Bagaimana menghadapi pertengkaran si kakak dan si adik

0
140

Gemas melihat pertengkaran si kakak dan si adik? Kadang kejahilan mereka sengaja digunakan untuk mencari perhatian Anda saja lho!

Tanpa disadari, kadang orangtua membentak kakak dan membela adik karena si adik lebih kecil. Dalam insert Parenthink, Mona Ratuliu menyarankan Cosmoner untuk tetap bijak dalam menangani hal ini. Merespon dengan cara memarahi dan menuduh satu pihak bersalah, rasanya bukan cara yang baik ya. Apalagi kalau Anda tidak melihat kejadian sesungguhnya.

Sebenarnya, tidak jarang lho si kakak menjahili adik karena si kakak menganggur. Meskipun si adik merespon dengan cara berteriak seolah-olah terganggu, ternyata si adik malah menikmati “permainan” sang kakak lho. Berusaha melerai ternyata dapat membuat ayah dan bunda dianggap tidak asyik karena mengganggu acara bermain mereka.

Beberapa waktu lalu, Mona juga sempat mengalami hal yang sama. Raka yang masih berusia 5 tahun menjahili Nala yang masih berusia 2 tahun dan terlibat pertengkaran di sebuah restoran sampai Nala berteriak-teriak. Karena kejadiannya di tempat umum, tentu Mona takut membuat pengunjung lain terganggu. Jadi, Mona menjelaskan pada mereka, “Kalau mainnya masih teriak-teriak, Raka sama Nala duduknya pisah saja ya…,” ujarnya. Nala menolak dan berjanji tidak akan teriak-teriak. Padahal kalau dilihat sekilas, Nala merasa terganggu.

Merespon pertengkaran dengan cara memarahi si kakak tentu bukan tindakan bijaksana. Tidak jarang lho, justru si adik yang justru memancing-mancing si kakak untuk dijahili. Supaya waktu si kakak menjahili, si adik bisa teriak-teriak supaya ibu atau ayah memarahi kakak.

Hal ini tentu sering terjadi ketika si adik ingin meminjam mainan si kakak dan tidak dikasih. Mona mengungkapkan, setelah kalah saing dengan kakaknya, akhirnya adik membuat strategi agar kakak mengalah. Hal-hal seperti ini lho yang bisa membuat kakak merasa ibu dan ayah hanya sayang pada adik dan tidak sayang sama kakak. Apapun yang terjadi kakak selalau salah. Padahal tidak jarang, adik menjadi biang kerok.

Kalau pertengkaran kakak dan adik masih terbilang cukup aman, sebaiknya orangtua tidak banyak ikut campur dan tidak memberikan respon reaktif seperti marah, menyalahkan, atau menghukum. Biar saja mereka belajar menghadapi masalahnya sendiri. Kalau si kakak dan si adik datang mengadu, orangtua bisa memberikan alternatif cara untuk menyelesaikan masalah. Misalnya cara untuk negosiasi atau bermain dengan cara bergantian. Tapi biarkan anak-anak sendiri yang melakukannya, ya.

Tidak usah gemas juga untuk membantu mereka bernegosiasi. Beri mereka ruang untuk mereka belajar menyelesaikan masalahnya sendiri. Sesekali kalau suasanya sedang asyik, Cosmoner perlu menginformasikan kepada anak-anak bahwa syarat bermain yang baik adalah bahwa semua harus merasa senang. Jadi kalau yang senang hanya salah satu pihak saja dan yang lain tidak merasa senang berarti mainnya tidak oke. Ganti saja mainan lainnya yang lebih menyenangkan untuk semua pihak.

Jangan lupa juga untuk selalu memberikan apresiasi saat mereka bermain dengan baik. Misalnya, “Terima kasih kakak sudah meminjamkan adik mainan. Terima kasih adik, kamu sudah mau bergantian mainan dengan kakak,” atau “Wah, mainannya seru banget ya! Bunda senang deh kalau melihat semua senang.” Apresiasi-apresiasi seperti ini bisa membuat anak mengerti cara bermain dengan asyik, juga membuat anak-anak merasa senang dan ingin mengulangi perilaku baik. Tidak mudah sih dan tidak langsung bereaksi terhadap kejahilan anak-anak. But practice makes perfect!

Ingin mendengar tip dan trik pola asuh anak dari Mona Ratuliu? Jangan lupa dengarkan talkshow Parenthink setiap hari Selasa, pukul 11.00-12.00 PM di Fun Fearless Female bersama Yarra Aristi. Stay tuned! [foto shutterstock]

Sumber:

Cosmopolitan

SHARE