penelitian yang di lakukan pada bulan september – oktober 2014 ini menemukan banyaknya keluarga yang belum menerapkan pola makan, pola asuh dan sanitasi yang cukup untuk menunjang perkembangan anak.

“Riset ini bertujuan memperoleh informasi tentang faktor kunci yang berpengaruh pada gizi, sanitasi dan kehigienitas air bersih, untuk mengurangi stunting“, ujar Minarto, Direktor Proyek Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat ( PKGBM) MCA- Indonesia.

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dari waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia 2 tahun.

Indonesia menduduki peringkat ke-5 dunia untuk jumlah anak dengan kondisi stunting. Lebih dari sepertiga anak Indonesia tumbuh tidak sempurna. Ada 8,81 juta anak Indonesia yang kurang gizi, dengan prevalensi stunting sebesar 37,2%.

Prevalensi stunting Indonesia lebih tinggi di bandingkan Mynmar 35%, Vietnam 23% dan Thailand 16%.

Provinsi di Indonesia yang memiliki prevalensi stunting tertinggi di tiap pulaunya mulai dari Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Papua, Kalimatan Barat, dan terakhir ada Sumatera Utara.

Pemerintah berkomitmen untuk mengurangi stunting dan meningkatkan standar sanitasi. Rencana pembangunan jangka menengah nasional menargetkan penurunan stunting anak di bawah 5 tahun menjadi 32% pada tahun 2015.

Dan salah satu target Milennium Development Goals (MDG) Indonesia untuk tahun 2015 adalah mengurangi jumlah anak kurang gizi dari 35,5% (1990) menjadi 17,8% (2015).

Indonesia juga berperan mencegah stunting di tingkat internasional, dengan bergabung dalam Scaling Up Nutrition (SUN) Movement. SUN adalah gerakan global dengan prinsip semua orang di dunia berhak mendapatkan makanan dan gizi yang baik. Indonesia menjadi salah satu dari 9 negara yang duduk dalam kelompok tersebut dengan diwakili oleh Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Nina Sardjunani, Nina juga adalah anggota Majelis Wali Amanat Millennium Challenge Account-Indonesia (MCA-Indonesia). « [[email protected] | foto @sde.ct.gov | inforial]