Mengintip nuansa Islam dalam budaya Gorontalo

0
265
Raba Raba

Di Indonesia, ada banyak sekali julukan yang diberikan kepada sebuah kota yang bernuansa Islami. Sebut saja Kota Demak dengan sebutan Kota Wali serta Kota Aceh berjuluk Serambi Mekah. Tak dapat dipungkiri, pemberian julukan bagi kota-kota tersebut atas dasar sejarah serta pengaruh sebuah agama.

Salah satu kota yang mendapat julukan Islami lainnya adalah Gorontalo. Kota dengan sebutan Serambi Madinah ini, rupanya masih kuat dalam menjalankan syariat ajaran agama. Hal tersebut, terlihat dari berbagai tradisi lokal bernafaskan Islam yang hingga kini masih dijalankan oleh warganya.

Berikut adalah beberapa budaya atau tradisi unik bernafaskan islam yang ada di Kota Gorontalo :

1. Tumbilotohe

Dalam bahasa masyarakat setempat, Tumbilothe berarti ”pasang lampu”. Tradisi Tumbilothe sendiri merupakan tradisi memasang lampu minyak di setiap sudut rumah, perkantoran, lapangan serta tempat lainnya. Tradisi ini biasanya dilakukan masyarakat setempat setiap Malam ke 27 di bulan Ramadhan hingga tiga malam terakhir menjelang Iedul Fitri.

Masyarakat Gorontalo berkeyakinan, dengan memasang lampu-lampu minyak tersebut dapat menjadi penerang jalan bagi umat muslim. Terlebih, di dalam bulan Ramadhan ada satu malam yang sangat istimewa yakni malam lailatul qodar.

Malam istimewa tersebut menjadi penyemangat umat muslim dalam meningkatkan amalan ibadah seperti pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat berjamah.

Tak hanya itu, pelaksanaan tradisi ini juga diyakini sebagai penerang serta pedoman bagi umat muslim agar selalu hidup dalam kebenaran. Tradisi Tumbilothe hanya dapat dijumpai di wilayah Gorontalo. Tak heran jika Kemenetrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia telah memberikan dukungan kepada tradisi religius ini untuk menjadi agenda pariwisata menjelang perayaan Idul Fitri.

2. Walima

Tradisi ini kerap dilakukan oleh masyarakat Gorontalo jelang peringatan Maulid Nabi Muhamad SAW yang jatuh pada bulan Rabbiul Awal. Walima merupakan tradisi membuat suatu wadah yang telah dibentuk menyerupai kubah mesjid. Material wadah sendiri biasanya terbuat dari bambu atau papan yang telah dihias dengan kertas berwarna.

Kemudian, wadah-wadah yang telah dipersiapkan tersebut akan digunakan sebagai tempat untuk menyimpan kue-kue khas Gorontalo, seperti kue cucur, nasi kuning, telor rebus, hingga ayam bakar.

3. Raba-raba Puru

Upacara ini sering dipersepsikan dengan upacara tujuh bulanan. Bedanyanya, dalam tradisi ini, sang calon Ibu akan mengenakan pakaian Adat Gorontalo. Prosesi upacara ini diawali dengan pembacaan doa serta sholawat yang dilakukan oleh pemuka agama. Kemudian, pasangan suami istri akan duduk di depan para tamu bersama dua orang anak kecil berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.

Anak kecil laki-laki biasanya ditempatkan bersama dengan calon ibu, sementara untuk anak kecil perempuan ditempatkan bersama calon ayah. Sang pemuka agama pun tak henti-hentinya melantunkan ayat suci Al-Qur’an.

Dengan melakukan tradisi ini, warga Gorontalo berharap kepada Tuhan Yang Mahe Esa agar diberikan kemudahan dalam hidupnya kelak.

Berbagai tradisi lokal yang bernuansa Islam tersebut menjadi ciri khas masyarakat setempat. Kota Gorontalo yang dikenal sebagai kota religius ini, rupanya turut pula memiliki keanekaragaman objek wisata mulai dari wisata budaya, wisata sejarah hingga wisata sejarah.

Itulah kenapa, kota ini cocok menjadi destinasi wisata bagi para wisata dalam menghabiskan waktu bersama orang-orang terkasih. Wisawatan yang berada di luar daerah dapat menggunakan moda transportasi pesawat terbang.

Saat ini, hampir semua maskapai penerbangan domestik telah membuka rute menuju kota ini. Tak hanya berlomba dalam segi service, mereka pun berlomba untuk menawarkan tarif murah dengan harga yang cukup kompetitif. Salah satunya yang dilakukan oleh maskapai penerbangan Air Asia, dengan beragam fitur unggulan di mana para wisatawan dapat membeli tiket promo air asia di Traveloka. [Adv]

SHARE