Opera Ular Putih, ketika perbedaan sulit diterima

0
173
Opera Ular Putih
Opera Ular Putih

Minggu 19 April 2015 merupakan hari terakhir pertunjukkan lakon berjudul Opera Ular Putih oleh Teater Koma. Sudah dua minggu lamanya, pertunjukkan ini disajikan dan terus menarik masyarakat untuk menyaksikannya. Untuk hari terakhir ini saja tiket sudah terjual habis 3 hari sebelum pentas ini ditutup. Pentas yang berlangsung sejak 3 April 2015 lalu, berhasil memukau penonton dengan penampilan yang prima meski sudah dua minggu tampil di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marjuki, Jakarta.

Selama 4 jam lebih penonton dimanjakan dan tersihir dengan keindahan tata panggung serta set yang sangat rapi dikemas untuk perpindahan satu adegan ke adegan lainnya. Pementasan Opera Ular Putih ini merupakan produksi ke-139 Teater Koma, yang sebelumnya pernah ditampilkan di tempat yang sama yaitu pada tahun 1994.

“Lakon Opera Ular Putih diangkat dari kisah klasik Tiongkok yang berjudul Oh Peh Coa yang kemudian naskahnya dibuat pada tahun 1994. Secara garis besar pementasannya tidak akan jauh berbeda, namun terdapat hal kekinian yang akan dipentaskan nanti. Pertanyaan yang diajukan akan tetap relevan: Masih sanggupkah kita membedakan siapa manusia dan siapa siluman? Semoga penonton dapat mengambil makna yang kaya akan pesan moral tersirat yang berusaha kami sampaikan dalam lakon ini,” tutur Nano Riantiarno, sang penyadur naskah dan sutradara pementasan ini.

Pementasan ini berkisah tentang siluman Ular Putih yang ingin menjadi seorang manusia sehingga ia bertapa selama 1000 tahun. Karena usaha dan kebaikan yang ada dalam dirinya, para dewa mengabulkan permintaannya dan ia pun menjelma menjadi seorang wanita cantik jelita bernama Pehtinio. Bersama dengan adiknya yaitu siluman Ular Hijau yang selalu setia kepada sang kakak juga menjelma menjadi seorang manusia bernama Siocing. Mereka pun menjalani kehidupan sebagai manusia biasa.

Cerita berlanjut ketika Tinio bertemu pemuda bernama Kohanbun yang merupakan reinkarnasi dari orang yang dulu pernah menolong Ular Putih ratusan tahun yang lalu, Tinio pun bertekad untuk menjadi istri dari Kohanbun. Namun, kedamaian mereka terusik ketika Kohanbun bertemu dengan Gowi, seorang peramal yang memberitahu bahwa istrinya adalah seekor siluman ular jahat, tidak peduli segala kebaikan yang dilakukan Tinio. Sehingga muncul berbagai pertanyaan, Apakah yang dikutuk sebagai kejahatan memang benar kejahatan? Apakah hal yang diagungkan sebagai kebaikan hanya merupakan kedok suatu kebusukan?

Opera Ular Putih
Opera Ular Putih

Begitu banyak konflik, ketika Tinio dan Siocing yang berusaha menjadi manusia yang baik untuk membalas budi Hanbun justru dituduh sebagai biang onar kejahatan yang menyihir Hanbun. Dalam kisah ini penuturan tentang pengorbanan, kesetiaan, kebijaksanaan dan cinta begitu kental tergambarkan. Bagaimana peran Siocing yang menjadi karakter favorit penonton ini menunjukkan kesetiaannya pada sang kakak dengan terus membela dan mengingatkan untuk melawan Gowi yang terus mengusik kehidupan Tinio dengan Hanbun. Meski begitu sang kakak pun tetap mengajarkan kesabaran pada Siocing untuk menghadapi kejahatan dengan kebaikan.

Pementasan Opera Ular Putih ini dibintangi oleh Tuti Hartati, yang dalam pementasan Teater Koma sebelumnya yaitu Republik Cangik, ia harus berperan jenaka sebagai Limbuk dan kini ia harus berubah 180 derajat menjadi Tinio yang lemah lembut. Tak ketinggalan, pementasan ini pun didukung oleh seniman kawakan Teater Koma seperti Budi Ros, Andhini Putri Lestari, Adri Prasetyo, Ade Firman Hakim, Dodi Gustaman, Daisy Lantang, Ratna Ully, Dorias Pribadi, Sir Ilham Jambak, Aris Abdullah, Dana Hassan, Julung Ramadan dan Rangga Riantiarno.

Meski mengusung cerita klasik, tetapi pementasannya tetap dikemas dengan teknik modern yang menghadirkan gelak tawa dan air mata, cinta dan rindu dengan diiringi lagu dan musik yang menyentuh. Permainan musik yang menghiasi pagelaran ini dikomposisi oleh Idrus Madani dan diaransemen oleh Fero Aldiansya Stefanus, dan menghadirkan permainan alat musik Tiongkok seperti guhzen dan ehru, yang menunjukkan indahnya perpaduan kedua kebudayaan Tiongkok dan Indonesia.

Selain pada musik yang dipadukan dari dua kebudayaan, kostum pun sebagai alat pemersatu dua kebudayaan ini. Kostum pemain yang dirancang oleh Rima Ananda ini memadukan motif batik khas Indonesia yang indah pada bentuk busana khas Tiongkok dan dimodifikasi dengan batik motif Sidomukti, Megamendung, hingga Lereng.

Tak lupa kejutan dari dalam opera ini yaitu hadirnya dalang yang turut memainkan peran melanjutkan kisah siluman ular dengan sajian kental menyinggung kehidupan kita sehari-hari. Dan mengajak kita peka serta sadar akan situasi yang terjadi di Indonesia baik dari dunia politik, pendidikan, serta budaya.

Konsistensi Teater Koma dalam memberikan sajian hiburan pada masyarakat yang mendidik terus dinanti. Tim Ghiboo yang menemui Nano Riantiarno selaku pendiri Teater Koma usai acara, mendapatkan rencana selanjutnya. Nano menyatakan project selanjutnya dari Teater Koma akan berbentuk lakon Wayang. Hmmm semakin tidak sabar ya untuk menanti sajian-sajian dari Teater Koma yang selalu mengundang decak kagum. Selamat atas kesuksesan Teater Koma dalam menghadirkan kembali Opera Ular Putih dalam relasi keadaan saat ini.

They says

Tri Marliani, Mahasiswa
“KEREN BANGET! Ini pertama kalinya gue nonton acara teater tapi nggak ngerasa bosan sama sekali. Sampai nggak berasa kalau pertunjukkannya itu lebih dari 4 jam saking kerennya. Moral ceritanya juga bagus banget, menggambarkan situasi di Indonesia saat ini, ketika mana yang salah dan mana yang benar sudah tidak bisa dibedakan lagi.”

Alvie-Gita, PR LPTB Susan Budiardjo
“Seperti pada pertunjukkan produksi teater koma lainnya, apa yang disajikan teater ini selalu segar. Pesan yang disampaikan sampai. Artistiknya cantik, yang paling saya pujikan adalah pergantian adegan sangat rapi, hingga penonton tidak merasa bahwa pengalihan fokus kita pada sebuah adegan sebenarnya perpindahan ke adegan lain. Pemain baru juga bagus-bagus mainnya, nggak kalah dengan generasi Sari Manumpil, Salim bungsu, dan lainnya.”

Ibnu Haykal, Mahasiswa
“Opera Ular Putih dipentaskan dengan lakon yang humoris sekaligus penuh penjiwaan. Keseluruhan pentas menjadi pengingat bagi kita untuk tidak memenjarakan pikiran kita dalam stigma-stigma sosial yang lahir dan mengakar di masyarakat.” « [teks & foto Agniya Khoiri]

SHARE