“Hasta Karma”, album solo ke-8 Dewa Budjana

0
208

Gitaris Dewa Budjana merilis album solo ke-8, Rabu, 25 Februari kemarin. Album bergenre Jazz tersebut berjudul ‘Hasta Karma’, yang artinya ‘Karma Kedelapan’.

Hasta Karma merupakan album solo ke-8 untuk pasar musik Indonesia, dan album solo ke-4 untuk pasar musik Internasional. Hasta Karma sendiri direkam di New York, Amerika Serikat, tepatnya di studio Kaleidoscope Sound, pada 22 Januari 2014 silam.

Budjana mengatakan, tujuannya rekaman di luar negeri adalah untuk mendapatkan spontanitas dari musisi-musisi yang ada disana. Selain itu, ia juga ingin membuat musik yang berbeda dari album-album sebelumnya.

“Dari tahun 2002, rekaman selalu di Los Angeles, yang disebut pantai barat. Pengen tahu New York kayak gimana, karena orang bilang musik Jazz dari pantai timur, yaitu New York,” kata gitaris dari band Gigi tersebut, saat ditemui awak media di acara peluncuran albumnya di Foodism Cafe & Resto, Kemang, Jakarta.

DEWA BUDJANA3

Dalam album yang terdiri dari enam lagu ini, Budjana memainkan gitar elektrik, gitar akustik, dan soundscapes. Ia pun didukung oleh tiga pemusik internasional yang berasal dari Amerika, seperti Joe Locke (vibrafon), Ben Williams (upright bass), dan Antonio Sanchez (drum).

Dalam hasil rekaman ulang untuk komposisi lagu ‘Ruang Dialisis’, dimasukkan hasil rekaman lama dari vokal nenek Budjana, mendiang Jro Ktut Sidemen, dimana rekaman aslinya dikerjakan pada 1997 di Bali.

Budjana bekerjasama dengan musisi-musisi yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Menurut gitaris kelahiran Nusa Tenggara Timur, 30 Agustus 1963 ini, permainan musik mereka pun berbeda-beda.

“Di lagu-lagu seperti ini, mereka menganggap lagu saya simple. Mereka bermain dengan interpretasi mereka, tentu dengan kejutan-kejutan.”

Tidak hanya musisi asing terlibat dalam album ‘Hasta Karma’, musisi dalam negeri pun ikut serta, salah satunya Indra Lesmana. Indra memainkan piano dan melodica untuk komposisi di lagu ‘Ruang Dialisis’, ‘Just Kidung’, dan ‘Payogan Rain’. Khusus untuk rekaman bagian Indra, digarap di Jakarta.

Budjana tak tertarik go internasional

Menyinggung soal budget penggarapan album, Budjana mengakui kalau rekaman di New York jauh lebih murah dibandingkan dengan Jakarta.

“Di New York jauh lebih murah. Saya berpikir sekalian saja rekaman untuk dua album. Tapi, ya agak mumet juga buat lagunya.” tambahnya, sambil diikuti tawa dari para awak media.

Meskipun begitu, ia mengaku lebih senang main musik di negeri sendiri. “Saya lebih senang main di Indonesia, karena main musik disini lebih asyik. Kalau saya sih lebih bangga keliling Indonesia, daripada go internasional.” cetus Dewa.

Untuk pasar musik Indonesia, album ‘Hasta Karma’ diedarkan oleh label deMajors, sedangkan untuk pasar musik internasional, diedarkan oleh label Moonjune Records. I

GN Bagus Wijaya Santosa, selaku produser album Hasta Karma, memberikan Budjana keleluasaan untuk memilih materi. Dengan keleluasaan yang diberikan, Budjana pun mengaku kalau ia hanya berpikir untuk membuat musik.

“Saya nggak pernah berpikir buat perubahan atau apa, yang terpikir cuma rekaman. Bikin lagu saja, buat tulisan, dan sebagainya. Kalau jadinya seperti ini, diluar ekspektasi saya. Surprise surprise seperti itu adalah hadiah dan pelajaran. pungkasnya. « [teks @essthia | foto@ryanstones]

SHARE