Najwa Shihab dan kemerdekaan profesi jurnalisnya

0
531
Najwa Shihab
Najwa Shihab

Seperti biasa, pada tanggal 21 April, Indonesia memperingati Hari Kartini, yaitu hari besar dari pahlawan bangsa yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan Indonesia, R.A Kartini.

R.A Kartini berjuangan mencapai per samaan derajat antara wanita dan pria, kini kaum perempuan Indonesia mampu meraih cita-cita dan karir mereka, sekalipun harus bersaing dengan kaum lelaki. Dan, salah satu perempuan Indonesia, yang menikmati hasil perjuangan R.A Kartini, dan sukses meraih cita-citanya, adalah Najwa Shihab.

Najwa Shihab, jurnalis kenamaan tanah air dan juga tuan rumah program Mata Najwa yang tayang di Metro TV, bercerita tentang profesi yang dilakoninya, yaitu jurnalis.

Kepada I Radio FM Jakarta, ia mengatakan bahwa awal ketertarikannya dengan dunia jurnalistik dimulai saat melihat pengumuman di koran yang menawarkan program magang sebagai reporter RCTI. Saat itu, Najwa tercatat sebagai mahasiswa semester akhir Fakulas Hukum Universitas Indonesia. Setelah magang disana, ia akhirnya malah jatuh cinta dengan profesi jurnalis.

“Sebetulnya nggak nyambung sih, orang suka bingung anak fakultas hukum tapi magangnya jadi reporter,” kata Najwa saat ulang tahun 89.6 FM I Radio Jakarta, beberapa waktu lalu.

Walaupun saat kuliah Najwa mempelajari hukum, tepatnya studi Litigasi yang mempelajari hukum acara di pengadilan, Najwa mengatakan kalau ilmu yang ia pelajari saat kuliah masih ia terapkan sampai sekarang.

“Di fakultas hukum diajari bertanya saksi di pengadilan, saya dulu juga hobi ikut lomba moot court pengadilan semu, kebagian jadi pengacara,” tambah wanita kelahiran Makassar, 16 September 1977 ini.

Najwa bercerita, saat belajar di fakultas hukum untuk jadi pengacara, ia ingat akan slogan “never ask a question you dont know the answer to” (jangan pernah bertanya sesuatu yang kamu nggak tahu jawabannya).

Maksud dari peribahasa tersebut berhubungan dengan saksi di pengadilan. Di pengadilan, saksi seharusnya meringankan. Jangan sampai saksi memberikan fakta yang merugikan klien saat ditanya pengacara.

Peribahasa tersebut mengingatkan Najwa untuk selalu berusaha mengontrol situasi, apalagi saat mewawancarai politisi, dalam program televisi yang dibawakannya Mata Najwa.

“Kalau kamu nggak in control terhadap show kamu, bisa bisa diambil alih oleh politisi yang kepentingannya kita nggak tahu,” ucap putri dari Quraish Shihab ini.

Indepedensi sebagai jurnalis

Ada pertanyaan yang sering muncul di benak para penonton program Mata Najwa, bagaimana Najwa menjaga independensi sebagai jurnalis, sedangkan ia bekerja di salah satu perusahaan yang pemiliknya berafiliasi dengan politik.

Menjawab pertanyaan tersebut, Najwa menuturkan bahwa televisi sangat transparan. What you see, what you get. Mata Najwa adalah talkshow politik dan di setiap akhir acara Najwa selalu membacakan catatan yang ia buat.

“Jadi sikap editorial saya pribadi sebagai jurnalis yang sudah di Metro TV selama lima belas tahun, itu bisa dibaca lewat angle Mata Najwa, dan juga bagaimana catatan di akhir,” tutup istri dari Ibrahim Sjarief Assegaf ini.

Najwa meyakinkan jika program acaranya tidak pernah ada intervensi dari bos televisi. Menurutnya, sekarang masyarakat penikmat televisi makin lama makin cerdas dan kritis. Kalau mereka tidak suka, mereka akan bilang. Banyak sekali media menyampaikan protes tersebut, yang membuat hubungan antara pelaku televisi dan penikmat televisi semakin lama semakin dekat.

Bagi Najwa, Jurnalis punya independensi dan profesionalisme yang harganya terlalu mahal untuk ditukar dengan kepentingan apapun. Jurnalis hanya bisa dilihat dari hasil karyanya dan itu selalu jadi rambu-rambu untuknya.  Good job Najwa! «[teks[email protected]foto[email protected]]