Happy, Olga, dan Inayah bermonolog, Bukan Bunga Bukan Lelaki

0
141
Olga, Inayah, Happy

Sebuah kisah tentang masalah yang terus ada di dunia. Terutama di negeri ini, kisah dari Putu Fajar Arcana mengenai ‘korupsi’ yang disajikan dalam pentas seni bertitel #3Perempuanku, Bukan Bunga Bukan Lelaki, yang merupakan bagian dari bukunya “Monolog Politik”.

Jumat, 25 September pukul 20.00 WIB, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki [TIM] dan didukung oleh Djarum Apresiasi Budaya mempersembahkan seni monolog itu yang dipentaskan oleh 3 wanita negeri ini yang sudah terkenal, Happy Salma, Olga Lydia, dan Inayah Wahid.

“Keberadaan seni sastra di Indonesia sekarang ini masih jarang diminati oleh masyarakat Indonesia. Saya harap dengan nama besar Inayah Wahid, Olga Lydia, dan Happy Salma, pertunjukkan monolog #3Perempuanku, Bukan Bunga Bukan Lelaki ini bisa menyemangati pihak-pihak yang masih peduli terhadap seni sastra,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Pentas monolog ini diawali dengan lantunan nada merdu yang dikomandoi oleh Dewa Budjana, sekaligus ia menjadi direktur musik untuk seluruh pertunjukkan ini.

Kemudian barulah masuk tokoh pertama perempuan bernama Wagiyem yang dimainkan oleh Inayah. Tokoh ini memiliki logat Jawa yang kental dan berprofesi sebagai tukang cuci. Wagiyem merupakan istri tua dari Wagiyo Tirto Hadikusumo.

Untuk tokoh kedua, hadirlah Olga yang memerankan istri kedua Wagiyo bernama Renata. Renata merupakan perempuan dengan gaya hidup kelas menengah yang serba ingin terlihat berkelas dan baik-baik saja, padahal sesungguhnya memendam kegalauan.

Perempuan yang ketiga sekaligus istri ketiga bernama Liza Sasya yang dimainkan oleh Happy Salma. Ia adalah penyanyi dangdut yang dijanjikan Wagiyo, album musik perdananya.

Ketiga perempuan itu secara bergantian menceritakan perilaku Wagiyo si anggota parlemen. Sampai suatu kali ketiga perempuan ini mendengar penangkapan Wagiyo oleh KPK karena melakukan korupsi daging sapi.

Mereka ketakutan karena KPK akan melakukan penggeledahan ke rumah ketiga perempuan malang itu. Di situlah ketiganya baru mengerti bahwa mereka dipoligami oleh satu lelaki yang sama, yang bernama asli Wagiyo.

Sedangkan nama Tirto Hadikusumo itu, nama tambahan untuk mengangkat kelasnya sebagai kaum priyayi politik.

Akhir cerita, ketiga perempuan itu ketiban malu, malu yang sangat. Pertunjukkan pun selesai dan ditutup dengan hadirnya kembali lantunan nada Dewa Budjana. [teks @bartno | foto dok. Image Dynamic]

SHARE