Imelda Fransisca : Mama modern wake up, fight, and repeat!

0
303
Imelda Fransisca
Imelda Fransisca
Imelda Fransisca
Imelda Fransisca

Rasanya sempurna melihat sosok wanita yang sudah menjadi seorang ibu, tetapi masih konsisten dan dengan dunia yang disukainya. Bahkan, masih memiliki ruang waktu untuk memperhatikan, dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Sosok wanita ini ada pada diri Imelda Fransisca.

Imelda, begitu wanita berusia 32 tahun ini disapa, merupakan Miss Indonesia 2005. Selain memiliki bakat presenter, ia juga meluangkan waktunya dalam menulis sebuah buku.

Beberapa waktu lalu ia baru saja resmi merilis buku keduanya berjudul Mama Modern : Wake up, Fight, and Repeat! .

Hmmm... Bagaimana ya, cara Imelda mengatur waktu untuk menulis buku dengan kegiatan lain, bahkan sambil mengurus keluarganya?

Dan, apa yang mendorongnya untuk menulis buku tentang mama modern? Demi menjawab itu semua, Imelda pun menyempatkan waktu untuk berbincang langsung dengan Ghiboo, belum lama ini. Simak wawancara kami dengan ibu dari 2 anak ini, G-Readers!

Ceritakan awal mula kamu mulai gemar menulis, hingga mengluarkan buku pertama?

“Buku yang pertama itu, berjudul You Can Be Anything and Make Changes, buku itu saya tulis tahun 2010. Dan buku ke-2 saya yang baru saja saya keluarkan. Saya suka menulis itu memang dari kecil ya, di mana dulu itu saya menulis jurnal.

Namun, setelah kuliah kebetulan mata kuliah yang saya ambil psikologi di mana memang saya harus membuat riset dan menulis. Dari situ, memang saya suka menulis pemikiran-pemikiran saya, dan juga aktivitas. Tapi, lebih banyak dari dulu yah dari kecil sampai sekarang sih.”

Mengapa buku ke-2 ini memiliki jeda cukup lama dari buku pertama?

“Jadi, sebenarnya buku ini telah saya bikin dari empat tahun yang lalu, tapi mengambil angel-nya dan juga saya melahirkan dua anak. Sebenarnya bukan menjadi alasan, namun itu menjadi alasan yang saya pakai karena saya kira paham saya harus menulis sebuah buku tentang perempuan.

Tapi mengambil angel dari sisi mana dan kematangan pikiran itu baru saya dapatkan pas setahun lalu, dimana saya sudah mantap dengan value-value. Kalau menulis yang sangat ilmiah berdasarkan fakta dan data statistik itu lebih mudah, tapi di sini saya juga menuangkan pemikiran saya, dan juga isi hati saya. Jadi saya harus menunggu kematangan dan pikiran saya.”

Buku Mama Modern : Wake up, Fight, and Repeat! butuh waktu berapa lama pengerjaannya?

“Pembuatannya kurang lebih satu tahun. Di mana selama satu tahun itu, nggak terus konsisten nulis buku ini. Tapi, mengambil angel dan data-data yang sekiranya akan saya masukin. Nah, itu kurang lebih prosesnya satu tahun.”

Apa yang mendorong kamu membuat buku kedua ini? 

“Yang mendorong adalah pengalamaan pribadi, di mana sebagai seorang perempuan apalagi saya sudah menjadi seorang ibu. Di mana memang perempuan yang sudah berkeluarga, dengan yang belum berbeda, apalagi yang sudah punya anak prioritasnya berbeda.

Namun dengan adanya modernisasi saat ini, emansipasi perempuan yang ada kita dituntun untuk bisa juga menjadi sukses dalam bidang karir, kehidupan, dan sudah pasti kehidupan sosial,

“Jadi, bagaimana sih kita sebagai seorang perempuan itu yang dulu mungkin cuma kerjaan, namun setelah menikah masuk rumah ngurus dapur, ngurus anak, sekarang banyak banget yang harus di urusin. Nah, bagaimana kita memilah waktu, memilah prioritas agar kita tidak menghilangkan value kita sebagai perempuan.”

Imelda Fransisca
Imelda Fransisca

Inspirasi untuk buku ini datang dari siapa? 

“Terinspirasi dari perempuan-perempuan hebat di sekitar saya, yaitu perempuan-perempuan yang sudah menjadi ibu di mana mereka ada yang bekerja. Saya ingin mengangkat tema perempuan, karena saya rasa saat ini banyak sekali buku-buku tentang motivasi, dan kesuksesan.

Tapi, jangan sampai arti dari kata sukses ini sebagai perempuan cukup mengorbankan value-value di mana menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya di tinggal demi kesuksesaan pribadi.”

Menurut kamu, Ibu jaman sekarang itu seperti apa ?

“Saya pernah membaca ya, perempuan yang notebene bisa berkarir di Indonesia hanya 6 persen. Jadi, masih banyak memang perempuan yang belum sampai pada titik dimana pemikiran mereka bisa membagi waktu.

Namun, kalau mereka bisa mengerti value, walau pun mereka juga mengejar apa yang menjadi cita-cita mereka, tapi tidak melupakan kuadrat yang I’ll be good, karena dari 6 persen itu saya yakin itu bisa merambah ke bawah-bawahnya.”

Dari judul buku, apa sih yang maksud dengan kata ‘wake up, fight, repeat’ ini?

“Jadi, judulnya itu modern mama seperti saya ibu-ibu modern jaman sekarang. ‘Wake up’, dalam buku ini adalah kita harus bangun menjadi seorang perempuan, yang mengerti kodrat kita sebagai perempuan.

‘Fight’ dalam arti, kita harus mengerti apa saja yang harus kita perjuangkan sebagai seorang ibu. Jangan sampai kita berjuang mati-matian, tapi berjuang pada battle field yang salah. ‘Repeat’, kita harus bisa konsisten dalam mengejar apa yang sudah menjadi prinsip dalam hidup kita.”

Pesan yang ingin disampaikan dari buku ini apa?

“Pesannya, simple to be an example to your kind, dan tentunya sebagai seorang perempuan. Seperti judulnya , wake up, fight, and repeat: how to manage yourself? How to be confidence? How to manage your time? How to manage your priority? How to manage you money? How to manage friends even your husband? And how to manage your health?

Jadi, bagaimana kita manage diri sendiri, sebagai perempuan yang bisa mengatur diri sendiri, supaya rumah bisa terjaga dengan baik. Because there’s saying a happy mom is a happy family. Be Happy mom.”

Tadi kamu bilang kalau buku ini terinspirasi dari wanita-wanita hebat. Boleh tahu nggak salah satu wanita hebat, yang jadi inspirasi kamu?

“Di dalam buku ini mungkin ada beberapa perempuan atau wanita yang mungkin kerabat saya, atau pun yang mungkin saya awasi dari jauh. Ada juga cerita ibu saya didalamnya, dimana memang ini merupakan bentuk pemikiran saya tentang apa yang sudah mereka lakukan.

Ada juga yang mereka saya interview, di mana akhirnya saya tuliskan apa yang sudah mereka katakan, tentang peran mereka sebagai wanita baik yang bekerja. Single mom, single parent sampai stay at home, dan juga sampai yang bekerja menjadi seorang direktur.

Jadi, beberapa pandangan sebagai seorang ibu dan one is important to them, apa yang membuat mereka tetap bisa menjalankan kedua-duanya dengan baik, atau ada juga yang pada akhirnya mereka melepaskan karir demi keluarga.

Nah, itu mengapa? Dan, ada juga cerita ibu saya, bagaimana dia berjuang dari generasi sebelumnya, apa pandangan dia tentang seorang perempuan dari generasi sekarang.”

Bagi kamu, mana quotes paling menarik di buku in?

“Sebenarnya quotes yang paling menarik ada pada bagian pertama dalam buku saya, yaitu:

“Ukuran bahwa kau dihormati oleh anak-anak bukanlah seberapa sukses kau berkarir, tapi seberapa banyak kau menginvestasikan dirimu untuk mereka.”

Kenapa quotes ini menjadi pilihan yang paling menarik?

“Ini paling menarik sebenarnya ini agak menggelitik saya ya dulu. Dimana dengan adanya konsep modernisasi, where success is everything sekarang, sukses, sukses, sukses gitu. Tapi, sebernanya dalam hidup ini is not just about success, tapi bagaimana kita menjadi fruit full, kita menjadi berbuah, kita menjadi contoh.

“Karena bukan titik daripada kesuksesan itu sendiri, tapi dari status ekonomi saja yang dipandang. Bagaimana kita bisa menurunkan nilai hidup yang benar untuk anak-anak, itu yang sangat berarti buat saya.

Bisa dibilang, ini adalah modern mama, tapi prinsip hidupnya sebenarnya sudah dari jaman dulu, yang mungkin jangan sampai dilupakan oleh ibu-ibu saat ini.”

Ide cover buku dapat darimana? Ada makna tersendiri untuk cover bukunya?

“Tadinya buku ini untuk cover-nya saya tidak pakai baju kerja, saya pakai baju rumah dengan keribetan dan juga mainan anak-anak di mana-mana. Sebenarnya menggambarkan kehidupan perempuan, walaupun di luar dandan rapi bekerja, tapi sampai rumah ya tetap saja ngurus anak, dan ngurus rumah.

Lalu teman saya ngasih input, biasanya kalau kita mau pergi pasti ribet. Sudah dandan, sudah rapi, tapi tetap saja masih banyak yang harus dibereskan, sebelum pergi keluar rumah. Oh iya ya, lucu juga. Akhirnya, saya memilih memakai baju yang seolah-olah akan pergi bekerja, tapi tetap megang vakum [alat pembersih], terus masih diglendotin anak, dan juga mainan masih berantakan di mana-mana. Sebenarnya ini bentuk keseharian saya.”

Imelda Fransisca
Imelda Fransisca

Pernah stuck ketika menulis, atau ngerjain buku? Lalu bagaimana mengembalikan moodnya?

“Kalau stuck pasti pernah, soalnya kalau sebagai penulis kita pasti cari inspirasi. Sebenarnya, selama ini yang saya temukan adalah kalau kita fokus, dan kita tahu apa isi yang ingin tulis, stuck itu bisa hilang.

Biasanya yang nggak fokus itu, yang suka bikin stuck. Jadi saya harus fokus, dan mengetahui apa inti yang ingin saya tulis, biasanya saya lebih cepat untuk kembali lagi.”

Ada ketertarikan untuk berbisnis?

“Untuk bisnis apa ya?? [ucapnya sambil tetawa]. Ya mau nggak mau, kebetulan saya dari keluarga yang orang tua pengusaha, suami juga pengusaha, jadi sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu mereka.

Jadi kalau bisnis, saya merambah ke cleaning service, karena saya dan suami build business cleaning service company, saya bantu menjadi marketing disana. Hmmm... Dulunya Miss Indonesia, sekarang jadi tukang bersih-bersih it’s ok! Hahahaha…”

Apa kegiatan yang kamu lakukan saat di rumah?

“Biasanya sama anak-anak bercanda, karena saya orangnya iseng. Kadang bikin mereka nangis, tapi ya maksudnya lucu-lucuan gitu. Terus, anak saya yang pertama itu suka masak, dia paling suka bikin cupcake, bikin omellete, dan segala macam. Jadi, ya kerjaannya di rumah bikin kue. Hahahaha….”

Apakah anak-anak sudah paham kalau Imelda juga seorang penulis?

“Kemarin itu ada kejadian lucu. Kemarin saya baru ke Bali bawa anak-anak. Pas di hotel, staf itu nanya ke anak saya yang sedang lari-lari, ‘where’s your mom?’ Anak saya jawab, ‘you don’t know my mom ? No, jawab staf itu, karena dia belum tahu itu anak saya. You know my mom it’s very famous.

Saya yang ngeliat mikir aduh ini anak bikin malu saja. Akhirnya saya nanya ke anak saya, why you tell everyone I’m famous? Yes, I saw you on tv so must be very famous, katanya. Jadi anak saya tahu, bahwa saya ada di televisi, bikin buku. I think it’s cute ya, karena I see she proud.”

Ada keinginan membuat anak-anak tertarik ke dunia entertainment atau menjadi penulis?

“Kalau menulis mereka sedang belajar, tapi saat ini memang dia suka membaca. Kebetulan dia seperti bapaknya sih, di mana bacaannya lebih sains gitu, jadi saya suka beliin dia encyclopedia. Saya melihat dia juga kalau untuk di kamera agak malu, will see sih, jadi perkembangannya dia kemana. Tapi, so far dia lagi hobi memasak,”

Kedepannya kira-kira akan menulis buku apa lagi?

“Sebenarnya karena saya psikologis, jadi saya lebih memilih menulis sisi psikologis perkembangan dari anak-anak, perempuan. Ada satu yang menjadi challenge buat saya.

Kemarin saya iseng abis olahraga, sekarang kan banyak tuh yang di instagram pada six pack gitu, yang lucu adalah I think I have to challenge myself setelah punya dua anak, bisa nggak ya gue six pack. Lalu, personal trainer saya bilang: ‘why you don’t do it make youself six pack, you change your lifestyle and put it at your book soo will see.’ That’s a good idea!

“Apa harapan kamu untuk buku ini?

“Harapan saya untuk buku ini, saya mau setiap ibu yang membaca merasa you’r not alone. Seringkali kita merasa kewalahan dalam mengurus anak, keluarga, dan juga mengurus karir kita, tapi saya mau ngasih tahu bahwa your never alone.

Kita semua sama-sama merasakan dan dengan buku ini, ibu-ibu merasa terinspirasi, termotivasi untuk apapun yang “what you’r fighty for it’s worth it” jangan sampai melupakan value kita sebagai seorang perempuan, dan juga seorang ibu keep fithting, wake up and repeat hopefully this book will motivation and inspiration you!” [teks @jennyanjani | foto @mirzablue]