Strategi menghadapi kegagalan

0
111
foto: wholisticfitliving.com

Setelah pulang dari seminar executive program di UC Berkeley dengan tema utama inovasi, Alexander Sriewijono bawa oleh-oleh strategi menghadapi kegagalan.

Dalam seminar di San Fransico tersebut, mas Alex terinspirasi pada penulis buku “The Other F Word”, Mark Coopersmith. Kepada Iwet Ramadhan dan Novita Angie di Breakfast Club, mas Alex menceritakan bahwa setiap orang dapat mengatasi failure atau kegagalan dan menjadikannya sebagai modal berharga untuk melakukan inovasi.

Setiap orang menanggapi kegagalan dengan cara yang berbeda, misalnya; ada yang menganggap bahwa kegagalan merupakan hal yang sangat berat; kegagalan sebagai salah satu turning point-nya; bahkan ada juga orang yang kapok menghadapi kegagalan dan berhenti mencoba. Lalu bagaimana membuat kegagalan ini menjadi sebuah kreativitas baru?

Dalam buku “The Othe F Word”, ternyata F word tidak saja dikaitkan dengan si empat huruf itu saja, tetapi F lebih mengarah pada ‘Failure’. Bila dikaji ulang, dalam kata failure ada dua kata yakni fail dan your. Dengan kata lain, kegagalan diciptakan oleh diri kita sendiri. “Failure is our failed”, imbuh mas Alex. Itulah sebabnya mengapa ketika seseorang mengalami kegagalan, ia tidak ingin orang lain mengetahuinya.

Kegagalan sering dikaitkan dengan hal yang tabu. Tak heran apabila kegagalan sering menjadi sesuatu hal yang ditakuti. Namun tahukah Anda bila ternyata bukan kegagalanlah yang ditakuti. the fear of being judge merupakan salah satu hal yang paling ditakuti. Mas Alex mencontohkan, “Hah, Anda gagal? Sementara pengalaman Anda kan sudah banyak? Eh tunggu, bukannya Anda orang lama di sini? Dan seterusnya,” ujar mas Alex. Karena itu, ketakutan di-judge lebih menjadi masalah dibandingkan kegagalan itu sendiri.

Lalu apa strategi ketika menghadapi kegagalan? “Kalau mendefinisikan kegagalan adalah akhir dari sebuah proses, maka tidak akan ada inovasi-inovasi berikutnya. Tetapi kalau mendefinisikan kegagalan sebagai sebuah proses bahwa ada masalah yang perlu dicari jalan keluarnya, maka inovasi mulai muncul,” ujar mas Alex. Ia pun menambahkan bahwa ada dua strategi menghadapi kegagalan.

Pertama, bagaimana cara Anda melihat kegagalan supaya bisa melihat apa yang bisa dilakukan ke depannya. Kedua, adalah tidak melihat sebuah kesalahan itu sebagai kegagalan tetapi menganggapnya sebagai problem dan problem solving. Karena ketika kegagalan itu diucapkan maka prosesnya akan berhenti.

Ketika seseorang tidak melakukan kesalahan, maka dia tidak akan punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Coba lakukan dengan cara lain. Buatlah proses mencoba Anda menjadi sesuatu yang menyenangkan. Ia juga mengungkapkan, “Katanya perempuan itu lebih tidak masalah untuk gagal. Sebab, mereka tidak takut untuk bertanya jalan keluarnya. Meski belum teruji, hal ini disebabkan oleh mereka yang tidak punya fear of judgement,” kata mas Alex.

Lalu mengapa Anda tidak lebih lepas pada saat mau mencoba sesuatu, tidak mengerti, bahkan gagal? Kini, mulailah menjadikan kegagalan sebagai bagian dari habit dan kehidupan kita! Jadi, jangan pernah takut untuk gagal ya, Cosmoners! 🙂

Dengarkan Cosmopolitan Career bersama Alexander Sriewijono dari Daily Meaning di Breakfast Club, setiap hari Kamis jam 07.00-08.30 WIB. Hanya di 90.4 Cosmopolitan FM. Stay tuned! 🙂

Sumber:

Cosmopolitan

 

SHARE