Mengenal Lebih Dalam Masjid Agung Keraton Surakarta

0
205
Masjid Agung Keraton Surakarta
Masjid Agung Keraton Surakarta
Masjid Agung Keraton Surakarta

Masjid Agung Surakarta terletak di Kelurahan Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon, Kotamadia Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Sebagai masjid Keraton, Masjid Agung Surakarta berada di dekat alun-alun, di tengah-tengah kota. Sebelah utara berbatasan dengan pemukiman penduduk kampung Kauman. Sebelah selatan terdapat Pasar Klewer. Di sebelah timur berbatasan dengan alun-alun utara keraton Kasunanan Surakarta, sedangkan sebelah barat terdapat pemukiman penduduk.

Masjid Agung ini dibangun oleh Sunan Paku Buwono III tahun 1763M atau 1689 tahun Jawa dan selesai pada tahun 1768. Masjid Agung merupakan kompleks bangunan seluas 19.180 meter persegi yang dipisahkan dari lingkungan sekitar dengan sekelilingnya dipagari tembok setinggi 3,25 meter. Bangunan Masjid Agung Surakarta secara keseluruhan berupa bangunan tajug yang beratap tumpang tiga dan berpuncak mustaka.

Masjid Agung Surakarta atau Masjid Agung Solo, pada masa lalu merupakan Masjid Agung Negara Keraton Surakarta Hadiningrat, segala keperluan masjid disediakan oleh kerajaan dan masjid juga dipergunakan untuk upacara keagamaan yang diselenggarakan kerajaan.

Tradisi lisan yang menyatakan bahwa Masjid Agung Surakarta dibawa ke Solo ini memang masuk akal dan relevan. Alasan pertama, artefaknya (kayu) dianggap sakral oleh masyarakat dan meniru pola Masjid Agung Demak sebagai acuan sehingga tidak boleh dicampakkan begitu saja kendati ibukota sudah porakporanda. Kedua, komponen masjid merupakan syarat utama bagi siapapun yang hendak mendirikan kerajaan dinasti Mataram Islam baru. Ketiga, masjid sebagai simbol konkrit raja memegang politik pengislaman yang diperkuat dengan gelar “Sayidin Panatagama Kalifatullah”. Dengan demikian, Masjid Agung Surakarta sebenarnya telah ada semenjak Susuhunan Paku Buwana II.

Di Masjid Agung Surakarta terdapat dua bangsal untuk menyimpan gamelan yang dimainkan setiap Sekaten, atau perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW, terutama pada tanggal 5 sampai 12 Maulud. Setiap kali Sekaten, masyarakat akan berbondong-bondong ke masjid. Mendengar gamelan Sekaten dimainkan, terutama zaman dulu, ibarat kegiatan wajib. Apalagi, gamelan itu hanya dimainkan setahun sekali. Masjid ini juga menjadi pusat penyebaran agama Islam di Surakarta. Bahkan, Sekaten merupakan bagian dari kegiatan penyebaran agama lewat laku budaya di Surakarta.

Di masjid ini juga terdapat dua buah bedug dan sebuah kentongan. Bedug yang berada di sudut timur laut dinamai Kyai Wahyu Tenggoro. Bedug yang hanya dipukul pada malam hari dalam bulan Ramadhan yaitu bedug yang digantung di sudut tenggara.

Pada saat bulan puasa seperti ini, sering mengadakan kegiatan acara keagamaan. Dan pada saat lebaran, akan diadakan acara gunungan yaitu tumpeng raksasa yang isinya ada sayur mayur dan lainnya.

Keberadaan Masjid Agung Surakarta tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang sejarah Keraton Kasunanan. Masjid Agung dan Keraton Kasunanan laksana pena dan tinta yang sukar dipisahkan. Bangunan satu lantai di sebelah barat alun-alun utara ini menjadi jujugan masyarakat yang beragama Islam untuk beribadah. tak kurang ribuan orang menyambangi masjid yang dibangun di masa Paku Buwana II itu. Masjid bercat biru & putih tersebut sohor sebagai masjid terbesar di Surakarta. « [teks & foto @gerilaksamanaaa]

SHARE