Mathias Muchus, kritis lewat ‘ToBa Dreams’

0
268
Mathias Muchus

Tema kekeluargaan yang diangkat di dalam “ToBa Dreams, bukan sekadar tema kekeluargaan saja. Pasalnya, tema ini tak hanya bicara soal keluarga, tapi juga mengangkat tentang kehidupan seorang tentara. Menarik!

Belajar dari sisi kehidupan lain seorang tentara, bernama Sersan Tebe yang diperankannya, Mathias Muchus menyampaikan apa yang ia pelajari dari kehidupan pensiunan tentara. Tentara yang selama ini dicetak sebagai penjaga negara, persoalan setelah masa purna sama sekali tak tersentuh oleh negara.

Nah, ketika dia pensiun, kembali ke masyarakat nggak ada pilihan lagi. Mereka kurang lebih mendapatkan pekerjaan yang ada pada bidangnya. Satpam, misalnya, atau penjaga gudang, penjaga gedung, bahkan penjaga orang kaya,” cerita aktor yang pernah merangkap sebagai sutradara itu.

“Mereka mengabdikan hidup mereka habis-habisan. Tapi ending-nya kok nggak enak banget?” tambahnya.

Perfilman Indonesia di mata Mathias Muchus

Sekilas berbincang mengenai “ToBa Dreams, Mathias Muchus bercerita tentang keresahan perfilman nasional. Film ini dibuat atas dasar kegelisahan dari si pengarang novel, T.B. Silalahi, dan juga Rizaludin Kurniawan tentang kondisi perfilman Indonesia.

Melihat film-film nasional yang beredar di bioskop, tak banyak masyarakat yang ikut menikmati hasil karya film dalam negeri. Mathias bercerita mengenai keprihatinannya terhadap film-film yang kerap mengecewakan penonton.

“Memang saya harus jujur, beberapa produk film kita mungkin mengecewakan penonton,” tutur pemeran Sersan Tebe pada Ghiboo beberapa waktu lalu.

“Tapi saya menghimbau film ini adalah sebuah proses budaya. Ini adalah cermin masyarakat kita. Yang bisa mengangkat budaya ini adalah penonton kita,” ucap suami Mira Lesmana ini.

Baginya, elemen produksi dari sebuah film tidak hanya dari kru itu sendiri, tetapi apa yang terjadi di dalam sebuah masrakat adalah hal yang sangat penting untuk menaikkan harkat sebuah film.

Mathias Muchus dan Rizaludin Kurniawan [sang produser], mengungkapkan kegelisahannya tentang sulitnya mencapai 100.000 penonton dalam sebuah film. Padahal, saat perfilman Indonesia naik di era 2000-an silam, dengan mudahnya mendapatkan penonton sebanyak 1 juta hingga 5 juta penonton.

“Saya concern banget, penonton kita harus mencintai film-film Indonesia,” pungkas Mathias.  «[teks @03BMAI | foto @mirzablue]

SHARE