Dave Hendrik ungkap cerita dibalik buku biografi Ruth Sahanaya

0
137

Pekan lalu, Diary Dave kehadiran tamu spesial, dua selebriti Indonesia, Ruth Sahanaya dan Tamara Geraldine. Dalam siarannya di awal Juli ini, Dave mengungkap habis cerita dibalik buku biografi Ruth Sahanaya [Uthe sapaan akrabnya] yang ditulis oleh sahabatnya, Tamara Gerladine bertitel ‘Ruth Tiga Kali Sepuluh [The Unheard Songs]‘.

Dari judulnya yang menggelitik, pertanyaan pertama Dave jatuh mengenai titel bukunya.

Ruth: “Nah, itu mesti ditanya ke penulisnya kenapa dikasih judul tiga kali sepuluh, nggak 30 aja.”

Tamara: “Intinya, memang 30 kan perjalanan karirnya [Uthe]. Tapi kan kak Uthe itu orangnya playful, iseng. Jadi saya pikir kita sudah harus mulai iseng memperkenalkan dia.”

Ruth: “Itu hebatnya Tamara, dari detailnya sudah dipikirin.”

“Iseng? Sepertinya banyak yang nggak tahu Ruth Sahanaya orangnya iseng. Sengaja nggak dimunculin di atas panggung atau gimana sih?,” ungkap Dave

Ruth: “Bukan, bukan itu maksudku. Jadi sebetulnya itu untuk kalangan terbatas. Keisengan tersebut. Karena pada intinya aku kan ‘malu-malu kucing’, pemalu. Jadi kalau udah dekat banget, baru tahu deh keisengan aku.”

Gara-gara sifat pemalunya itu Cosmoners, Uthe harus didesak berulang kali terlebih dahulu oleh sang suami, Jeffry Waworuntu hingga akhirnya setuju untuk membuat biografi.

Ruth: “Jeffry harus meyakinkanku sedemikian rupa, dengan dia tanya sekeliling, ke teman-teman semua yang kompeten untuk ditanya. Hingga akhirnya ia kasih pembuktian itu. ‘Nih ini ni, kamu udah layak kok dapat bintang’, [senyum Uthe], baru akhirnya aku yakin. Ternyata banyak hal yang bisa digali, yang bisa menjadi berkat, dan kesaksian atau sumber inspirasi buat orang banyak.”

Lalu kenapa Tamara Geraldine?
Ruth: “Aku tuh selalu menghadirkan Tuhan dalam setiap pekerjaan. Dalam hal ini tetap aku tanya sama Tuhan. Habis itu setelah diyakinkan Jeffry, tanya lagi sama Tuhan. Tuhan tolong kasih aku orang yang tepat dalam pembuatan buku ini. Iya kok tiba-tiba Tuhan jawabnya cepat banget. Jadi saat aku di acara ultahnya Yuni Shara ketemu deh sama Tamtam [panggilan akrabnya Tamara], terus ngobrol-ngobrol sebentar lalu langsung klik. Kemudian aku melirik papa Jeff ‘Tamara ya’ iya,, Yes, gitu langsung. Ya udah papa akhirnya ngomong sama Tamara.”

Tamara nyeletuk, “Aku nggak lihat mereka kode-kodean kaya gitu’ [hahahaha]. Lanjutnya, “Sebenarnya kan yang namanya biografi tingkat kesulitannya tinggi. Memang ini bukan yang pertama. Dulu pernah ku lakukkan dengan Yuni Shara tahun 2007. Tapi sekarang kemasannya beda, kalau sekarang adalah salah seorang Diva. Dan ada kesepakatan bahwa. Pertama, bukunya harus menjadi berkat. Kedua, harus jadi motivasi tanpa menggurui. Ketiga, bahasanya kasual sekali, satu bahasa untuk semua…Karena bebannya banyak tapi kita awali dengan doa. Kalau niat baik kita selesaikan dengan baik juga. Itu saja yang pertama kali ada di pikiranku, yang berikutnya aku nggak punya pikiran [hahahaha].”

Dalam membentuk biografinya itu, Tamara pasrah diajak ke mana-mana oleh papa Jeff.

Tamara: “Jadi ada satu cafe ditutup. Ngapain Pah ‘Nih kamu wawancara orang-orang’ ada Harvey Malaiholo, Iwan Zen, dan nara sumber lainnya. Ya udah diwawancara. Mau diapain bukunya? Kagak tahu gue. ‘Ayo kita ke Bandung besok’ ngapain Pah.. ditutup juga itu satu lounge di salah satu hotel, kemudian datanglah guru SD, musisi-musisi Bandung, dan semua. Mau diapain nih Pah ‘Wawancara’ Ya udah diwawancara. Mau diapain bukunya, gue masih belum tahu juga.”

Garis besar buku ini adalah apa yang sudah ada di infotainment tidak boleh ada di buku biografi ini. Jadi The Unheard Songs itu benar-benar ada dalam buku ini. “Kok Tuhan aku sampai sekarang benar-benar nggak ada ide ya?” ungkap Tamara. “Tapi kemudian tiba-tiba saat sedang berendam, ternyata yang aku pikirin itu biografi aku sendiri. Jadi aku punya ide untuk bikin biografi dan ternyata yang Tuhan kasih ide itu adalah ide biografi untuk Ruth Sahanaya.”

Setelah ide itu muncul, Tamara mampu menyelesaikan biografi Uthe selama 3 minggu 3 hari. “Jangan tahan talenta, jangan tahan ide, karena ketika kita berbagi kita bertumbuh kan,” imbuh Tamara.

Dan biografi ‘Ruth Tiga Kali Sepuluh [The Unheard Songs]’ sudah bisa Cosmoners dapatkan di toko-toko buku ternama yang terdekat. “Jangan anggap ini suatu biografi karena kita bisa mulai dari chapter manapun. Nggak perlu dari halaman pertama ke halaman kedua. It’s your book you decide, it’s your ride your rule. Tapi when you are done with it, semua sudah membaca satu kisah lengkap tentang Ruth Sahanaya,” terang Tamara.

“Beyond expectation? Iya betul,” jawab Uthe untuk pertanyaan terakhir dari Dave Hendrik di program Diary Dave setiap hari Kamis pukul 19.00 sampai 20.00 WIB. [teks @bartno | foto @tamarageraldine]

Sumber:

Cosmopolitan