Yuk hemat air mulai hari ini!

0
127
foto: womenpla.net

Kandungan air di bumi jumlahnya lebih dari 70 persen. Tetapi tak semua air itu bisa dikonsumsi [minum dan termasuk juga pemenuhan kebutuhan sehari-hari], yang bisa cuma 2.5 persen saja [2.5 persen ini juga masih termasuk glasier]. Ditambah perilaku kita terhadap lingkungan sendiri sehingga menyebabkan semakin surutnya jumlah air bersih. Karenanya kita perlu berhemat air mulai dari sekarang.

Menurut data dari water.org ada sekitar 750 juta manusia memiliki sedikit akses ke air bersih. Itu berarti sekitar 1 dari 9 orang yang mengalaminya.

Prof. Dr. Emil Salim mantan Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup RI dalam diskusi bertajuk ‘Pelestarian air dan lingkungan sebagai tanggung jawab bersama’ di resto The Belly Clan, Jakarta, berpendapat, “Seharusnya x air yang kita ambil, kita juga harus bertanggung jawab mengembalikan x air tersebut.”

Apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat? Salah satunya menurut Prof Emil adalah dengan membuat biopori di lingkungan masing-masing.

Biopori adalah lubang di dalam tanah yang bisa dibentuk sendiri dengan ukuran diameter 10 cm dan kedalamannya 100 cm. Lalu kemudian isi lubang dengan sampah organik. Dan jaga lubang biopori ini agar selalu terisi sampah organik.

Manfaat lubang biopori adalah untuk meningkatkan daya resapan air, mengubah sampah organik menjadi kompos, mengurangi emisi gas rumah kaca [CO2 dan metan], dan memanfaatkan peran aktivitas fauna tanah dan akar tanaman, serta mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit demam berdarah dan malaria.

Untuk mengetahui berapa jumlah lubang yang harus dibuat di lingkungan kamu adalah dengan menggunakan rumus LRB [Lubang Resapan Biopori], yaitu (intensitas hujan [mm/jam] x luas bidang kedap [m2])/laju perserapan air per lubang [liter/jam].

Contoh; untuk daerah dengan intensitas hujan 50 mm/jam [hujan lebat], dengan laju perserapan air per lubang 3 liter/menit pada 100 m2, maka biopori perlu dibuat sebanyak 50×100/180 = 28 lubang.

Prof Emil kembali menjelaskan bahwa, bila di Desember nanti saat pertemuan Protokol Kyoto mengenai perubahan iklim terjadi. Dan belum ada kesepakatan baru yang lebih baik, maka 30 tahun ke depan yaitu tahun 2045 diperkirakan bumi akan mengalami krisis air.

Nah, untuk semakin menyadarkan masyarakat supaya berhemat air, Aqua sebagai tuan rumah yang menggelar diskusi tersebut juga mengadakan kembali lomba Anugerah Jurnalistik Aqua [AJA], dengan tema ‘Kelestarian Air dan Lingkungan Sebagai Tanggung Jawab Bersama.’ Kompetisi ini bisa diikuti semua warga negara Indonesia. Tertarik untuk berpartisipasi untuk menyebarluaskan kampanye hemat air ini, cek selengkapnya di link ‘Anugerah Jurnalistik Aqua‘.

SONY DSC

« [teks @ bartno]

 

SHARE